
<p><em>Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du,</em></p>
<h3>
<strong>DALIL NAMA </strong><strong>“<span style="font-size: 21pt;">الله</span>”</strong>
</h3>
<p>Dalil tentang nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” banyak jumlahnya, di antaranya adalah firman Allah dalam surah Al-Hasyr ayat 23,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ</span></p>
<p><em>“Dialah <strong>Allah</strong> tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.”</em></p>
<h3>
<strong> ASAL KATA </strong><strong><em>LAFZHUL JALAALAH</em></strong><strong> “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>”</strong>
</h3>
<p>Menurut Al-Kisa’i dan Al-Farra’ <em>rahimahumallah<a href="#_ftn1" name="_ftnref1"><strong>[1],</strong></a></em> <em>lafzhul jalaalah</em> <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">اللّٰه</span><strong>”</strong>  asalnya dari <span style="font-size: 21pt;">الإِلٰه</span> lalu hamzah dihilangkan, lalu huruf lam yang satu diidghamkan ke lam yang lainnya, sehingga menjadi satu lam saja, namun ber-<em>tasydid</em> dan dibaca tebal.</p>
<p>Sebagian ahli bahasa menyebutkan ditebalkan (di-<em>tafkhim</em>)  dalam membaca <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong> dalam rangka mengagungkan Allah <em>Ta’ala.</em></p>
<p>Dalil bahwa asal <em>lafzhul jalaalah</em> <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong> dari <span style="font-size: 21pt;">الإله</span> adalah firman Allah <em>Ta’ala</em> dalam surah An-Nisa’ ayat 171,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya <strong>Allah</strong></em><strong> adalah<em> Ilaah</em></strong><em> Yang Maha Esa.” </em><a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Hamzah setelah alif lam itu dihilangkan dari <em>lafzhul jalaalah</em> <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong> karena hamzah itu berat diucapkan oleh lisan Arab sebab letaknya di tengah kata.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>Alif (setelah lam sebelum ha<em>’</em>) itu dihilangkan dalam penulisan <em>lafzhul jalaalah</em> <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong>, namun tetap ada saat diucapkan. Ini menurut pendapat ulama yang terkuat karena <em>lafzhul jalaalah</em> <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong>   banyak diucapkan maupun ditulis. Karena sering diulang-ulang dalam tulisan itulah sehingga butuh diringankan dalam penulisannya. Maka dihilangkanlah alif dari <em>lafzhul jalaalah</em> <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong><em>.</em></p>
<p>Hal ini sebagaimana dihilangkan alif (setelah mim sebelum nun) dalam penulisan <span style="font-size: 21pt;">الرحمن</span>, meski tetap ada saat diucapkan. Dengan sebab yang sama juga, dihilangkanlah alif (setelah lam sebelum ha<em>’</em>) dalam penulisan <span style="font-size: 21pt;">إله</span> dan  <span style="font-size: 21pt;">اللهم. </span><br>
<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>Menurut Az-Zujaji <em>rahimahullah </em>bahwa <em>alif lam ta’rif</em> dimasukkan di awal <em>lafzhul jalaalah</em> <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong>, untuk menunjukkan bahwa Allah adalah <em>Ilah</em> Yang Haq, karena lafaz <span style="font-size: 21pt;">إله</span> itu umum penggunaannya, bisa untuk ilah yang hak dan bisa pula untuk ilah yang batil. Sedangkan <em>lafzhul jalaalah</em> <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong> hanya untuk nama bagi Ilah Yang Hak, yaitu Allah <em>Ta’ala</em> semata.<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></p>
<p>Adapun <span style="font-size: 21pt;">الإله</span> disini mengikuti wazan <span style="font-size: 21pt;">فِعَال</span> yang maknanya adalah sesembahan (yang berhak disembah). Hal ini berdasarkan <em>qira’ah</em> Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>terhadap surah Al-A’raf ayat 127.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَقَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ اَتَذَرُ مُوْسٰى وَقَوْمَهٗ لِيُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَيَذَرَكَ وَاٰلِهَتَكَۗ </span></p>
<p><em>“Dan para pemuka dari kaum Fir‘aun berkata, ‘Apakah Engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk berbuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan <strong>meninggalkanmu dan sesembahan-sesembahanmu</strong>?’” </em></p>
<p>Ini adalah <em>qira’ah</em> yang masyhur di tengah-tengah kaum muslimin. Namun, Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> membacanya dengan salah satu dari q<em>ira’ah sab’ah</em> lainnya, yaitu (<span style="font-size: 21pt;">وَيَذَرَكَ وَ إِلاَهَتَكَ</span>) yang artinya “<em>dan <strong>meninggalkanmu serta penyembahan terhadap dirimu</strong></em>”. Jika digabungkan dua macam <em>qira’ah,</em> ini menunjukkan bahwa beliau memahami makna <span style="font-size: 21pt;">الإله</span> adalah sesembahan (yang berhak disembah).<a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<p>Jadi <span style="font-size: 21pt;">الإله</span> artinya <span style="font-size: 21pt;">المألوه</span> yaitu <span style="font-size: 21pt;">المعبود</span> karena <span style="font-size: 21pt;">الألوهية</span> bermakana <span style="font-size: 21pt;">العبودية</span> .</p>
<p>Asal <span style="font-size: 21pt;">الألوهية</span> diambil dari:</p>
<p><span style="font-size: 21pt;">أله – يأله – إلهة – ألوهة</span> . Maka, nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” mengandung sifat <em>a</em><em>l-uluhiyyah</em> (<span style="font-size: 21pt;">الألوهية</span>), yaitu hak untuk diibadahi.<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/72516-perbanyaklah-bersujud-kepada-allah.html">Perbanyaklah Bersujud kepada Allah</a></strong></p>
<h3>
<strong>MAKNA </strong><strong><em>LAFZHUL JALAALAH</em></strong><strong> “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>”</strong>
</h3>
<p><strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>” </strong>adalah nama Allah yang khusus bagi-Nya dan mengandung sifat <em>a</em><em>l-uluhiyyah </em>(berhak diibadahi). Makhluk tidak boleh menggunakannya sebagai nama dan makhluk juga tidak boleh bersifat dengan sifat yang terkandung di dalamnya. Bahkan, <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong> adalah nama Allah <em>Ta’ala </em>yang teragung sebagaimana yang akan datang penjelasannya nanti, <em>insyaa Allah.</em></p>
<p>Ulama tafsir dari kalangan sahabat, Ibnu Abbas <em>radiyallahu ‘anhuma,</em> berkata ketika menjelaskan makna nama <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”,</strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الله ذو الألوهية والعبودية على خلقه أجمعين</span></p>
<p><em>“Allah adalah Yang bersifat dengan sifat al-uluhiyyah dan memiliki hak untuk diibadahi atas seluruh makhluk-Nya.”</em> (Dikutip oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari <em>rahimahullah </em>dalam kitab Tafsir karya beliau)</p>
<p>Makna <em>lafzhul jalaalah</em> “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” yang disampaikan Ibnu Abbas <em>radiyallahu ‘anhu</em> ini mengandung dua poin penting:</p>
<p><strong>Pertama, ditinjau dari sifat Allah yang terkandung dalam nama “</strong><span style="font-size: 21pt;"><strong>الله</strong></span><strong>”.</strong></p>
<p>Bahwa Allah adalah Tuhan yang memiliki sifat <em>a</em><em>l-uluhiyyah, </em>yaitu sifat berhak untuk diibadahi/disembah. Sifat <em>a</em><em>l-uluhiyyah</em> adalah sifat kesempurnaan yang mutlak dari segala sisi yang tidak ada aib dan kekurangsempurnaan dari segala sisi pula. Sifat <em>al-‘uluhiyyah</em> adalah sifat yang mengandung seluruh sifat-sifat keindahan, kebesaran, keagungan, kasih sayang, kebaikan, dan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allah <em>Ta’ala </em>yang lainnya.</p>
<p>Jadi, sifat <em>al-uluhiyyah</em> mengumpulkan, mengandung, dan menunjukkan kepada seluruh nama Allah <em>Ta’ala </em>yang <em>husna</em> (terindah) dan seluruh sifat-Nya yang ‘<em>ulya</em> (paling sempurna) dan mengandung penyucian Allah <em>Ta’ala </em>dari segala kesamaan dengan makhluk dan dari segala aib serta kekurangsempurnaan.</p>
<p>Karena Allah <em>Ta’ala </em>memiliki sifat <em>al-‘uluhiyyah</em> inilah yang menyebabkan Dia satu-satunya Tuhan yang berhak untuk disembah. Karena sifat ini mengandung kesempurnaan dari segala sisi, tiada duanya, dan penyucian Allah <em>Ta’ala </em>dari segala aib serta kekurangsempurnaan.</p>
<p>Dari sisi bahasa pun telah dijelaskan bahwa <em>lafzhul jalaalah</em> <strong>“</strong><span style="font-size: 21pt;">الله</span><strong>”</strong>  asalnya dari <span style="font-size: 21pt;">الإله</span> . Sehingga nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” mengandung sifat <em>a</em><em>l-uluhiyyah</em> (<span style="font-size: 21pt;">الألوهية</span>), yaitu hak untuk diibadahi.</p>
<p><strong>Kedua, ditinjau dari tuntutan atas diri hamba dan sifat hamba.</strong></p>
<p>Makna <em>lafzhul jalaalah</em> “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>”, jika ditinjau dari tuntutan atas diri hamba dan sifat hamba adalah sebagai berikut:</p>
<p>Bahwa karena Allah <em>Ta’ala </em>satu-satunya Tuhan yang memiliki sifat <em>al-uluhiyyah,</em> yaitu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah (diibadahi), maka nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” mengandung tuntutan kewajiban atas diri hamba. Sekaligus ini menjadi sifat yang melekat pada diri hamba, yaitu <em>al-‘ubudiyyah</em> (menghamba atau beribadah) hanya kepada Allah <em>Ta’ala </em>semata.</p>
<p>Nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” yang mengandung sifat <em>al-uluhiyyah</em> mengandung tuntutan bahwa wajib bagi kita sebagai hamba-Nya untuk mempersembahkan segala macam ibadah, baik ibadah zahir maupun batin, hanya kepada-Nya semata karena Allah <em>Ta’ala </em>adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah (diibadahi).</p>
<p>Tidaklah kita berdoa, kecuali kepada-Nya saja. Tidaklah kita kembali saat tertimpa musibah dan kesulitan, kecuali kepada-Nya semata. Tidaklah kita bertawakal, kecuali kepada-Nya saja. Tidaklah kita memohon perlindungan dari segala keburukan, kecuali kepada-Nya saja. Tidaklah kita menundukkan dan merendahkan diri dengan ketundukan dan perendahan diri jenis ibadah, kecuali kepada-Nya semata. Karena Allah <em>Ta’ala </em>adalah Yang Mahasempurna dari segala sisi dan disucikan dari aib dan kekurangsempurnaan dari segala sisi pula, yang semua ini terkandung dan terkumpul dalam sifat <em>al-uluhiyyah.</em></p>
<p>Intinya, kita sebagai hamba Allah <em>Ta’ala</em>, tugas dan kewajiban kita adalah menghamba kepada Allah semata, beribadah, serta menyembah kepada-Nya saja. Ini sesuai dengan akar bahasa hamba Allah, yaitu <span style="font-size: 21pt;">عبد الله</span> dari<span style="font-size: 21pt;"> عبد – يعبد – عبادة. </span>Sehingga, tugas <em>‘abdullah</em> (hamba Allah) adalah beribadah kepada Allah <em>Ta’ala </em>semata.</p>
<p>Ingatlah bahwa tujuan hidup kita adalah beribadah hanya kepada Allah <em>Ta’ala </em>semata. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ</span></p>
<p>”<em>Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)”. </em>(QS. Adz-Dzaariyaat: 56).</p>
<p>Sedangkan ibadah menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ</span></p>
<p><em>“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup setiap perkara yang <strong>dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala</strong>, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang zahir (anggota tubuh yang tampak).”</em></p>
<p>Jadi, inti ibadah itu adalah <strong>mempersembahkan</strong> kepada Allah<em> Ta’ala</em> semata <strong>segala hal yang dicintai dan diridai-Nya</strong>. Dengan demikian, tuntutan yang terkandung dalam nama “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” atas hamba-Nya adalah bagaimana ucapan dan perbuatan seorang hamba dalam 24 jam dicintai dan diridai oleh Allah <em>Ta’ala.</em> Inilah hakikat penghambaan dan peribadatan kita kepada Allah <em>Ta’ala</em> semata.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/72538-macam-macam-sesembahan-selain-allah-taala.html">Macam-Macam Sesembahan selain Allah Ta’ala</a></strong></p>
<h3>
<strong>DALIL DARI MAKNA </strong><strong><em>LAFZHUL JALAALAH</em></strong><strong> “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>”</strong>
</h3>
<p>Makna <em>lafzhul jalaalah</em> “<span style="font-size: 21pt;">الله</span>” yang disampaikan oleh ulama tafsir dari kalangan sahabat, yaitu Ibnu Abbas <em>radiyallahu ‘anhuma</em> tersebut, sesungguhnya berdasarkan dalil-dalil yang menggabungkan antara sifat <em>al-‘uluhiyyah</em> yang ada pada Allah <em>Ta’ala </em>dengan kewajiban ibadah (<em>al-‘ubudiyyah</em>) atas hamba-Nya.</p>
<p>Di antara dalil hal itu adalah firman Allah <em>Ta’ala,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ</span></p>
<p><em>“Sungguh, Aku ini Allah<strong>, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku</strong> dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.”</em> (QS. Thaha: 14)</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ</span></p>
<p><em>“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum Engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa <strong>tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku</strong>.”</em> (QS. Al-Anbiya’ : 25)</p>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/71889-allah-tidak-perlu-dibela.html">Allah Tidak Perlu Dibela?</a></strong></li>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/71591-sifat-murka-bagi-allah.html">Sifat Murka Bagi Allah</a></strong></li>
</ul>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Sa’id Abu Ukkasyah</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a>  <em>Fathul Majid,</em> karya Syekh Abdur Rahman Alusy Syaikh <em>rahimahullah.</em></p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a>  <em>Al-Haqqul Wadhih Al-Mubin</em> ( <a href="https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/64836/">https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/64836/</a>  )</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> <a href="https://www.alukah.net/literature_language/0/80377/#ixzz7KlElWyB6">https://www.alukah.net/literature_language/0/80377/#ixzz7KlElWyB6</a></p>
<p><a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> <em>Dalilul Hairan ‘Ala Maurizh Zham’an, </em>Ibrahim At-Tunisi<em> rahimahullah </em>(hal. 37) dan Al-Anbari <em>rahimahullah </em>dalam <em>Al-Bayan fi Gharib I’rabil Qur’an </em>(1: 32), serta As-Syathibi <em>rahimahullah</em> di <em>Aqilah Atrabil Qashaid Fi Asnal Maqashid Fi ‘Ilmi Tasmil Mashahif, </em>hal. 14</p>
<p><a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> http://www.alfaseeh.com/vb/showthread.php?t=64126</p>
<p><a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> <em>At-Tamhid</em>, karya Shaleh Alusy Syaikh <em>rahimahullah</em></p>
<p><a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a>  <em>At-Tamhid</em>, hal. 18 dan<em> Syarah Tsalatsatul Ushul</em>, hal. 56,  karya Syekh Shaleh Alus Syaikh <em>hafizhahullah</em></p>
 