
<p><span style="font-weight: 400;">Penyakit ‘ain itu nyata adanya. Pandangan mata bisa menyebabkan orang lain sakit, atau bahkan meninggal. Tentunya penyakit ‘ain ini begitu berbahaya dan menakutkan. Lalu bagaimana sebenarnya hakekat ‘ain, bagaimana cara mencegahnya serta bagaimana menghindarinya? Simak pemaparan singkat ini.</span></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Apakah penyakit ‘ain itu?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Ain adalah penyakit atau gangguan yang disebabkan pandangan mata. Disebutkan oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إصابة العائن غيرَه بعينه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seorang yang memandang, menimbulkan gangguan pada yang dipandangnya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 69).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijelaskan oleh </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Lajnah Ad Daimah</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مأخوذة من عان يَعين إذا أصابه بعينه ، وأصلها : من إعجاب العائن بالشيء ، ثم تَتبعه كيفية نفْسه الخبيثة ، ثم تستعين على تنفيذ سمها بنظرها إلى المَعِين</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“‘Ain dari kata ‘aana – ya’iinu yang artinya: terkena sesuatu hal dari mata. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti oleh respon jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Fatawa Al Lajnah Ad Daimah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1/271).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gangguan dari ‘ain bisa berupa penyakit, kerusakan atau bahkan kematian.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Penyakit ‘ain benar adanya!</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah mengetahui definisi dari ‘ain, mungkin sebagian orang akan bertanya-tanya: “Ah, mana mungkin sekedar memandang akan menimbulkan penyakit?!”, “bagaimana bisa sekedar pandangan membuat seseorang mati?”. Atau bahkan sebagian orang mengingkari adanya ‘ain karena tidak masuk akal. Oleh karena itulah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">العين حق، ولو كان شيء سابق القدر سبقته العين</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului <a href="https://muslim.or.id/2156-memahami-takdir-dengan-benar.html" target="_blank" rel="noopener">takdir</a>, sungguh ‘ain itu yang bisa”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no. 2188).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَسْتَرْقِيَ مِنَ العَيْنِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memintaku agar aku diruqyah untuk menyembuhkan ‘ain</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Muslim no.2195).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Jabir bin Abdillah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أكثرُ مَن يموت بعدَ قضاءِ اللهِ وقَدَرِهِ بالعينِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ain”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Al Bazzar dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Kasyful Astar </span></i><span style="font-weight: 400;">[3/ 404], dihasankan oleh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Al Jami’</span></i><span style="font-weight: 400;"> no.1206).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan kabar Nabawi ini wajib kita imani, bahwa ‘ain itu benar-benar ada dan pernah terjadi. Dan tentunya sangat mudah bagi Allah untuk membuat adanya penyakit yang semisal ‘ain ini. Dan nyata penyakit ini juga banyak disaksikan adanya oleh orang-orang, yaitu ketika didapati adanya orang-orang yang jatuh sakit secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.</span></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/44783-penyakit-yang-paling-berbahaya.html" target="_blank" rel="noopener">Penyakit yang Paling Berbahaya</a></strong></em></p></blockquote>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Sebab terjadinya penyakit ‘ain</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Ain terjadi karena adanya <a href="https://muslim.or.id/243-bahaya-hasad.html" target="_blank" rel="noopener">hasad</a> (iri; dengki) terhadap nikmat yang ada pada orang lain. Orang yang memiliki hasad terhadap orang lain, lalu memandang orang tersebut dengan pandangan penuh rasa hasad, ini bisa menyebabkan penyakit ‘ain. </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Lajnah Ad Daimah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وقد أمر الله نبيَّه محمَّداً صلى الله عليه وسلم بالاستعاذة من الحاسد ، فقال تعالى : ومن شر حاسد إذا حسد ، فكل عائن حاسد وليس كل حاسد عائنا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meminta perlindungan dari orang yang hasad. Dalam Al Qur’an: ” </span><i><span style="font-weight: 400;">… dan dari keburukan orang yang hasad</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al Falaq: 5). Maka setiap orang yang menyebabkan penyakit ain mereka adalah orang yang hasad, namun tidak semua orang yang hasad itu menimbulkan ‘ain” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Fatawa Al Lajnah Ad Daimah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1/271).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pandangan kagum juga bisa menyebabkan ‘ain. Dalam hadits dari Abu Umamah bin Sahl, ia berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اغتسل أَبِي سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ بِالْخَرَّارِ، فَنَزَعَ جُبَّةً كَانَتْ عَلَيْهِ وَعَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ يَنْظُرُ، قَالَ: وَكَانَ سَهْلٌ رَجُلاً أَبْيَضَ، حَسَنَ الْجِلْدِ، قَالَ: فَقَالَ عَامِرُ بْنُ رَبيعَةَ: مَا رَأَيْتُ كَالْيَوْمِ وَلا جِلْدَ عَذْرَاءَ، فَوُعِكَ سَهْلٌ مَكَانَهُ، فَاشْتَدَّ وَعْكُهُ، فَأُتِي رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – فَأُخْبِرَ أَنَّ سَهْلاً وُعِكَ وَأَنَّهُ غَيرُ رَائِحٍ مَعَكَ يَا رسول الله، فَاَتَاهُ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ سَهْل بالَّذِي كَانَ مِنْ شَأنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ، فَقَالَ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “عَلاَمَ يَقْتُلُ أًحَدُكمْ أَخَاهُ؟ أَلا بَرَّكْتَ؟، إِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ، تَوَضَّأْ لَهُ”. فَتَوَضَأَ لَهُ عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ، فَرَاحَ سَهْل مَعَ رَسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Suatu saat ayahku, Sahl bin Hunaif, mandi di Al Kharrar. Ia membuka jubah yang ia pakai, dan ‘Amir bin Rabi’ah ketika itu melihatnya. Dan Sahl adalah seorang yang putih kulitnya serta indah. Maka ‘Amir bin Rabi’ah pun berkata: </span><i><span style="font-weight: 400;">“Aku tidak pernah melihat kulit indah seperti yang kulihat pada hari ini, bahkan mengalahkan kulit wanita gadis”</span></i><span style="font-weight: 400;">. Maka Sahl pun sakit seketika di tempat itu dan sakitnya semakin bertambah parah. Hal ini pun dikabarkan kepada Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, “Sahl sedang sakit dan ia tidak bisa berangkat bersamamu, wahai Rasulullah”. Maka Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pun menjenguk Sahl, lalu Sahl bercerita kepada Rasulullah tentang apa yang dilakukan ‘Amir bin Rabi’ah. Maka Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Mengapa seseorang menyakiti saudaranya? Mengapa engkau tidak mendoakan keberkahan? Sesungguhnya penyakit ‘ain itu benar adanya, maka berwudhulah untuknya!”</span></i><span style="font-weight: 400;">. ‘Amir bin Rabi’ah lalu berwudhu untuk disiramkan air bekas wudhunya ke Sahl. Maka Sahl pun sembuh dan berangkat bersama Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Malik dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Muwatha</span></i><span style="font-weight: 400;">’ [2/938] dishahihkan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah Ash Shahihah </span></i><span style="font-weight: 400;">[6/149]).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits ini ‘Amir bin Rabi’ah memandang Sahl bin Hunaif dengan penuh kekaguman, sehingga menyebabkan Sahl terkena ‘ain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qayyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وإذا كان العائن يخشى ضرر عينه وإصابتها للمعين، فليدفع شرها بقوله: اللهم بارك عليه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang yang memandang dengan pandangan kagum khawatir bisa menyebabkan ain pada benda yang ia lihat, maka cegahlah keburukan tersebut dengan mengucapkan: </span><i><span style="font-weight: 400;">Allahumma baarik ‘alaih</span></i><span style="font-weight: 400;">” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Ath Thibbun Nabawi</span></i><span style="font-weight: 400;">, 118).</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Ain bisa terjadi pada benda mati</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama mengatakan bahwa benda mati juga bisa terkena ‘ain. Benda mati yang terkena ‘ain bisa mengakibatkan rusak atau hancur secara tiba-tiba. <em>Wa’iyyadzu billah</em>. Dalam hadits, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> berdoa:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اللهم إني أسألك العفو والعافية في ديني ودنياي وأهلي ومالي</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ya Allah, aku meminta ampunan dan keselamatan pada agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku” (HR. Abu Daud no.5074, dishahihkan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Abu Daud</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “masyaAllah, laa quwwata illaa billah”. Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al Kahfi: 39).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama menjadikan ayat ini dalil bahwa harta bisa terkena ain dan boleh diruqyah ketika terkena ‘ain. Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قال بعض السلف: من أعجبه شيء من حاله، أو ماله، أو ولده فليقل: ما شاء لا قوة إلا بالله ـ وهذا مأخوذ من هذه الآية الكريمة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sebagian salaf mengatakan: orang yang kagum pada keadaannya atau hartanya atau pada anaknya, hendaknya ucapkan maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah. Ini diambil dari ayat yang mulia ini” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Ibnu Katsir</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/59061-dahsyatnya-bahaya-hasad.html" target="_blank" rel="noopener">Inilah Dahsyatnya Bahaya Hasad</a></strong></em></p></blockquote>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Cara mencegah agar pandangan kita tidak menimbulkan penyakit ‘ain</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian ulama berpendapat bahwa untuk mencegah ‘ain ketika melihat suatu hal yang menakjubkan pada orang lain, mengucapkan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ما شاء الله لا قوة إلا بالله</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">/laa haula walaa quwwata illa billah/</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun pendapat ini tidak memiliki dasar yang kuat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sisi orang yang memandang, hadits-hadits menunjukkan bahwa untuk mencegah ‘ain adalah dengan </span><a href="https://muslim.or.id/4682-meraih-berkah.html" target="_blank" rel="noopener"><i><span style="font-weight: 400;">tabriik</span></i></a><span style="font-weight: 400;"> (mendoakan keberkahan), misalnya mengucapkan: </span><i><span style="font-weight: 400;">“baarakallahu fiik”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (semoga Allah memberkahimu) atau </span><i><span style="font-weight: 400;">“baarakallahu laka”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (semoga Allah memberkahimu).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إذا رأى أحدكم من نفسه و أخيه ما يعجبه فليدع بالبركة فإن العين حق</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“jika salah seorang dari kalian melihat pada diri saudaranya suatu hal yang menakjubkan maka doakanlah keberkahan baginya, karena ‘ain itu benar adanya” (HR. An Nasa’i no. 10872, disahihkan Al-Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih An Nasa’i</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan yang paling penting agar tidak menimbulkan penyakit ‘ain pada diri orang lain adalah menghilangkan rasa hasad kepada orang lain. Karena hasad itu tercela. Dari Anas bin Malik </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لا تَباغضوا ، و لا تَقاطعوا ، و لا تَدابَروا ، و لا تَحاسَدُوا ، و كونوا عبادَ اللهِ إخوانًا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Janganlah kalian saling membenci, saling memutus hubungan, saling menjauh, saling hasad. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no. 6076, Muslim no.2559).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan hasad kepada nikmat yang didapatkan orang lain, berarti tidak ridha kepada keputusan Allah dan pembagian rezeki oleh Allah. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. An Nisa’: 32).</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Cara agar kita tidak terkena ‘ain</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal pertama yang perlu dilakukan agar terhindar dari penyakit ‘ain adalah menghindari sikap suka pamer, dan berhias diri dengan sifat </span><a href="https://muslim.or.id/7870-hiasi-diri-dengan-sifat-tawadhu.html" target="_blank" rel="noopener"><i><span style="font-weight: 400;">tawadhu</span></i></a><span style="font-weight: 400;">‘.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sungguh Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zalim pada yang lain”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no. 2865).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebisa mungkin hindari menyebut-nyebut kekayaan, kesuksesan usaha, kebahagiaan keluarga, juga <a href="https://muslim.or.id/28858-penyakit-ain-melalui-foto-dan-video.html" target="_blank" rel="noopener">memamerkan foto anak</a>, foto diri, foto istri/suami, dan hal-hal lain yang bisa menimbulkan iri-dengki dari orang yang melihatnya. Atau juga yang bisa menyebabkan kekaguman berlebihan dari orang yang melihatnya. Karena pandangan kagum juga bisa menyebabkan ‘ain, sebagaimana sudah disebutkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian di antara upaya pencegahan penyakit ‘ain adalah dengan menjaga dan memelihara semua kewajiban dan menjauhi segala larangan, <a href="https://muslim.or.id/401-keutamaan-taubat.html" target="_blank" rel="noopener">taubat</a> dari segala macam kesalahan dan dosa, juga membentengi diri dengan beberapa dzikir doa, dan </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’awudz</span></i><span style="font-weight: 400;"> (doa perlindungan) yang disyariatkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ</span></p>
<p><em>“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”</em> (Qs. Asy-Syuura: 30).</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ</span></p>
<p><em>“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”</em> (QS. Ar Ra’du: 28)</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rutinkan dzikir-dzikir pagi dan sore, serta dzikir-dzikir harian seperti dzikir keluar/masuk rumah, dzikir keluar/masuk kamar mandi, dzikir hendak tidur atau bangun tidur, dzikir naik kendaraan, dzikir ketika akan makan, dzikir setelah shalat, dan lainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diantara dzikir pencegah ‘ain yang bisa dibaca kepada anak-anak agar tidak terkena ‘ain adalah sebagaimana yang ada dalam hadits Ibnu Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mendoakan Hasan dan Husain dengan doa:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أُعِيذُكما بكلِماتِ اللهِ التَّامَّةِ، مِن كلِّ شيطانٍ وهامَّةٍ، ومِن كلِّ عينٍ لامَّةٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">/u’iidzukuma bikalimaatillahit taammah, min kulli syaithaanin wa haamah wa min kulli ‘ainin laamah/</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Aku meminta perlindungan untuk kalian dengan kalimat Allah yang sempurna, dari gangguan setan dan racun, dan gangguan ‘ain yang buruk”. Lalu Nabi bersabda: “Dahulu ayah kalian (Nabi Ibrahim) meruqyah Ismail dan Ishaq dengan doa ini”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Abu Daud no. 4737, Ibnu Hibban no.1012, dishahihkan Syu’ain Al Arnauth dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Takhrij Ibnu Hibban</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/52358-pengobatan-yang-menisbatkan-pada-islam-sunnah.html" target="_blank" rel="noopener">Pengobatan yang Menisbatkan pada Islam dan Sunnah</a></strong></em></p></blockquote>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Cara mengobati penyakit ‘ain</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun orang yang terlanjur terkena ‘ain maka yang pertama kali harus dilakukan adalah bersabar. Hendaknya ia meyakini bahwa penyakit ‘ain itu terjadi atas izin Allah. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّـهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّـهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّـهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. At Taghabun: 11).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan hendaknya ia bertawakkal hanya kepada Allah. Ia meyakini bahwa <a href="https://muslim.or.id/8489-asy-syaafii-zat-yang-maha-menyembuhkan.html" target="_blank" rel="noopener">satu-satunya yang bisa menyembuhkan</a> hanyalah Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al An’am: 17).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika orang yang terkena ‘ain <a href="https://muslim.or.id/30-tawakkal.html" target="_blank" rel="noopener">bertawakkal</a> kepada Allah sepenuhnya, maka pasti Allah akan sembuhkan. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah pasti Allah akan penuhi kebutuhannya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Ath Thalaq: 3).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan hendaknya orang yang terkena ‘ain mengusahakan sebab-sebab yang bisa menyembuhkan penyakit ‘ain, diantaranya:</span></p>
<ol>
<li><b> Mandi dari air bekas mandi orang yang menyebabkan ‘ain</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhum</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">العين حق ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين ، وإذا استغسلتم فاغسلوا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“‘Ain itu benar adanya. Andaikan ada perkara yang bisa mendahului takdir, maka itulah ‘ain. Maka jika kalian mandi, gunakanlah air mandinya itu (untuk memandikan orang yang terkena ‘ain)”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no. 2188).</span></p>
<ol start="2">
<li><b> Mandi dari air bekas wudhu orang yang menyebabkan ‘ain</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Umamah bin Sahl di atas. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkan Amir bin Rabi’ah untuk berwudhu dan menyiramkan air wudhunya kepada Sahl yang terkena ‘ain. Dalam riwayat yang lain:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَأَمَرَ عَامِرًا أَنْ يَتَوَضَّأَ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، وَرُكْبَتَيْهِ وَدَاخِلَةَ إِزَارِهِ، وَأَمَرَهُ أَنْ يَصُبَّ عَلَيْهِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan Amir untuk berwudhu. Lalu Amir membasuh wajah dan kedua tangannya hingga sikunya, dan membasuh kedua lututnya dan bagian dalam sarungnya. Lalu Nabi memerintahkannya untuk menyiramkannya kepada Sahl”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. An Nasa’i no. 7617, Ibnu Majah no. 3509, Ahmad no. 15980, dishahihkan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Ibni Majah</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha, </span></i><span style="font-weight: 400;">ia berkata :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">كانَ يُؤمَر العائِنُ، فيتوضّأُ، ثم يَغْتَسِلُ منه المَعِينُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dahulu orang yang menjadi penyebab ‘ain diperintahkan untuk berwudhu, lalu orang yang terkena ‘ain mandi dari sisa air wudhu tersebut”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR Abu Daud no 3885, dishahihkan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah Ash Shahihah</span></i><span style="font-weight: 400;"> no.2522).</span></p>
<ol start="3">
<li><b> Ruqyah syar’iyyah</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana hadits dari Asma bintu Umais </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يا رسول الله ، إن بني جعفر تصيبهم العين ، أفنسترقي لهم ؟ ، قال : نعم ، فلو كان شيء سابق القدر لسبقته العين</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Wahai Rasulullah, Bani Ja’far terkena penyakit ‘ain, bolehkah kami minta mereka diruqyah? Nabi menjawab: iya boleh. Andaikan ada yang bisa mendahului takdir, itulah ‘ain”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Tirmidzi no.2059, Ibnu Majah no. 3510, dishahihkan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Ibnu Majah</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada beberapa cara meruqyah orang yang terkena ‘ain, diantaranya dengan membacakan doa yang ada dalam hadits ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata: “Ketika Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">merasakan sakit, Malaikat Jibril meruqyahnya dengan doa:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">باسْمِ اللهِ يُبْرِيكَ، وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إذَا حَسَدَ، وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">/bismillahi yubriik, wa min kulli daa-in yasyfiik, wa min syarri haasidin idza hasad, wa syarri kulli dzii ‘ainin/</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">(dengan nama Allah yang menyembuhkanmu. Ia menyembuhkanmu dari segala penyakit dan dari keburukan orang yang hasad dan keburukan orang yang menyebabkan ‘ain)</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no.2185).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atau membaca doa-doa ruqyah dari hadits-hadits shahih yang lainnya, serta ayat-ayat Al Qur’an. Dan semua ayat-ayat Al Qur’an bisa untuk meruqyah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pemaparan singkat mengenai penyakit ‘ain. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari keburukan penyakit ‘ain. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu waliyyu dzalika wal qaadiru ‘alaihi</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/41929-tanda-tanda-terkena-gangguan-jin-dan-penyakit-ain.html" target="_blank" rel="noopener">Tanda-Tanda Terkena Gangguan Jin dan Penyakit ‘Ain</a></strong></em></p></blockquote>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://kangaswad.wordpress.com/" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Yulian Purnama</a></strong></p>
<p><strong>Artikel: </strong><a href="https://muslim.or.id/" target="_blank" rel="noopener"><strong>Muslim.or.id</strong></a></p>
 