
<p>Aqidah <a href="https://muslimah.or.id/manhaj/al-wala-wal-baro-kunci-sempurnanya-tauhid.html" class="broken_link"><i>al-wala’ </i>dan <i>al-bara’ </i></a>merupakan salah satu konsekuensi dari tauhid. Seseorang yang mentauhidkan Allah <i>Ta’ala</i> dan taat kepada Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i>maka tidak boleh baginya mencintai dan loyal kepada orang-orang yang memusuhi Allah <i>Ta’ala </i>dan Rasul-Nya, meskipun mereka adalah saudaranya yang paling dekat.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Pengertian dan Kedudukan Aqidah </b><b><i>Al-Wala’ </i></b><b>dan </b><b><i>Al-Bara’</i></b><b> dalam Islam</b></span></h4>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <i>rahimahullah </i>menjelaskan bahwa pada asalnya, kata <i>al-wala’ </i>berarti cinta dan dekat, sedangkan kata <i>al-bara’ </i>berarti benci dan jauh. <b>[1] </b>Sehingga yang dimaksud dengan <i>al-wala’ </i>adalah menolong, mencintai, memuliakan, dan menghormati, serta selalu merasa bersama dengan orang yang dicintainya baik secara lahir maupun batin. Adapun yang dimaksud dengan <i>al-bara’ </i>adalah menjauh, berlepas diri, membenci, dan memberikan permusuhan.</p>
<p>Di antara pokok aqidah Islam adalah wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan <i>al-wala’ </i>dan <i>al-bara’ </i>ini. Sehingga dia mencintai sesama muslim lainnya dan membenci musuh-musuhnya. Dia mencintai orang-orang yang bertauhid dan loyal kepada mereka, serta membenci dan memusuhi pelaku syirik. Allah <i>Ta’ala </i>telah mengharamkan orang-orang beriman untuk mencintai dan loyal kepada orang-orang kafir, meskipun mereka adalah kerabat dan saudaranya sendiri. Allah <i>Ta’ala </i>berfirman,</p>
<p class="arab" align="center">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آَبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ</p>
<p><i>”Hai orang-orang yang beriman, </i><b><i>janganlah kamu menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali (kekasih) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan.</i></b><i> Dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” </i>(QS. At-Taubah [9]: 23).</p>
<p><i>Al-wala’ </i>dan <i>al-bara’ </i>merupakan konsekuensi dari rasa cinta kita kepada Allah <i>Ta’ala. </i>Orang yang mencintai Allah, maka dia dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah, yaitu dengan mencintai yang Allah cintai dan membenci apa yang Allah benci. Di antara yang dicintai Allah <i>Ta’ala </i>adalah ketaatan dan orang-orang yang bertakwa, <b>sedangkan di antara yang Allah </b><b><i>Ta’ala </i></b><b>benci adalah kemaksiatan, kekafiran, kemusyrikan, serta syi’ar-syi’arnya.</b>  Allah <i>Ta’ala </i><em>berfirman,</em></p>
<p class="arab" align="center">لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ</p>
<p><i>”</i>Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga meraka<i>” </i>(QS. Al-Mujadilah [58]: 22).</p>
<p>Allah <i>Ta’ala </i>berfirman,</p>
<p class="arab" align="center">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ</p>
<p><i>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia“ </i>(QS. Al-Mumtahanah [60]: 1).</p>
<p>Dalam ayat di atas, Allah <i>Ta’ala </i>melarang untuk memberikan loyalitas kepada orang kafir secara umum. Kemudian Allah tegaskan lagi di ayat yang lain adanya larangan untuk memberikan loyalitas kepada Yahudi dan Nasrani secara khusus. Allah <i>Ta’ala </i>berfirman,</p>
<p class="arab" align="center">يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصارى أَوْلِياءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ</p>
<p><i>“Hai orang-orang yang beriman, </i><b><i>janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu).</i></b><i> Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” </i>(QS. Al-Maidah [5]: 51).</p>
<p>Dalam ayat di atas, Allah <i>Ta’ala </i>menjelaskan bahwa tidak akan pernah terjadi adanya orang-orang mukmin yang mencintai dan memberikan loyalitas kepada orang kafir, baik orang kafir secara umum, ataupun orang Yahudi dan Nasrani secara khusus. <b>[2]</b> Jika ada orang mukmin yang mencintai orang kafir, maka ketahuilah bahwa dia bukan orang mukmin, meskipun dia mengklaim dirinya sebagai seorang mukmin. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa kecintaan kepada orang kafir meniadakan iman kepada Allah dan hari akhir, baik menghilangkan iman secara total atau hanya sebagian saja. Jika kecintaan kepada orang kafir itu menyebabkan seseorang mendukung dan membela kekafiran mereka, maka perbuatan ini mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Namun jika hanya semata-mata rasa cinta yang tidak sampai membela dan mendukung kekafiran mereka, maka hal ini dapat mengurangi dan melemahkan iman. <b>[3]</b></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Kepada Siapakah Kita Bersikap </b><b><i>Wala’ </i></b><b>atau </b><b><i>Bara’</i></b><b>?</b></span></h4>
<p>Dilihat dari sisi <i>wala’</i>dan <i>bara’, </i>terdapat tiga jenis golongan manusia.</p>
<p><b>Pertama, </b>adalah orang-orang yang wajib kita cintai secara mutlak, tidak boleh kita benci sama sekali. Mereka adalah orang-orang beriman dari kalangan para Nabi, para shahabat, <i>tabi’in </i>dan <i>tabi’ut tabi’in,</i> para ulama, dan orang-orang shalih secara umum. Yang paling utama di antara mereka adalah Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i>Kecintaan kita kepada beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>haruslah lebih besar daripada kecintaan kita kepada anak atau orang tua kita, bahkan diri kita sendiri.</p>
<p><b>Kedua, </b>adalah orang-orang yang harus kita benci secara mutlak, tidak boleh kita cintai sama sekali. Mereka adalah orang-orang kafir, orang-orang musyrik, dan orang-orang munafik. Allah <i>Ta’ala </i>berfirman,</p>
<p class="arab" align="center">تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ</p>
<p><i>”Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sungguh amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka dan mereka akan kekal dalam siksaan” </i>(QS. Al-Maidah [5]: 80).</p>
<p><b>Ketiga, </b>adalah orang-orang yang kita cintai dari satu sisi, namun juga kita benci dari sisi yang lain. Mereka adalah orang muslim yang terjerumus dalam kemaksiatan. Sehingga terkumpul dalam diri kita rasa cinta sekaligus rasa benci kepada mereka. Kita tidak boleh membenci mereka saja dan tidak mencintainya sama sekali, bahkan berlepas diri dari mereka. Namun, kita mencintai mereka karena keimanan mereka, dan kita juga membenci mereka karena maksiat yang mereka kerjakan. Hal ini dengan catatan bahwa maksiat yang mereka lakukan adalah maksiat yang tingkatannya di bawah kesyirikan dan kekafiran. Kecintaan kepada mereka menuntut kita untuk menasihati dan tidak tinggal diam atas maksiat yang mereka kerjakan, bahkan kita wajib mengingkarinya, memerintahkan mereka untuk berbuat yang <i>ma’ruf, </i>dan mencegah mereka dari perbuatan <i>munkar. </i>Apabila memiliki kewenangan, kita juga dapat menghukum mereka, sehingga mereka berhenti melakukan maksiat tersebut dan bertaubat dari kesalahannya. <b>[4].</b></p>
<p>[bersambung ke <a title="hukum perayaan natal" href="https://muslimah.or.id/aqidah/perayaan-natal-dan-aqidah-al-wala-wal-al-bara-yang-dianggap-usang-2.html" class="broken_link">Perayaan Natal dan Aqidah Al-Wala’ wal Al-Bara’ yang Dianggap Usang (2)</a> ]</p>
<p> </p>
<p>(Selesai disempurnakan di Sabtu pagi yang cerah, menjelang zuhur 20 Shafar 1436)</p>
<p> </p>
<h5><b>Catatan kaki:</b></h5>
<p>[1] Lihat <i>Al-Furqon baina Auliya-irrahman wa Auliya-isy Syaithan, </i>hal. 27, cetakan Maktabah Al-Furqon, <i>tahqiq: </i>Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali.</p>
<p>[2] Lihat penjelasan Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan dalam <i>Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqod, </i>hal. 248, cetakan pertama, tahun 2006, Maktabah Salsabila.</p>
<p>[3] Diringkas dari penjelasan Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan dalam <i>Syarh Tsalatsatul Ushuul, </i>hal. 48-49, cetakan pertama, tahun 1427, Daar Al-Imam Ahmad.</p>
<p>[4] Lihat <i>Al-Wala’ wal Bara’ fil Islaam </i>karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan, hal. 92-96</p>
<p> </p>
<p>Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.</p>
<p>Artikel <a href="http://Muslimah.Or.Id">Muslimah.Or.Id</a></p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 