
<p><strong>Baca penjelasan sebelumnya pada artikel <a href="https://muslim.or.id/73410-penjelasan-lafzhul-jalaalah-allah-bag-2.html">Penjelasan Lafzhul Jalaalah “Allah” (Bag. 2)</a>.</strong></p>
<p><em>Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.</em></p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Makna اللهم (<em>allahumma</em>)</strong></span></h2>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Huruf <em>mim </em>bertasydid pada اللهم sebagai penganti huruf يا pada يا الله</strong></span></h3>
<p>Ibnul Jauzi <em>Rahimahullah</em> menyebutkan dalam <em>Zadul Masir</em> perkataan Az-Zujaj <em>Rahimahullah</em> bahwa Al-Khalil, Sibawih, dan seluruh pakar Nahwu yang terpercaya menyatakan bahwa “اللهم itu maknanya adalah يا الله. Huruf <em>mim </em>bertasydid itu penganti huruf يا karena tidak ada <em>mim</em> saat disebutkan يا الله. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa huruf <em>mim </em>bertasydid pada اللهم itu pengganti huruf يا pada <span dir="rtl">يا الله</span> [1].</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Lafaz <em>allahumma</em> hakikatnya adalah doa kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-Nya</strong></span></h3>
<p>Di antara rahasia indah dalam lafaz <em>allahumma </em>adalah huruf <em>mim</em> pada kata tersebut menunjukkan pengagungan. Hal ini karena huruf <em>mim</em> menunjukkan makna <em>jama’</em>, yaitu dengan seluruh nama dan sifat Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Banyak bukti dalam bahasa Arab bahwa huruf <em>mim</em> menunjukkan makna <em>jama’</em>. Misalnya, kata-kata sebagai berikut:</p>
<p>– أَنْت kata tunggal (<em>mufrod</em>), jika hendak dibuat bentuk jamak menjadi أَنْتُم.</p>
<p>– هُو kata tunggal (<em>mufrod</em>), jika hendak dibuat bentuk jamak menjadi هم.</p>
<p>– لَمّ mengandung makna <em>menggabungkan</em> seperti dalam surat Al-Fajr: 19.</p>
<p>– الْأُم juga menunjukkan makna <em>menggabungkan</em>. Oleh karena itu, Al-Fatihah disebut sebagai <em>Ummul Qur’an.</em> Makkah disebut sebagai <em>Ummul Qura</em>. <em>Al-Lauhul Mahfuzh</em> disebut sebagai <em>Ummul Kitab </em>[2].</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>Rahimahullah</em> menjelaskan bahwa seorang hamba yang berdoa kepada Allah <em>Ta’ala </em>semata dengan menyeru “<i>allahumma</i> hakikatnya ia memohon kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-Nya.</p>
<p>Maka ucapan, “<em>Allahumma inni as’aluka</em> (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu…)” dimana hakikatnya bermakna, <em>“</em>Ya Allah, yang memiliki seluruh nama-nama yang <em>husna</em> dan sifat-sifat yang <em>‘ulya</em>, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu…” [3].</p>
<p>Oleh karena itu, Ibnul Qoyyim <em>Rahimahullah </em>menukilkan beberapa riwayat salaf shaleh tentang hal ini [4],</p>
<p>“Seorang ulama <em>tabi’in</em>, Al-Hasan Al-Bashri <em>Rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">(اللهم) مجمع الدعاء</span></p>
<p>‘Lafaz <em>allahumma</em> adalah sumber doa’</p>
<p>Seorang imam besar, murid Ibnu Abbas <em>Radhiyallahu ‘anhu, </em>Abu Raja’ Al-‘Utharidi <em>Rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إن الميم في قوله : (اللهم) فيها تسعة و تسعون اسما من أسماء الله تعالى</span></p>
<p>‘Sesungguhnya huruf<em> mim</em> pada ucapan <em>allahumma </em>di dalamnya terdapat 99 nama Allah <em>Ta’ala.’</em></p>
<p>Ulama nahwu sekaligus seorang hakim, An-Nadhr bin Syumail<em> Rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">من قال (اللهم) فقد دعا الله بجميع أسمائه</span></p>
<p>‘Barangsiapa yang mengatakan <em>allahumma,</em> pada hakikatnya ia telah berdoa kepada Allah <em>Ta’ala </em>dengan menyebut seluruh nama-Nya’.”</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/72516-perbanyaklah-bersujud-kepada-allah.html">Perbanyaklah Bersujud kepada Allah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Apakah disyariatkan berzikir dengan hanya menyebut nama “الله” saja?</strong></span></h2>
<p>Tidak disyariatkan berzikir hanya dengan menyebut nama الله saja. Misalnya, berzikir hanya dengan menyebut, “Allah, Allah, Allah…!”</p>
<p>Sebagian orang berzikir dengan cara ini. Mereka mengulang-ulang <em>lafzhul jalalah</em> الله berkali-kali. Terkadang mereka malah berzikir bersama sambil duduk atau berdiri, bergoyang kepalanya ke kanan dan ke kiri, bahkan saking cepatnya sehingga tidaklah tersisa kecuali lafaz <em>huwa</em>, <em>huwa</em>, <em>huwa</em>, atau kurang dari itu.</p>
<p>Zikir seperti ini bukanlah ajaran Islam karena tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam.</em> Pada riwayat yang sahih tentang zikir, <em>lafzhul jalalah</em> “الله” tidaklah disebutkan dengan sendirian, kecuali selalu disebutkan bersama dengan kata lainnya. Misalnya seperti <em>subhanallah, allhamdulillah, allahu akbar, astaghfirullah</em>, dan lainnya.</p>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/72538-macam-macam-sesembahan-selain-allah-taala.html">Macam-Macam Sesembahan selain Allah Ta’ala</a></strong></li>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/71889-allah-tidak-perlu-dibela.html">Allah Tidak Perlu Dibela?</a></strong></li>
</ul>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Sa’id Abu Ukkasyah</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><em>Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna</em>, hal. 34, DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar <em>Hafizhahullah</em></p>
<p><em>Fiqhul Asma’il Husna</em>, Syekh Abdur Razzaaq <em>Hafizhahullah</em></p>
<p><em>Syarhul Asma’il Husna</em>, DR. Sa’id Al-Qohthani <em>Hafizhahullah</em></p>
<p><em>Asma’ullahul Husna lilImam Ibnil Qoyyim</em>, ‘Imad Al-Barudi <em>Hafizhahullah</em></p>
<p><em>Tafsir Asma’illahil Husna</em>, Syekh As-Sa’di <em>Rahimahullah,</em> ‘Ubaid bin Ali Al-‘Ubaid <em>hafizhahullah</em></p>
<p><a href="https://www.alukah.net/sharia/0/126372/%D9%86%D8%B8%D9%85-%D9%85%D9%88%D8%A7%D8%B6%D8%B9-%D8%B0%D9%83%D8%B1-%D9%84%D9%81%D8%B8%D8%A9-%22%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%85%22-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%B1%D8%A2%D9%86-%D9%88%D8%A8%D9%8A%D8%A7%D9%86-%D9%85%D8%B9%D9%86%D8%A7%D9%87%D8%A7/#ixzz7MMAspPo1">https://www.alukah.net/sharia/0/126372/</a></p>
<p><a href="https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/64836/">https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/64836/</a></p>
<p><a href="https://www.alukah.net/sharia/0/110575/%D9%84%D9%81%D8%B8-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%84%D8%A7%D9%84%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D8%B2-%D9%88%D8%AC%D9%84/#ixzz7MMK1aZ2S">https://www.alukah.net/sharia/0/110575/</a> <a href="https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/187369/">https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/187369/</a></p>
<p><a href="https://kalemtayeb.com/safahat/item/1297">https://kalemtayeb.com/safahat/item/1297</a></p>
<p><a href="https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/72571/">https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/72571/</a></p>
<p><a href="https://bit.ly/35mEh1a">https://bit.ly/35mEh1a</a></p>
<p><a href="https://bit.ly/3Ce5dfj">https://bit.ly/3Ce5dfj</a></p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
[1] Meski terkadang disebutkan dalam sya’ir يا اللهم tapi ini jarang sekali (https://tafsir.app/ibn-alqayyim/3/26).
[2] <a href="https://www.alukah.net/sharia/0/126372/%D9%86%D8%B8%D9%85-%D9%85%D9%88%D8%A7%D8%B6%D8%B9-%D8%B0%D9%83%D8%B1-%D9%84%D9%81%D8%B8%D8%A9-%22%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%85%22-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%B1%D8%A2%D9%86-%D9%88%D8%A8%D9%8A%D8%A7%D9%86-%D9%85%D8%B9%D9%86%D8%A7%D9%87%D8%A7/#ixzz7MMAspPo1">https://www.alukah.net/sharia/0/126372/</a>.
[3] <em>Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna</em>, hal. 34, DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar.
[4] <em>Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna</em>, hal. 35 DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar.
 