
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara perkara penting dalam mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah “pemahaman” </span><i><span style="font-weight: 400;">(al-fahmu). </span></i><span style="font-weight: 400;">Yaitu, kita diberikan pemahaman tentang apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan juga apa yang diinginkan (dimaksudkan) oleh Rasul-Nya </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Hal ini karena mayoritas manusia diberikan ilmu, namun tidak diberikan pemahaman </span><i><span style="font-weight: 400;">(al-fahmu). </span></i><span style="font-weight: 400;">Tidaklah cukup bagi seseorang kalau hanya menghapal Al-Qur’an dan menghapal hadits-hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">yang mudah baginya, namun tidak memiliki pemahaman. Betapa banyak orang yang berdalil dengan ayat Al-Qur’an atau hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">namun tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sehingga dengan itu, mereka pun terjatuh dalam kesesatan.</span></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Salah dalam pemahaman itu lebih berbahaya</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kesalahan dalam pemahaman itu lebih berbahaya daripada kejahilan (tidak berilmu sama sekali). Hal ini karena seseorang yang bodoh, kemudian terjatuh dalam kesalahan, dia tahu bahwa dia tidak berilmu (bodoh) sehingga hal itu mendorong dirinya untuk belajar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun orang yang salah dalam pemahaman, dia mengira bahwa dirinya orang yang berilmu. Dia juga mengira apa yang dia pahami itu adalah apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/55698-makna-kata-al-wail-di-dalam-alquran.html" data-darkreader-inline-color="">Makna Kata “Al Wail” di Dalam Alquran</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Antara Nabi Dawud dan Sulaiman </b><b><i>‘alaihimassalaam</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. </span><b>Maka Kami telah memberikan pengertian (pemahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat).</b><span style="font-weight: 400;"> Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.” </span><b>(QS. Al-Anbiya’ [21]: 78-79)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam masalah ini, Allah Ta’ala memberikan keutamaan lebih kepada Nabi Sulaiman </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alahis salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">dibandingkan dengan Nabi Dawud </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam, </span></i><span style="font-weight: 400;">karena adanya pemahaman yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alahis salaam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maka Kami telah memberikan pengertian (pemahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat).”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, hal itu bukanlah celaan terhadap ilmu Nabi Daud </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam, </span></i><span style="font-weight: 400;">karena Allah Ta’ala mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perhatikanlah ayat ini, kita bisa melihat bagaimana Allah Ta’ala menyebutkan keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman berupa pemahaman. Kemudian Allah Ta’ala sebutkan pula keutamaan Nabi Daud </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga mereka pun saling mengungguli satu sama lain. Meskipun ada dua hal yang mereka berserikat (sama) di dalamnya, yaitu hikmah dan ilmu. Lalu Allah Ta’ala menyebutkan perkara yang membuat masing-masing dari mereka lebih unggul dari yang lain. Hal ini menunjukkan pentingnya pemahaman </span><i><span style="font-weight: 400;">(al-fahmu).</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/30038-keutamaan-mempelajari-tafsir-alquran.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran</strong></a></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Contoh salah dalam pemahaman</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh dalam pemahaman adalah kasus semisal ini. Jika ada dua wadah, satu wadah berisi air hangat dan satu wadah berisi air dingin. Ketika itu sedang musim dingin, dan ada seseorang yang ingin mandi wajib (mandi janabah). Sebagian orang akan berkata bahwa yang lebih afdhal (lebih utama) adalah memakai air dingin, Karena jika memakai air dingin, kondisinya lebih berat (ada </span><i><span style="font-weight: 400;">masyaqqah</span></i><span style="font-weight: 400;">), sehingga lebih besar pahalanya. Kemudian di pun berdalil dengan hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda</span><b>, ”(Yaitu)</b> <b>menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, </b><span style="font-weight: 400;">banyaknya langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah kebaikan (yang banyak).” </span><b>(HR. Muslim no. 251)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di manakah kesalahan dalam kasus ini?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesalahannya terletak dalam masalah pemahaman. Karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak mengatakan, “Pilihlah air dingin ketika wudhu.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dua ungkapan ini jelas sekali berbeda. Karena maksud Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah janganlah dinginnya air mencegah seseorang dari menyempurnakan wudhu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, Allah Ta’ala menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“<em>Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.</em>”</span> <b>(QS. Al Baqarah (2): 185)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya agama itu mudah.”</span> <b>(HR. Bukhari no. 39) </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sangat jelas bahwa Allah Ta’ala menghendaki kemudahan kepada para hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29926-tadabbur-alquran-cara-dahsyat-meningkatkan-iman.html" data-darkreader-inline-color="">Tadabbur Alquran, Cara Dahsyat Meningkatkan Iman</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29582-alquran-al-karim-muhkam-dan-mutasyabih-1.html" data-darkreader-inline-color="">Alquran Al-Karim, Muhkam dan Mutasyabih</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kantor YPIA, 24 Muharram 1442/ 17 September 2020</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disarikan dari kitab </span><b><i>Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat</i></b> <span style="font-weight: 400;">hal. 23-24, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala.</span></i></p>
 