
<p>Berikut ini beberapa nasihat penting ketika berpisah dengan Ramadan. Kami sarikan dari kitab <em>Lathaiful Ma’arif</em> karya Ibnu Rajab (hlm. 368–369) dengan beberapa perubahan. Semoga bermanfaat ….</p>
<p>*</p>
<p>Para sahabat adalah orang yang paling antusias dalam menyempurnakan   dan melakukan hal terbaik dalam beramal. Mereka juga antusias agar   amalnya diterima. Mereka sangat takut amalnya ditolak dan tidak   diterima. Mereka itulah sekelompok manusia yang Allah nyatakan dalam   Alquran melalui firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ</strong></p>
<p style="text-align: center;">“<em>Dan   orang-orang yang memberikan sesuatu yang telah mereka berikan, dengan   hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan   kembali kepada Tuhan mereka</em>.” (Qs. Al-Mu’minun:60)</p>
<p style="text-align: left;">Aisyah   bertanya, “Wahai Rasulullah, orang-orang yang memberikan sesuatu yang   telah mereka berikan, dengan hati yang takut; apakah mereka itu orang   yang mencuri, berzina, minum khamr, kemudian mereka takut kepada Allah?”</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab, “Tidak, wahai   putri Abu Bakar. Mereka adalah orang yang shalat, berpuasa, bersedekah,   namun mereka takut amal mereka tidak diterima.” (Hr. Ahmad, Al-Hakim,   dan Al-Baihaqi dalam <em>Syu’abul Iman</em>)</p>
<p>Perhatian sahabat terhadap diterimanya amal itu lebih besar daripada perhatian mereka terhadap amal itu sendiri ….</p>
<p>Diriwayatkan, bahwa Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Jadilah orang   yang perhatiannya terhadap diterimanya amal lebih besar daripada   perhatian kalian terhadap amal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar   firman Allah,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>‘Sesungguhnya, Allah hanyalah menerima amal dari orang yang bertakwa.'”</em></p>
<p style="text-align: left;">Diriwayatkan   dari Fadhalah bin Ubaid; beliau mengatakan, “Andaikan saya mengetahui   Allah menerima satu amalku seberat biji sawi, itu lebih baik bagiku   daripada dunia seisinya, karena Allah berfirman (yang artinya),   ‘Sesungguhnya, Allah hanyalah menerima amal dari orang yang bertakwa.’”</p>
<p>Ibnu Dinar mengatakan, “Rasa takut akan tidak diterimanya amal itu lebih berat daripada amal itu sendiri.”</p>
<p>Abdul Aziz bin Abu Rawad mengatakan, “Saya bertemu para sahabat, dan   mereka adalah orang yang sangat sungguh-sungguh dalam beramal saleh.   Setelah mereka selesai beramal, mereka bingung apakah amal mereka   diterima ataukah tidak.”</p>
<p><strong>Doa mereka setelah Ramadan</strong></p>
<p>Mu’alla bin Fadl mengatakan, “Dahulu, selama enam bulan sebelum   datangnya bulan Ramadan, para sahabat berdoa agar Allah mempertemukan   mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudah   Ramadan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka ketika di bulan   Ramadan.”</p>
<p><strong>Mereka bersedih ketika id ….</strong></p>
<p>Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz berkhotbah pada saat Idul Fitri.   Dalam isi khotbahnya, beliau berpesan, “Wahai sekalian manusia,   sesungguhnya kalian telah berpuasa karena Allah selama 30 hari dan   kalian melaksanakan shalat tarawih selama 30 malam. Di hari ini, kalian   keluar (di lapangan), mengharap kepada Allah agar Dia menerima amal   kalian. Dahulu, ada sahabat yang kelihatan bersedih ketika Idul Fitri.   Suatu ketika, ada seorang sahabat yang bersedih, kemudian ditanya, ‘Ini   adalah hari kebahagiaan dan kegembiraan (mengapa kamu malah bersedih)?’   Dia menjawab, ‘Betul, namun aku hanyalah seorang hamba, yang   diperintahkan Tuhanku untuk beramal karena-Nya, dan aku tidak tahu   apakah Dia menerima amalku atau tidak.’”</p>
<p>Disebutkan juga, bahwa suatu ketika, Wahb bin Al Ward melihat   beberapa orang yang tertawa-tawa di hari raya. Kemudian, beliau berkata,   “Andaikan puasa mereka diterima maka bukan seperti ini perbuatan yang   selayaknya dilakukan orang yang bersyukur. Sebaliknya, andaikan puasa   mereka tidak diterima maka bukan seperti ini sikap yang selayaknya   dilakukan orang yang takut (amalnya tidak diterima).”</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud <em>radhiallahu ‘anhu</em>, bahwa  ketika  malam hari raya, beliau berkata, “Siapa pun yang amalnya diterima   malam ini, aku akan berikan ucapan selamat kepadanya. Siapa pun yang   amalnya ditolak malam ini, aku turut berbelasungkawa atasnya. Wahai   orang yang diterima amalnya, aku ucapkan selamat atas kalian. Wahai   orang yang ditolak amalnya, semoga Allah menutupi musibahmu.”</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em><strong>Inilah potret kehidupan mereka … yang telah mendahului kita. Lalu, bagaimana dengan kita …?</strong></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;"><strong>Referensi:</strong><br> <em>Lathaiful Ma’arif</em>, Ibnu Rajab Al-Hanbali, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, 1428 H.</p>
<p><strong>Artikel <a href="edit/cap/1276/" target="_top">www.PengusahaMuslim.com</a></strong></p>
 