
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana kita ketahui bahwa inti dakwah para rasul adalah dalam masalah pemurnian ibadah kepada Allah Ta’ala semata, dan melarang umatnya untuk beribadah kepada selain Allah Ta’ala. Dengan kata lain, inti dakwah para nabi dan rasul adalah dalam masalah tauhid uluhiyyah (tauhid ibadah). Namun hal ini bukanlah berarti bahwa mereka tidak memiliki penyimpangan dalam masalah tauhid yang lain, yaitu tauhid asma’ wa shifat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, dalam tulisan serial ini, akan kami paparkan sebagian penyimpangan kaum musyrikin terdahulu dalam masalah tauhid asma’ wa shifat.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46734-ketidaksempurnaan-iman-kaum-musyrikin-terhadap-rububiyyah-allah.html" data-darkreader-inline-color="">Ketidaksempurnaan Iman Kaum Musyrikin Terhadap Rububiyyah Allah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Menihilkan, mengingkari, atau menolak sebagian sifat Allah Ta’ala</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara penyimpangan kaum musyrikin terdahulu adalah mereka menolak, menihilkan, atau mengingkari sebagian sifat Allah Ta’ala. Dalil masalah ini adalah firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu kepadamu. </span><b>Bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.”</b> <b>(QS. Fushilat [41]: 22)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala menceritakan bahwa mereka memiliki persangkaan bahwa Allah Ta’ala tidak memiliki sifat ilmu (Maha mengetahui). Mereka mengingkari sifat ilmu dari Allah Ta’ala. Sehingga mereka itu berani berbuat dosa secara terang-terangan. Karena mereka menyangka bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan mereka dan mereka tidak mengetahui bahwa pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka akan menjadi saksi di akhirat kelak atas perbuatan mereka.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/28408-fatwa-ulama-hukum-rekreasi-ke-tempat-peribadatan-kaum-musyrikin.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Rekreasi Ke Tempat Peribadatan Kaum Musyrikin</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sifat ilmu (Maha mengetahui) adalah sifat Allah Ta’ala yang sangat agung, Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatu. Tidak ada satu pun perkara yang tersembunyi dari-Nya atau yang tidak Allah ketahui. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu perlihatkan. Dan Allah Maha mengetahui segala isi hati.” </span><b>(QS. At-Taghaabun [64]: 4)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam lanjutan ayat dalam surat Fushilat di atas, Allah Ta’ala kemudian berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu. Dia Telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” </span><b>(QS. Fushilat [41]: 23)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ancaman Allah Ta’ala dalam ayat di atas menunjukkan bahwa siapa saja yang menolak atau mengingkari sebagian -atau bahkan seluruh sifat Allah Ta’ala- maka dia terkena ancaman yang sangat keras ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, penjelasan ini menunjukkan bahwa para pengingkar sifat Allah Ta’ala, baik itu Jahmiyyah, Mu’tazilah, Al-Asya’irah, atau Al-Maturidiyyah, pada hakikatnya mereka adalah pewaris agama jahiliyyah. Dan mereka pun berhak untuk mendapatkan ancaman tersebut di atas.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/24866-allah-taala-tidak-pernah-ridha-dengan-kemusyrikan.html" data-darkreader-inline-color="">Allah Ta’ala Tidak Pernah Ridha dengan Kemusyrikan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Menihilkan, mengingkari, atau menolak sebagian nama Allah Ta’ala</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain menolak sebagian sifat Allah Ta’ala, mereka juga mengingkari sebagian nama Allah Ta’ala. Di antara dalil dalam masalah ini adalah firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Padahal mereka kafir kepada Ar-Rahman (Dzat yang Maha Penyayang).” </span><b>(QS. Ar-Ra’du [13]: 30)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ar-Rahmaan adalah salah satu dari nama Allah Ta’ala. Sebab turunnya ayat di atas adalah ketika Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">hendak menulis perjanjian damai antara kaum muslimin dan kaum musyrikin di Hudaibiyyah, datanglah Suhail bin ‘Amr. Suhail berkata, “Marilah kita tulis perjanjian antara kami dan kalian.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">lalu memanggil juru tulis beliau. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اكْتُبْ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tulislah bismillaahi ar-rahmaan ar-rahiim.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Suhail berkata, “Adapun nama Allah Ar-Rahmaan, maka demi Allah, aku tidak mengenal siapa dia.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Kami tidaklah mengenal nama Ar-Rahman, kecuali Rahmaan Al-Yamaamah.” </span><b>(HR. Bukhari no. 2731, 2732, secara ringkas)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/3374-soal-76-syarat-seseorang-dikatakan-musyrik.html" data-darkreader-inline-color="">Syarat Seseorang Dikatakan Musyrik</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang mereka maksud adalah Musailimah Al-Kadzdzaab, karena Musailimah (sang Nabi palsu), dijuluki dengan Ar-Rahmaan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu turunlah ayat,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Padahal mereka kafir kepada Ar-Rahmaan (Tuhan yang Maha Penyayang). Katakanlah, “Dia-lah Tuhanku, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku kembali.” </span><b>(QS. Ar-Ra’du [13]: 30)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga ketika Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berada di Mekah, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">shalat dan berdoa dengan mengatakan, “Ya Allah, wahai Ar-Rahman”, orang-orang musyrik mengatakan, “Lihatlah laki-laki ini (yaitu Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam). </span></i><span style="font-weight: 400;">Dia menyangka bahwa dia menyembah kepada Tuhan yang satu saja, padahal dia mengatakan, “Ya Allah, wahai Ar-Rahman”; dia menyembah dua Tuhan.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu turunlah firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah, “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman.” Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al-asmaaul husna (nama-nama yang terbaik).” </span><b>(QS. Al-Israa’ [17]: 110)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, meskipun Allah Ta’ala memiliki banyak nama, yang kita kenal dengan </span><b><i>Asmaul Husnaa</i></b><span style="font-weight: 400;">, hal ini tidaklah menunjukkan berbilangnya Tuhan. Karena semua nama-nama itu dimiliki oleh satu pemilik nama saja, yaitu Allah Ta’ala. Dan karena setiap nama itu mengandung sifat yang mulia, maka berbilangnya nama tersebut menunjukkan kesempurnaan sifat Sang Pemilik Nama, yaitu Allah Ta’ala.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46958-aqidah-pertengahan-ahlus-sunnah-di-antara-berbagai-kelompok-yang-menyimpang-bag-4.html" data-darkreader-inline-color="">Aqidah Pertengahan Ahlus Sunnah di antara Berbagai Kelompok yang Menyimpang</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, golongan yang menyimpang dalam masalah ini yaitu Jahmiyyah (yang mengingkari semua nama Allah Ta’ala) atau Mu’tazilah (yang meyakini nama Allah Ta’ala, namun nama yang kosong dari kandungan sifat), pada hakikatnya mereka adalah pewaris agama jahiliyyah. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hanya milik Allah asmaa-ul husnaa, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husnaa itu.” </span><b>(QS. Al-A’raf [7]: 180)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَة وَتِسْعِينَ اِسْمًا ، مِائَة إِلَّا وَاحِدًا ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu. </span><b>Barangsiapa yang menghitungnya, niscaya masuk surga.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(HR. Bukhari no. 2736, 7392 dan Muslim no. 6986)</b></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Menamai sesembahan mereka dengan derivat dari nama Allah Ta’ala</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kelancangan kaum musyrikin berikutnya adalah mereka menamai sesembahan-sesembahan mereka dengan membuat derivat dari nama Allah Ta’ala. Sehingga di sisi lain, perbuatan mereka ini menunjukkan bahwa mereka tidaklah mengingkari semua nama Allah Ta’ala, namun sebagian nama Allah Ta’ala saja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contohnya, mereka menamai sesembahan mereka di Tha’if dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Laata </span></i><b>(اللات)</b><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu derivat dari nama Allah Ta’ala </span><b><i>Al-Ilaah</i></b> <b>(الإله)</b><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atau menamai sesembahan mereka di kota Mekah dengan nama </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-‘Uzza </span></i><b>(العزى)</b><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu derivat dari nama Allah Ta’ala </span><b><i>Al-‘Aziiz</i></b> <b>(العزيز)</b><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atau menamai sesembahan mereka di Madinah dengan nama </span><i><span style="font-weight: 400;">Manaat</span></i> <b>(منات)</b><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i> <span style="font-weight: 400;">yaitu derivat dari nama Allah Ta’ala </span><b><i>Al-Mannaan</i></b> <b>(المنان)</b><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/46732-penyakit-berbahaya-merasa-punya-jasa-dalam-dakwah.html" data-darkreader-inline-color="">Penyakit Berbahaya: Merasa Punya Jasa dalam Dakwah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/46440-adab-ziarah-ke-masjid-nabawi-agar-sesuai-dengan-tuntunan-bag-2.html" data-darkreader-inline-color="">Adab Ziarah ke Masjid Nabawi agar Sesuai dengan Tuntunan</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 5 Ramadhan 1440/11 Mei 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""><strong>Muslim.or.id</strong></a></span></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disarikan dari kitab </span><b><i>Syarh Masaail Al-Jahiliyyah, </i></b><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 143-147 (cetakan pertama, penerbit Daarul ‘Ashimah, tahun 1421)</span></p>
 