
<p class="p1">Setelah kita mengetahui bahwa tauhid adalah perintah Allah <em>Ta’ala</em> yang terbesar bagi seorang hamba, lalu apakah tauhid tersebut? Dan bagaimanakah merealisasikan perintah Allah <em>Ta’ala</em> untuk bertauhid?</p>
<h4 class="p2"><span style="color: #ff0000;"><b>Tauhid adalah Mengesakan Allah <i>Ta’ala </i>dalam Ibadah</b></span></h4>
<p class="p1">Setelah kita memahami bahwa tauhid adalah perintah Allah <i>Ta’ala </i>yang terbesar, maka kita harus memahami apakah yang dimaksud dengan tauhid supaya tidak salah paham. Syaikh Muhammad At-Tamimy <i>rahimahullah </i>menjelaskan, bahwa tauhid adalah <b>mengesakan Allah <i>Ta’ala </i>dalam beribadah</b> (dengan kata lain, tauhid adalah beribadah hanya kepada Allah <i>Ta’ala, </i>tidak kepada yang lainnya).</p>
<p class="p1">Perlu diketahui bahwa mendefinisikan tauhid dengan pernyataan <i>“mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah” </i><b>adalah mendefinisikan tauhid dengan menyebutkan bagian tauhid yang paling penting (yaitu tauhid <i>uluhiyyah</i> atau tauhid ibadah).</b> Karena definisi tauhid yang lengkap adalah, <i>“Mengesakan Allah Ta’ala dalam penciptaan dan pengaturan (alam semesta) [tauhid rububiyyah, pen.]; mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya [tauhid uluhiyyah, pen.]; dan menetapkan nama-nama yang husna untuk Allah Ta’ala serta menycikan Allah dari berbagai kekurangan dan sifat-sifat yang tercela [tauhid asma’ wa shifat, pen.].” </i><b>[1] </b></p>
<p class="p1">Namun, seringkali kita jumpai para ulama hanya mendefinisikan tauhid dengan menyebutkan tauhid <i>uluhiyyah </i>saja. Para ulama mendefinisikan tauhid dengan hanya menyebutkan tauhid <i>uluhiyyah </i>adalah karena pertimbangan-pertimbangan berikut ini.</p>
<p class="p3"><b>Pertama, </b>tujuan para ulama mendefinisikan tauhid dengan tauhid <i>uluhiyyah</i> adalah dalam rangka menekankan betapa pentingnya tauhid <i>uluhiyyah</i> tersebut. Karena tauhid <i>uluhiyyah</i> adalah inti ajaran dakwah yang dibawa oleh seluruh Rasul, mulai dari Nabi Nuh <i>‘alaihis salaam </i>hingga nabi kita, Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i>Allah <i>Ta’ala </i>berfirman,</p>
<p class="arab" dir="rtl">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ</p>
<p class="p5"><i>“Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), </i><b><i>‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’”. </i></b>(QS. An-Nahl [16]: 36)</p>
<p class="p5">Bukti lain tentang betapa pentingnya tauhid <i>uluhiyyah</i> adalah bahwa tujuan utama penciptaan jin dan manusia adalah untuk menegakkan tauhid <i>uluhiyyah</i> ini (lihat kembali surat Adz-Dzariyat ayat 56 pada <a href="https://muslim.or.id/25349-perintah-allah-taala-yang-terbesar-untuk-hamba-nya-1.html" target="_blank" rel="noopener">bagian pertama tulisan ini</a>).</p>
<p class="p5"><b>Ke dua, </b>sesungguhnya penyelewengan yang sangat banyak terjadi pada manusia sejak zaman dahulu dan akan terus berlanjut hingga sekarang ini adalah kesyirikan dalam masalah <i>uluhiyyah. </i>Kesyirikan yang pertama kali terjadi di muka bumi ini adalah kesyirikan umat Nuh <i>‘alaihis salaam </i>dalam masalah <i>uluhiyyah. </i>Dan demikianlah kesyirikan tersebut terus berlanjut pada umat-umat yang lain sehingga Allah pun mengutus para Rasul-Nya dengan misi pokok menegakkan tauhid <i>uluhiyyah. </i>Sehingga tauhid inilah yang merupakan titik perseteruan dan permusuhan antara para Rasul dengan umatnya masing-masing dan merupakan titik persimpangan yang memisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir.<span class="Apple-converted-space">  </span>Dan tema perseteruan ini akan terus berlanjut hingga sekarang dan mungkin akan terus berlanjut hingga hari kiamat. <b>[2] </b></p>
<p class="p1">Adapun tauhid <i>rububiyyah, </i>maka hal ini telah menjadi fitrah dalam diri setiap manusia. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang meyakini bahwa yang menciptakan langit dan bumi adalah selain Allah <i>Ta’ala. </i>Tidak pula dijumpai seorang pun, meskipun orang musyrik dan kafir, bahwa yang menciptakan manusia adalah manusia itu sendiri. Oleh karena itu, apabila kita mendefinisikan tauhid dengan <i>“pengakuan bahwa Allah-lah satu-satunya yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, dan mematikan”, </i>maka umat Islam akan menganggap tauhid <i>rububiyyah </i>itulah inti dan hakikat tauhid yang sebenarnya. Sehingga mereka sudah merasa bertauhid dengan pengakuan itu, dan lalai dengan kewajiban mentauhidkan Allah <i>Ta’ala </i>dalam <i>uluhiyyah. </i>Padahal, hakikat tauhid sebenarnya, yang menjadi inti materi dakwah setiap rasul dan tujuan utama kitab-kitab diturunkan adalah tauhid <i>uluhiyyah, </i>bukan tauhid <i>rububiyyah.</i></p>
<p class="p1">Selain itu, umat Islam juga akan mudah terjerumus ke dalam perbuatan syirik apabila memahami tauhid sebatas tauhid <i>uluhiyyah. </i>Karena mereka akan memahami, berarti tidak mengapa beribadah kepada selain Allah <i>Ta’ala, </i>yang penting kita tetap mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya yang menciptakan dan memberi rizki. Oleh karena itulah, para ulama kita seringkali mendefinisikan tauhid dengan menyebutkan tauhid <i>uluhiyyah </i>saja untuk menekankan pentingnya hal ini dan untuk menjelaskan bahwa tauhid inilah yang membedakan antara orang beriman dan orang-orang kafir.</p>
<p class="p5">Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan kata “ibadah” dalam definisi tauhid tersebut adalah <i>“ibadah syar’i”</i>, yaitu tunduk dan patuh kepada hukum-hukum Allah <i>Ta’ala </i>yang bersifat syar’i (hukum syari’at-Nya). Adapun <i>“ibadah kauni”</i> adalah tunduk kepada hukum Allah <i>Ta’ala </i>yang bersifat kauni, yaitu ketentuan dan taqdir Allah <i>Ta’ala </i>yang Allah <i>Ta’ala </i>tetapkan kepada hamba-Nya, baik yang beriman maupun yang kafir, yang baik maupun yang jahat, berupa sakit, miskin, atau yang lainnya. Dalilnya adalah firman Allah <i>Ta’ala,</i></p>
<p class="arab" dir="rtl">إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آَتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (93)</p>
<p class="p3"><i>“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah </i><b><i>selaku seorang hamba</i></b><i>.” </i>(QS. Maryam [19]: 93)</p>
<p class="p7">Oleh karena itu, yang dimaksud dengan kata “ibadah” dalam definisi tauhid tersebut adalah ibadah yang bersifat syar’i, yaitu ibadah yang hanya khusus dilakukan oleh orang-orang yang beriman.</p>
<p class="p7">Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memberikan kita limpahan hidayah sehingga kita mampu merealisasikan perintah Allah <em>Ta’ala</em> yang terbesar tersebut. <b>[Selesai]</b></p>
<p class="p7">***</p>
<p class="p3">Selesai disempurnakan ba’da subuh, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 27 Jumadil Akhir 1436</p>
<p class="p3">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p class="p3">Penulis:<b> M. Saifudin Hakim</b></p>
<h5 class="p7"><b>Catatan kaki:</b></h5>
<p class="p1"><b>[1]<i> </i></b><i>‘Aqidatu Tauhid, </i>hal. 149, karya Syaikh Dr. Shalih Fauzan.</p>
<p class="p5"><b>[2] </b>Lihat <i>Manhajul Anbiya’ fi Ad-Da’wati Ilallah, </i>hal. 41-44, karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dan <i>Imam Syafi’i Menggugat Syirik, </i>hal. 52-55, karya Ustadz Abdullah Zaen, Lc.</p>
<p class="p5">___</p>
<p class="p5">Artikel Muslim.Or.Id</p>
 