
<h2 style="text-align: center;">
<b>Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </b><b><i>rahimahullah</i></b>
</h2>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Pertanyaan:</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah perbedaan antara nifaq dan riya’? Dan manakah yang lebih berbahaya bagi seorang muslim sekaligus juru dakwah (da’i)?</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/27448-kesombongan-menghalangi-hidayah.html" data-darkreader-inline-color="">Kesombongan Menghalangi Hidayah</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Jawaban:</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Antara nifaq dan riya’, keduanya sama-sama jelek. Akan tetapi, nifaq itu lebih jelek dan lebih parah. Hal ini karena nifaq adalah seseorang menampakkan kebaikan, padahal dia menyembunyikan keburukan, baik berkaitan dengan i’tiqad (keyakinan) ataupun berkaitan dengan amal perbuatan. Meskipun demikian, nifaq yang berkaitan dengan keyakinan </span><i><span style="font-weight: 400;">nifaq i’tiqadi), </span></i><span style="font-weight: 400;">bisa mengeluarkan seseorang dari Islam, </span><i><span style="font-weight: 400;">wal ‘yaadhu billah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Sedangkan nifaq yang berkaitan dengan amal perbuatan </span><i><span style="font-weight: 400;">(nifaq ‘amali) </span></i><span style="font-weight: 400;">terkadang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam, dan terkadang tidak. </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun riya’, seseorang beramal shalih karena Allah Ta’ala, akan tetapi dia ingin dilihat manusia. Dia memperbagus amalnya, atau melakukan suatu amal dengan kualitas yang lebih baik, namun tujuannya mengharapkan pujian manusia dengan amalnya tersebut. Dia menginginkan kebaikan, namun dia memperhatikan pujian manusia atas amalnya, lalu dia pun memperbagus amalnya karena hal itu. Dari sini jelaslah bahwa nifaq itu lebih buruk. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Riya’ adalah salah satu ciri dari ciri-ciri orang munafik. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 142) [2]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/26351-menuduh-orang-lain-telah-riya.html" data-darkreader-inline-color="">Menuduh Orang Lain Telah Riya</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/23846-jangan-tertipu-dengan-penampilan-lahiriyah.html" data-darkreader-inline-color="">Jangan Tertipu Dengan Penampilan Lahiriyah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Jogjakarta, 14 Rabi’ul akhir 1441/ 11 Desember 2019</span></p>
<p><b>Penerjemah: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Perbedaan antara nifaq </span><i><span style="font-weight: 400;">i’tiqadi </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan nifaq </span><i><span style="font-weight: 400;">‘amali </span></i><span style="font-weight: 400;">dapat dibaca pada tulisan kami berikut ini:</span></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/42117-mengenal-dua-jenis-nifaq-dan-perbuatan-orang-munafik-bag-1.html"><span style="font-weight: 400;">https://muslim.or.id/42117-mengenal-dua-jenis-nifaq-dan-perbuatan-orang-munafik-bag-1.html</span></a></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/42119-mengenal-dua-jenis-nifaq-dan-perbuatan-orang-munafik-bag-2.html"><span style="font-weight: 400;">https://muslim.or.id/42119-mengenal-dua-jenis-nifaq-dan-perbuatan-orang-munafik-bag-2.html</span></a></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Diterjemahkan dari kitab </span><b><i>Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat</i></b> <span style="font-weight: 400;">hal. 78, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala.</span></i></p>
 