
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Pengertian </b><b><i>“hanif”</i></b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu ciri hamba Allah Ta’ala yang didambakan oleh orang-orang yang beriman adalah memiliki jiwa yang hanif. Hanif </span><b>(حنيف)</b><span style="font-weight: 400;"> dalam bahasa Arab artinya adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">“maa’il” </span></i><b>(مائل)</b><span style="font-weight: 400;">, yaitu “condong”. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam bahasa Arab, kata </span><i><span style="font-weight: 400;">“maa’il” </span></i><span style="font-weight: 400;">bisa tersambung dengan dua </span><i><span style="font-weight: 400;">huruf jarr, </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">‘an </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">ila. </span></i><b>(مائلا عن)</b><span style="font-weight: 400;"> artinya adalah </span><b>condong menjauh;</b><span style="font-weight: 400;"> sedangkan </span><b>(مائلا إلى)</b><span style="font-weight: 400;"> adalah </span><b>condong mendekat.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, agama Ibrahim </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">disebut dengan agama yang hanif </span><i><span style="font-weight: 400;">(hanifiyyah)</span></i><span style="font-weight: 400;">, karena condong menjauh dari segala bentuk kemusyrikan kemudian mendekat kepada tauhid yang murni, yaitu memurnikan dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang </span><i><span style="font-weight: 400;">hanif </span></i><span style="font-weight: 400;">lagi berserah diri (kepada Allah). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. </span><b>(QS. Ali ‘Imran [3]: 67)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Jalalain </span></i><span style="font-weight: 400;">disebutkan ketika menjelaskan </span><i><span style="font-weight: 400;">hanif,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَائِلًا عَنْ الْأَدْيَان كُلّهَا إلَى الدِّين الْقَيِّم</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Condong menjauhi segala agama (kekafiran) seluruhnya, dan mendekat kepada agama yang lurus (tauhid).” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَيْ متحنفا عن الشرك قاصدا إلى الإيمان</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yaitu menjauh dari kemusyrikan dan condong mendekat kepada keimanan.” </span><b>(</b><b><i>Tafsir Ibnu Katsir, </i></b><b>2: 49)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim, seorang yang hanif” dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” </span><b>(QS. An-Nahl [16]: 123)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim, yaitu agama </span><i><span style="font-weight: 400;">hanifiyyah,</span></i><span style="font-weight: 400;"> agama yang Allah Ta’ala perintahkan untuk kita ikuti dan konsisten di atasnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemusyrikan adalah pangkal semua keburukan dan kebatilan, sedangkan tauhid adalah inti dari kebenaran. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki jiwa yang hanif akan condong menjauh dari semua bentuk kebatilan, maksiat dan kedurhakaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Kemudian sungguh-sungguh untuk senantiasa dekat dengan jalan ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.</span></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Potret mereka yang berjiwa </b><b><i>hanif</i></b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdurrazaq Al-Badr </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hanif adalah condong menjauh dari semua kebatilan dan mendekat kepada kebenaran, hidayah, tauhid, dan istiqamah. Condong menjauh dari kemusyrikan dan mendekat kepada tauhid. Condong menjauh dari kesesatan dan mendekat kepada hidayah (petunjuk). Condong menjauh dari kebatilan dan mendekat kepada kebenaran. Juga  condong menjauh dari buruknya amal dan mendekat kepada amal yang sesuai dengan ilmu yang shahih. Inilah yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">hanif.” </span></i><b>(</b><b><i>Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, </i></b><b>hal. 30)</b><span style="font-weight: 400;">  </span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka yang berjiwa hanif pada zaman sekarang ini, mereka sama sekali tidak memiliki minat, selera, dan keinginan untuk berbuat kemaksiatan atau perbuatan buruk lainnya. Jangankan keinginan, hanya sekedar mimpi atau angan-angan untuk berbuat maksiat pun tidak. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika ajakan berbuat maksiat itu datang, atau sebetulnya ada kesempatan untuk berbuat maksiat, mereka yang berjiwa hanif sama sekali tidak tergoda, dan tidak ada dorongan sama sekali dari dalam jiwanya untuk menyambut ajakan maksiat tersebut. Bahkan jiwanya merasa jijik dan tidak butuh terhadap ajakan maksiat tersebut. Berbeda halnya dengan kondisi sebagian di antara kita yang justru merasa sedih, menyesal, dan meratapi setiap maksiat yang terluput dari diri kita. Kemudian berharap-harap agar ajakan dan kesempatan untuk berbuat maksiat akan datang lagi di waktu yang akan datang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka yang berjiwa hanif, fokus perhatian mereka, keinginan, dan cita-cita mereka adalah kebaikan dan segala sarana yang mengantarkan kepada kebaikan. Itulah fokus kesibukannya, yaitu menyibukkan diri dalam perkara kebaikan dan diperintahkan oleh syariat. Jiwanya tidak akan merasa berat dan siap menyambut setiap peluang dan ajakan kebaikan yang datang kepada dirinya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka yang berjiwa hanif, mereka adalah orang-orang yang ikhlas dalam ibadahnya. Tidaklah mungkin seseorang itu berjiwa </span><i><span style="font-weight: 400;">hanif, </span></i><span style="font-weight: 400;">namun tidak </span><i><span style="font-weight: 400;">mukhlis </span></i><span style="font-weight: 400;">(orang yang berhati ikhlas). Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. Dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” </span><b>(QS. Al-Bayyinah [98]: 5)</b></p>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 22 Jumadil akhir 1441/ 16 Februari 2020</span></p>
<p><b>Penulis: M. Saifudin Hakim</b></p>
<p><strong>Artikel:  Muslim.or.id</strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tulisan di atas pada asalnya adalah faidah dari guru kami, Ustadz Aris Munandar </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah, </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika beliau menjelaskan kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’ </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Kemudian penulis tambahkan faidah-faidah dari penjelasan para ulama lainnya.</span></p>
 