
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mas’ud rahiallahu berkata :<br><span class="special">لَأَنْ أَعُضَّ عَلَى جَمْرَةٍ حَتَّى تَبْرُدَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَقُوْلَ لِشَيْءٍ قَدْ قَضَاهُ اللهُ : لَيْتَهُ لَمْ يَكُنْ</span><br>“Sungguh aku menggigit bara api hingga dingin lebih aku sukai daripada aku berkata kepada suatu perkara yang telah ditetapkan oleh Allah : “Seandainya tidak terjadi””<br>(Az-Zuhd, Abu Dawud hal 128)<br>Dalam hadits :<br><span class="special">فَإِنَّ لَو تَفتح عمل الشيطان</span><br><em>“Sesungguhnnya perkataan “seandainya” membuka amalan syaitan”</em><br>Diantara amalan syaitan :</p>
<p>  <!--more-->  </p>
<p style="text-align: justify;">– Menjadikan pengucapnya sekaan-akan protes terhadap keputusan dan takdir Allah, karena ucapan “seandainya” sering diucapkan tatkala terjadi apa yang tidak disukai<br>– Menjadikan pengucapnya hanya berangan-angan sesuatu yang mustahil, kata pepatah : “Air susu ibu yang sudah dikeluarkan tidak bisa dimasukan kembali”. Dan syaitan suka seseorang mengangan-angankan sesuatu yang mustahil sehingga terlalaikan dari cita-cita yang mungkin diraih. Mengembalikan masa lalu adalah perkara yang mustahil<br>– Menjadikan pengucapnya bersedih, dan diantara tujuan syaitan adalah menjadikan seorang mukmin bersedih agar ia futur dan terabaikan dari aktifitas-aktifitasnya yang bermanfaat, atau agar ia tidak bersemangat dalam beraktifits.</p>
<p>Yang seharusnya diucapkan seorang mukmin tatkala mengalami sesuatu yang dibenci adalah “Qoddarollahu wa maasyaa fa’ala”<br>(ini sudah taqdir Allah, dan Allah melakukan apa yang dikehendakiNya”<br>Mari semangat beraktifitas…, yang berlalu biarlah berlalu…, jadikan sebagai pelajaran untuk memperbaiki yang ada dihadapan kita…</p>
<p> </p>
 