
<h4><span style="color: #ff0000;"><b> Dasar kedua Definisi Ibadah</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari definisi tauhid dalam matan kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Kasyfusy Syubuhat </span></i><span style="font-weight: 400;">yang telah disebutkan, dapat kita ambil kesimpulan bahwa memahami istilah ibadah dengan benar adalah sebuah perkara yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itulah, dalam dua belas kaidah atau materi pokok yang terdapat dalam bagian pembukaan, penyusun sebutkan perkara dasar yang kedua adalah definisi ibadah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">di dalam kitabnya </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-‘Ubudiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, halaman 4 menjelaskan definisi ibadah sebagai berikut.</span></p>
<p style="text-align: right;">اسم جامع لكل ما يحبه الله و يرضاه من الأقوال و الأعمال الباطنة و الظاهرة</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sebuah nama yang mencakup seluruh perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah,baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang batin (hati)</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">maupun yang lahir”.</span></i></p>
<h5><b>Faedah</b></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari definisi di atas dapat diambil faedah sebagai berikut</span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Inti ibadah adalah adanya dalil yang menunjukkan bahwa suatu perkara itu adalah perkara yang dicintai oleh Allah. Sedang sesuatu perkara dapat dikategorikan sebagai perkara yang dicintai oleh Allah, jika terdapat dalam syari’at Islam, bisa dalam bentuk bahwa dalam syari’at, perkara itu diperintahkan, pelakunya dipuji, pelakunya diberi pahala atau perkara maupun pelakunya dicintai oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala.</span></i>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Macam-macam ibadah adalah:</span>
<ol>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">Qaulul Qalbi</span></i><span style="font-weight: 400;"> (ucapan hati)</span><b>:</b><span style="font-weight: 400;"> contohnya adalah keyakinan dan pembenaran hati.</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">Amalul Qalbi </span></i><span style="font-weight: 400;">(amal hati)</span><b>: </b><span style="font-weight: 400;">contohnya adalah niat, ikhlas, tawakkal, takut, cinta, harap, dan segala yang berupa gerakan hati yang membuahkan amalan badan dan ucapan lisan.</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">Qoulul Lisan</span></i><span style="font-weight: 400;"> (ucapan lisan):</span> <span style="font-weight: 400;">contohnya adalah ucapan syahadat, membaca Al-Qur`an, berdzikir, dan yang lainya.</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">Amalul Jawarih </span></i><span style="font-weight: 400;">(amal anggota tubuh): contohnya adalah shalat, puasa, zakat, haji, dan yang lainya.</span>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari empat macam ibadah di atas, dapat disimpulkan bahwa,</span></p>
<ul>
<li><span style="font-weight: 400;">Ibadah ditinjau dari lahir atau batinnya terbagi menjadi dua, yaitu ibadah lahir (anggota tubuh lahir) dan ibadah batin (hati).</span></li>
<li>Ibadah ditinjau dari ucapan atau perbuatan, terbagi menjadi dua pula, yaitu <em>ibadah qauliyyah</em> (ucapan) dan <em>ibadah ‘amaliyah</em> (perbuatan).</li>
</ul>
<ol start="3">
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Keempat macam ibadah tersebut, jika dilaksanakan dengan benar dan dipersembahkan kepada Allah semata berarti Tauhid, sedangkan jika ibadah-ibadah tersebut dipersembahkan kepada selain Allah, maka berarti itu adalah syirik, karena definisi syirik dalam peribadatan (</span><i><span style="font-weight: 400;">uluhiyah</span></i><span style="font-weight: 400;">) adalah</span> <i><span style="font-weight: 400;">memalingkan peribadatan kepada selain Allah</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Karena definisi syirik dalam peribadatan (</span><i><span style="font-weight: 400;">uluhiyah</span></i><span style="font-weight: 400;">) adalah</span> <i><span style="font-weight: 400;">memalingkan peribadatan kepada selain Allah,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan karena ibadah terbagi dua,  yaitui badah lahir dan batin, maka syirik juga ada yang lahir dan yang batin, sehingga seseorang bisa saja keluar dari agama Islam dengan syirik batin, karena ia telah memalingkan ibadah batin kepada selain Allah.</span>
</li>
</ol>
<h5>
<b>Tauhid adalah inti ajaran Islam, agama para rasul </b><b><i>‘alaihimush shalatu was salam </i></b>
</h5>
<p><b>Petikan Matan</b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;"> وهو دين الرسل الذي أرسلهم الله به إلى عباده</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">“Tauhid adalah agama para rasul yang dengannya Allah utus mereka kepada hamba-hamba-Nya”</span></p>
<p><b>Penjelasan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah menjelaskan definisi tauhid uluhiyah, maka penulis </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menyampaikan bahwa tauhid inilah yang dengannya Allah utus mereka kepada hamba-hamba-Nya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Sholeh Alusy Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">seluruh para rasul diutus membawa ajaran tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam peribadatan. Bukanlah yang menjadi pokok dari pengutusan para rasul adalah penjelasan amal-amal dibawah tingkatan tauhid, seperti halal dan haram, akan tetapi semata-mata pada asalnya mereka diutus untuk mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla, karena Tauhidullah ‘Azza wa Jalla adalah hikmah yang dikehendaki (oleh Allah) dari penciptaan jin dan manusia, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla</span></i></p>
<p style="text-align: right;">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS.Adz-Dzaariyaat: 5)</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibadah dalam ayat tersebut maksudnya adalah mentauhidkan Allah. Dalil yang menunjukkan bahwa Tauhid adalah agama para rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimush shalatu was salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan setiap rasul mendakwahkan Tauhid adalah:</span></p>
<p style="text-align: right;">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ<span style="line-height: 1.5;">    </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (sesembahan selain Allah) itu”</span></i> <span style="font-weight: 400;">(QS. An-Nahl: 36).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihish shalatu was salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menyerukan kepada umatnya untuk mentauhidkan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Dari mulai utusan Allah yang pertama, Nuh </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam –</span></i><span style="font-weight: 400;">sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-A’raaf: 59</span><i><span style="font-weight: 400;">–</span></i><span style="font-weight: 400;"> sampai utusan Allah yang terakhir, Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-A’raaf: 158. Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi inti permusuhan dan perselisihan antara para rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimush shalatu was salam</span></i> <span style="font-weight: 400;">dengan kaum musyrikin. </span></p>
<h5>
<b>Konsekuensi Tauhid dikatakan sebagai agama para rasul </b><b><i>‘alaihimush shalatu was salam </i></b>
</h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Penjelasan tentang konsekuensi Tauhid dikatakan sebagai agama para rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimush shalatu was salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah suatu perkara yang sangat penting, dengan inilah kita dapat memahami betapa ilmiah dan cerdiknya sang penulis membawakan hal ini saat menjelaskan definisi tauhid dan kedudukannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengapa demikian? Karena konsekuensi Tauhid dikatakan sebagai agama para rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimush shalatu was salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah sebagai berikut.</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Barangsiapa yang menyekutukan Allah dengan beribadah kepada selain Allah, berarti telah menentang ajaran seluruh para rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimush shalatu was salam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Barangsiapa yang menyekutukan Allah dengan beribadah kepada selain Allah, berarti telah mendustakan seluruh rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimush shalatu was salam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Mengapa? Karena mereka semuanya menyerukan tauhid dan menyatakan bahwa tauhid sebagai sebuah kebenaran, sedangkan syirik adalah sebuah kebatilan. Adapun seorang musyrik yang menyekutukan Allah, ucapan ataupun perbuatannya, seolah-olah mengatakan “</span><i><span style="font-weight: 400;">Seluruh rasul berdusta dan syirik adalah kebenaran!</span></i><span style="font-weight: 400;">” Ia tidak terima bahkan menentang jika syirik itu dilarang dan dikatakan sebuah kebatilan[1. Disimpulkan dari <em>Syarh Kasyf Asy-Syubuhat</em>, Syaikh  Sholeh Alusy Syaikh, hal. 44-45].</span>
</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>(bersambung)</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>____</p>
 