
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Perintah pertama adalah tauhid</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika kita mulai membuka lembaran Al Qur’an ayat demi ayat, surat demi surat, maka kita akan menjumpai perintah pertama yang Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">serukan kepada hamba-Nya adalah perintah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">saja. Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai manusia, </span><b>sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu</b><span style="font-weight: 400;">, agar kamu bertakwa.” </span><b>(QS. Al-Baqarah [2]: 21)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/24484-dianjurkan-menulis-wasiat-ketika-sakit.html" data-darkreader-inline-color="">Dianjurkan Menulis Wasiat Ketika Sakit</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdurrahman As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata ketika menjelaskan tafsir ayat ini, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Ini adalah perintah yang bersifat umum bagi setiap manusia, yaitu beribadah yang mencakup mentaati perintah-Nya, meninggalkan larangan-Nya, dan membenarkan berita-Nya. Maka (dalam ayat ini, pen.) Allah Ta’ala memerintahkan mereka dengan sesuatu yang merupakan tujuan dari penciptaan mereka. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku’.” (QS. Adz-Dzariyat [51] : 56). (</span><b><i>Taisiir Karimir Rahmaan, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 45)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perintah Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">yang pertama ini seolah-olah menjadi isyarat bagi kita bahwa tauhid merupakan landasan dan fondasi sebelum kita mengerjakan perintah Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">yang lainnya. Oleh karena itu, para ulama membuat permisalan bahwa status dan kedudukan tauhid ini bagaikan fondasi dalam sebuah bangunan. Seorang yang pandai tentu saja memfokuskan perhatiannya pada pembenahan asas atau fondasi. Sedangkan orang yang bodoh, dia akan terus meninggikan bangunannya namun tanpa memiliki fondasi yang kuat. Maka dengan segera pula bangunannya akan roboh dan hancur. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45084-menjelaskan-bidah-bukan-berarti-memvonis-neraka.html" data-darkreader-inline-color="">Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis Neraka</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qoyyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, ”Siapa saja yang hendak meninggikan bangunannya, ia berkewajiban untuk mengokohkan, memantapkan, dan sungguh-sungguh mencurahkan segala perhatiannya kepada fondasinya. Karena ketinggian sebuah bangunan sangatlah bergantung pada kekuatan dan ketangguhan fondasinya. </span><b>Amal-amal kebaikan dan tingkatan-tingkatannya ibarat badan bangunan, sedangkan keimanan adalah asas dan fondasinya.</b><span style="font-weight: 400;">” (</span><b><i>Al-Fawaaid, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 189-190)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah Allah Ta’ala memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya, maka perintah pertama tersebut segera dilanjutkan dengan ayat berikutnya yang berisi tentang larangan pertama dalam Al Qur’an. Yaitu larangan untuk berbuat syirik dengan menjadikan sekutu bagi Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">dalam ibadah tersebut. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. </span><b>Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 22)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44580-kebiasaan-berutang-membuat-tidak-tenang-dan-terhina.html" data-darkreader-inline-color="">Kebiasaan Berutang Membuat Tidak Tenang dan Terhina</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua rangkaian ayat ini memberikan suatu faidah yang sangat berharga, karena Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">tidak hanya memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya saja, namun Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">juga melarang kita dari hal-hal yang dapat membatalkannya, yaitu beribadah kepada selain-Nya. (Lihat </span><b><i>Sittu Durar min Ushuuli Ahlil Atsar, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 15)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesyirikan merupakan keharaman pertama yang dilarang oleh Allah Ta’ala.</span> <span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabb-mu yaitu: </span><b>janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia</b><span style="font-weight: 400;">, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka. Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.’ Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).” </span><b>(QS. Al-An’am [6]: 151)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itulah, pelajaran pertama yang diberikan oleh seorang hamba yang shalih, yaitu Luqman, kepada anaknya adalah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><b>Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah</b><span style="font-weight: 400;">, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” </span><b>(QS. Luqman [31]: 13)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44481-keistimewaan-dan-keutamaan-tauhid-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Keistimewaan dan Keutamaan Tauhid</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selaras dengan ayat-ayat tersebut, maka siapa pun yang berusaha untuk meneliti jejak dakwah para Rasul, maka dia akan menjumpai bahwa materi dakwah para Rasul yang pertama kali diserukan kepada umatnya adalah tauhid. Karena tauhid inilah yang merupakan tempat pijakan pertama untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala.</span> <span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala menceritakan tentang Rasul-Nya, Nuh </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, </span><b>’Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain-Nya.</b><span style="font-weight: 400;"> Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)’.” </span><b>(QS. Al-A’raf [7]: 59)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala juga menceritakan kisah Rasul-Nya, Hud </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam, </span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Dia berkata, </span><b>’Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain-Nya.’</b><span style="font-weight: 400;"> Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” </span><b>(QS. Al-A’raf [7]: 65)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">menceritakan kisah Rasul-Nya, Shalih </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan firman-Nya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih. Dia berkata, </span><b>’Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain-Nya’.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(QS. Al-A’raf [7]: 73)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian tentang Rasul-Nya Syu’aib </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam, </span></i><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Dia berkata, </span><b>’Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain-Nya’.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(QS. Al-A’raf [7]: 85)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda dalam rangka menjelaskan misi dakwahnya kepada manusia,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” </span><b>(HR. Bukhari no. 25 dan Muslim no. 138)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/43655-potret-kesederhanaan-rasulullah-shallallahualaihi-wasallam.html" data-darkreader-inline-color="">Potret Kesederhanaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Betapa pentingnya tauhid ini, sampai-sampai Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">senantiasa menekankan kepada para da’i (juru dakwah) agar senantiasa mencurahkan perhatian mereka kepada tauhid dan mengawali dakwahnya dengan tauhid. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda ketika mengutus Mu’adz bin Jabal </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">untuk berdakwah ke negeri Yaman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Engkau akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah yang pertama kali Engkau serukan kepada mereka adalah </span><b>agar mereka beribadah kepada Allah.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(HR. Muslim no. 132)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat yang lain berbunyi,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maka hendaklah yang pertama kali Engkau serukan kepada mereka adalah </span><b>agar mereka mentauhidkan Allah.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(HR. Bukhari no. 7372)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shalih Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan, ”Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> –sebagaimana para Rasul yang lain- memulai dakwahnya dengan memerintahkan manusia untuk mengikhlaskan ibadah kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya. Ini adalah pembuka dakwah para Rasul. Karena hal ini adalah asas yang menjadi landasan masalah yang lain. Jika asas tersebut rusak, maka tidak ada faidahnya masalah yang lain. Tidak ada faidahnya shalat, puasa, haji, sedekah, dan seluruh ibadah yang lain, jika asas tersebut rusak atau tauhidnya tidak ada. Amalan-amalan yang lain tersebut tidak ada faidahnya, karena kesyirikan akan merusaknya dan membatalkannya.” (</span><b><i>Syarh Masail Jahiliyyah, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 19-20) </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/42707-apakah-engkau-ingin-menjadi-pembuka-pintu-pintu-kebaikan-bag-8.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/40005-potret-salaf-dalam-semangat-mengamalkan-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">Potret Salaf dalam Semangat Mengamalkan Ilmu</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 20 Dzulhijjah 1440/21 Agustus 2019</span></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 