
<p><em>Bismillahirrahmanirrahim </em>…</p>
<p>Malam Nisfu Sya’ban atau pertengahan bulan Sya’ban, telah dibahas oleh para ulama saat mengkaji firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an di malam yang berkah, dan sesungguhnya Kami yang memberi peringatan. Di malam itu ditetapkan takdir segala urusan yang penuh hikmah.”</em> <strong>(QS. Ad-Dukkhan: 3-4)</strong></p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pendapat tentang makna yang berkah</strong></span></h2>
<p>Ada dua pendapat yang menyatakan tentang makna “<em>malam yang berkah</em>” pada ayat ini:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, <strong>malam</strong> <strong>nisfu sya’ban.</strong></p>
<p>Ulama salaf yang populer memegang pendapat ini adalah Ikrimah <em>Rahimahullah</em>, ulama generasi <em>tabi’in</em> yang menjadi murid dari Ibnu ‘Abbas <em>Radhiyallahu ‘anhuma</em>.</p>
<p>Ikrimah mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أن هذه الليلة هي ليلة النصف من شعبان ، يبرم فيها أمر السنة</span></p>
<p>“Bahwa yang dimaksud malam yang berkah pada ayat tersebut adalah malam nisfu sya’ban. Di malam itu Allah menetapkan takdir dalam satu tahun.” <strong>(<em>Tafsir Al-Qurtubi, </em>19: 100, <em>Tafsir Ibnu Katsir, 7: 246</em>)</strong></p>
<p><strong>Kedua</strong>, <strong>malam lailatul qadar</strong>.</p>
<p>Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama (<em>jumhur</em>). (Lihat keterangan ini di <em>Tafsir At-Thabari, </em>11: 221-223)</p>
<p>Sebagaimana keterangan Ibnu Katsir, setelah menyebutkan ayat di atas, beliau <em>Rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يقول تعالى مخبراً عن القرآن العظيم أنه أنزله في ليلة مباركة ، وهي ليلة القدر كما قال عز وجل :{ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر} وكان ذلك في شهر رمضان، كما قال: تعالى: { شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ }</span></p>
<p>“Allah <em>Ta’ala</em> menceritakan tentang Al-Qur’an yang mulia ini, bahwa Dia menurunkan kitab ini pada malam yang penuh berkah, yaitu <strong>malam</strong> <strong>lailatul qadar</strong>. Sebagaimana yang Allah <em>Ta’ala </em>firmankan dalam ayat (yang artinya), <em>‘Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an di malam lailatul qadar.’</em> Peristiwa itu terjadi di <strong>bulan Ramadhan (pen. bukan bulan Sya’ban). </strong>Sebagaimana yang Allah tegaskan (yang artinya), <em>‘Bulan ramadhan, yang mana di bulan ini diturunkan Al-Qur’an.’</em>” <strong>(<em>Tafsir Ibnu Katsir, </em>7: 245)</strong></p>
<p>Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di <em>Rahimahullah </em>juga menerangkan demikian,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">كثيرة الخير والبركة وهي ليلة القدر التي هي خير من ألف شهر، فأنزل أفضل الكلام بأفضل الليالي والأيام على أفضل الأنام</span></p>
<p>“Malam yang berkah, adalah malam yang banyak kebaikan dan keberkahan. Malam itu adalah malam lailatul qadar, yang lebih baik dari seribu bulan. Maka Al-Qur’an ini Allah turunkan sebagai sebaik-baik ucapan, diturunkan di malam yang paling mulia dan kepada manusia yang paling mulia (Muhammad <em>shalallahu alaihi wa sallam).</em>” <strong>(<em>Tafsir As-Sa’di, </em>hal. 771)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/200-ngalap-berkah.html" data-darkreader-inline-color="">Ngalap Berkah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pendapat yang kuat</strong></span></h2>
<p>Tampaknya pendapat kedua yang lebih kuat. Bahwa makna “<em>malam yang berkah</em>” yang disebut dalam surat Ad-Dukhon ayat 3 dan 4 di atas adalah, malam <strong>lailatul qadar</strong>, bukan malam <strong>nisfu sya’ban.</strong></p>
<p>Hal karena beberapa alasan berikut ini,</p>
<p>– keterangan mayoritas ahli tafsir bahwa makna malam yang berkah adalah malam lailatul qadar.</p>
<p>– diterangkan pada ayat tersebut “<em>di malam itu ditetapkan segala perkara.</em>”</p>
<p>Keterangan ini senada dengan ayat yang lain yang berbicara tentang malam lailatul qadar. Yaitu ayat 4 dari surat Al-Qodar,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ</span></p>
<p><em>“Pada malam itu turun para malaikat dan Rµh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.”</em> <strong>(QS. Al-Qodar: 4)</strong></p>
<p>Diterangkan dalam tafsir Al-Qurtubi tentang makna ayat ini,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">(مِنْ كُلِّ أَمْرٍ): أُمِرَ بِكُلِّ أَمْرٍ قَدَّرَهُ اللَّهُ وَقَضَاهُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ إِلَى قَابِلٍ، قاله ابن عباس</span></p>
<p>“‘<em>untuk mengatur semua urusan</em>‘ maknanya adalah, segala urusan yang ditakdirkan dan ditetapkan Allah di tahun itu sampai tiba tahun berikutnya. Sebagaimana penjelasan Ibnu Abbas <em>Radhiyallahu’anhuma</em>” <strong>(<em>Tafsir Al-Qurtubi 23/396</em>)</strong>.</p>
<p>Pendapat ini dikuatkan oleh Iman Ibnu Jarir at-Thabari di dalam tafsirnya,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">والصواب من القول في ذلك قول من قال: عنى بها ليلة القدر, لأن الله جلّ ثناؤه أخبر أن ذلك كذلك لقوله تعالى ( إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ )</span></p>
<p>“Pendapat yang benar adalah yang menyatakan bahwa malam yang berkah itu maksudnya adalah malam lailatul qadar. Karena Allah <em>Ta’ala</em> (di ayat yang lain) mengabarkan bahwa laillatul qadar adalah seperti demikian. Berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em> (yang artinya), ‘<em>Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.’</em>” <strong>(<em>Tafsir At-Thabari, </em>11: 221)</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir <em>Rahimahullah</em> juga menguatkan pendapat yang kedua ini. Beliau <em>Rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ومن قال : إنها ليلة النصف من شعبان -كما روي عن عكرمة-فقد أبعد النَّجْعَة فإن نص القرآن أنها في رمضان</span></p>
<p>“Oleh karenanya, siapa yang berpendapat bahwa yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam nisfu sya’ban – sebagaimana riwayat dari Ikrimah – maka itu pendapat yang terlalu jauh. Karena nash Al-Qur’an tegas menerangkan bahwa malam itu ada di bulan Ramadhan.” <strong>(<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 7: 246)</strong></p>
<p><em>Wallahu a’lam bis shawab</em>.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27910-ada-apa-dengan-perayaan-malam-27-rajab-dan-nishfu-syaban.html" data-darkreader-inline-color="">Ada Apa Dengan Perayaan Malam 27 Rajab Dan Nishfu Sya’ban?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/21644-mengenal-hadits-hadits-lemah-seputar-bulan-syaban.html" data-darkreader-inline-color="">Mengenal Hadits-Hadits Lemah Seputar Bulan Sya’ban</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Ditulis oleh : <a href="https://muslim.or.id/author/aanshori"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Ahmad Anshori</span></a></strong></p>
<p><strong>Artikel : <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://muslim.or.id/" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ul>
<li>Jami’ Al-Bayan Fi Takwil Al-Qur’an (Tafsir At Tobari), karya : Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Tobari, penerbit : Dar Al Kutub Al Ilmiyah.</li>
<li>Tafsir Al Qur’an Al ‘Adhim (Tafsir Ibnu Katsir, karya : Abul Fida’ Ismail bin Umar Ibnu Katsir, tahqiq : Sami As-Salamah, penerbit : Dar Thoyyibah – Riyadh, th. 1420 H / 1999 M.</li>
<li>Al-Jami’ Liahkam Al Qur’an (Tafsir Al Qurtubi), karya : Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Qurtubi, tahqiq : Dr. Abdullah At Turki, penerbit : Mu-assasah Ar-Risalah – Damaskus, cet. 1 th. 1434 H / 2013 M.</li>
<li>Al Kariim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al Mannan (Tafsir As-Sa’di), karya : Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, penerbit : Mu-assasah Ar-Risalah, cet. 1 th. 1423 H / 2002 M.</li>
</ul>
<p> </p>
 