
<p style="text-align: center;">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dunia usaha dan bisnis yang sukses sering diidentikkan dengan gaya  hidup mewah, glamor, cinta dunia yang berlebihan, dan ambisi yang tidak  pernah puas untuk terus mengejar harta. Bahkan, sebagian dari para ulama  menyifati dunia bisnis sebagai urusan dunia yang paling besar pengaruh  buruknya dalam menyibukkan dan melalaikan manusia dari mengingat Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. [1]</p>
<p>Hal ini dikarenakan bisnis yang sukses akan mendatangkan keuntungan  harta yang berlimpah, yang tentu saja ini merupakan ancaman fitnah  (kerusakan) besar bagi seorang hamba yang tidak memiliki benteng iman  yang kokoh untuk menghadapi dan menangkal fitnah tersebut.</p>
<p>Bahkan, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> secara  khusus memperingatkan umat beliau dari besarnya bahaya fitnah harta dan  kedudukan duniawi dalam merusak agama dan keimanan seseorang dalam sabda  beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِه</p>
<p>“<em>Tidaklah dua ekor serigalaِ kelaparan yang dilepaskan kepada  kambing lebih besar kerusakan (bahaya)nya terhadap kambing tersebut,  dibandingkan dengan (sifat) rakus seorang manusia terhadap harta dan  kedudukan (dalam merusak/membahayakan) agamanya.</em>“[2]</p>
<p>Timbulnya kerusakan ini dikarenakan kerakusan terhadap harta dan  kedudukan akan memacu seseorang untuk terus mengejar dunia dan  menjerumuskannya kepada hal-hal yang merusak agamanya, karena umumnya,  sifat inilah yang membangkitkan dalam diri seseorang sifat sombong dan  selalu berbuat kerusakan di muka bumi, yang sangat tercela dalam agama.[3] Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوّاً  فِي الْأَرْضِ وَلا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ</p>
<p>“<em>Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak  ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi,  dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang  bertakwa</em>.” (QS. Al-Qashash: 83)</p>
<p>Kenyataan inilah yang seharusnya menjadikan seorang muslim yang  menghendaki kebaikan dan keselamatan dirinya, utamanya kalangan yang  menggeluti dunia usaha dan bisnis, untuk selalu waspada dan introspeksi  diri, serta tidak terlalu percaya diri (bersandar kepada kemampuan diri)  dalam hal ini, dengan merasa imannya kuat dan aman dari kemungkinan  terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Cukuplah sikap percaya diri yang  berlebihan seperti ini menjadi bukti rapuhnya keimanan dalam hati dan  pertanda jauhnya taufik dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> kepada hamba tersebut!!</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim berkata, “<em>Al-‘Arifun</em> (orang-orang yang  memiliki pengetahuan yang dalam tentang Allah dan agama-Nya) telah  bersepakat (mengatakan) bahwa (arti) taufik itu adalah dengan Allah  tidak menyandarkan (urusan) kita kepada diri kita sendiri, dan  (sebaliknya arti) <em>al-khidzlan</em> (berpalingnya Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dari hamba) adalah dengan Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada  diri kita sendiri (tidak bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)…”[4]</p>
<p>Inilah makna doa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang terkenal dan termasuk doa yang dianjurkan untuk dibaca pada waktu  pagi dan petang, “…(Ya Allah,) jadikanlah baik semua urusanku dan  janganlah Engkau membiarkan aku bersandar kepada diriku sendiri  (meskipun cuma) sekejap mata.”[5]</p>
<p>Tidakkah orang yang beriman mengkhawatirkan dirinya akan kemungkinan  ditimpa kerusakan dalam agama dan imannya sebagai akibat dari fitnah  harta. Padahal, hamba Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang paling sempurna imannya, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, mengkhawatirkan hal ini menimpa umatnya, sebagaimana doa beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">ولا تَجْعَلْ مُصيبَتَنَا في دِيْنِنا ، ولا تَجْعَلِ الدُّنْيا أَكْبَرَ همِّنا</p>
<p>“<em>(Ya Allah) janganlah Engkau jadikan malapetaka (kerusakan) yang  menimpa kami dalam agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia (harta  dan kedudukan[6]) sebagai target utama kami.</em>“[7]</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Fitnah harta dan dunia</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.</em>”</p>
<p>Maksudnya: menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah  fitnah (yang merusak agama seseorang) karena harta dapat melalaikan  pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.</em>” (QS. At-Taghabun:15)[8]</p>
<p>Dalam hadits lain, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan  merusak agama) kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah  jika (perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian  sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum  kalian, maka kalian pun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia  sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga  dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka.”[9]</p>
<p>Arti sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m “… <em>sehingga dunia itu membinasakan kalian</em>”  adalah dunia menjerumuskan kalian ke dalam (jurang) kebinasaan  disebabkan oleh persaingan yang tidak sehat untuk mendapatkannya,  kecintaan yang berlebihan terhadapnya, dan kesibukan dalam mengejarnya,  sehingga melalaikan dari mengingat Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> dan balasan di akhirat.[10]</p>
<p>Dalam hadits ini terdapat nasihat berharga bagi orang yang dibukakan  baginya pintu-pintu harta, yaitu agar hendaknya dia bersikap waspada  dari keburukan fitnah dan kerusakan harta, dengan tidak berlebihan dalam  mencintainya dan terlalu berambisi dalam berlomba-lomba mengejarnya.[11]</p>
<p>Kerusakan lain yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan  terhadap harta adalah sifat tamak/rakus dan ambisi untuk mengejar dunia,  karena secara tabiat asal, nafsu manusia tidak akan pernah merasa  puas/cukup dengan harta dan kemewahan dunia yang dimilikinya,  bagaimanapun berlimpahnya,[12] kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengingatkan hal ini dalam sabda beliau, “<em>Seandainya  seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka  dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga</em>.”[13]</p>
<p>Sifat rakus inilah yang akan terus memacunya untuk mengejar harta dan  mengumpulkannya siang dan malam, dengan mengorbankan apa pun untuk  tujuan tersebut. Akibatnya, tenaga dan pikirannya akan terus terkuras  untuk mengejar ambisi tersebut, dan ini merupakan kerusakan sekaligus  siksaan besar bagi dirinya di dunia.</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Orang yang mencintai  dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan  dan penderitaan): kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang,  keletihan yang berkepanjangan, dan penyesalan yang tiada akhirnya.[14]</p>
<p>Dalam hal ini, salah seorang ulama salaf  berkata, “Barangsiapa yang  mencintai dunia/harta (secara berlebihan) maka hendaknya dia  mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan.”[15]</p>
<p><strong>Memanfaatkan harta untuk meraih ketakwaan kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em></strong></p>
<p>Perlu dicamkan di sini, bahwa ayat-ayat al-Qur-an dan hadits-hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  yang berisi celaan terhadap harta dan dunia, bukanlah memaksudkan bahwa  celaan terhadap zat harta dan dunia itu sendiri, tetapi maksudnya  adalah kecintaan yang berlebihan terhadapnya sehingga melalaikan manusia  dari mengingat Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, dan tidak menunaikan hak Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> padanya,[16] sebagaimana firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ</p>
<p>“<em>Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak  menginfakkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka,  (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.</em>” (QS. At-Taubah: 34)</p>
<p>Imam Ibnu Muflih Al-Maqdisi berkata, “Dunia (harta) tidaklah dilarang  (dicela) pada zatnya, tetapi karena (dikhawatirkan) harta itu  menghalangi (manusia) untuk mencapai (ridha) Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>,  sebagaimana kemiskinan tidaklah dituntut (dipuji) pada zatnya, tetapi  karena kemiskinan itu (umumnya) tidak menghalangi dan menyibukkan  (manusia) dari (beribadah kepada) Allah. Betapa banyak orang kaya yang  kekayaannya tidak menyibukkannya dari (beribadah kepada) Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala,</em> seperti Nabi Sulaiman <em>‘alaihis salam</em>. Demikian pula (sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) ‘Utsman (bin ‘Affan) <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.  Serta, betapa banyak orang miskin yang kemiskinannya (justru)  melalaikannya dari beribadah kepada Allah dan memalingkannya dari  kecintaan serta kedekatan kepada-Nya…”[17]</p>
<p>Bahkan, banyak ayat Al-Quran dan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang berisi pujian terhadap orang yang memiliki harta dan menggunakannya untuk mencapai ridha Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, di antaranya:</p>
<p><strong>1.</strong> Firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ  وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا  تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ</p>
<p>“<em>Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula)  oleh jual-beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan  zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan), yang (pada saat itu) hati  dan penglihatan menjadi goncang.</em>” (QS. An-Nur: 37)</p>
<p>Imam Ibnu Katsir berkata, “Mereka adalah orang-orang yang tidak  disibukkan/dilalaikan oleh harta benda dan perhiasan dunia, serta  kesenangan berjual-beli (berbisnis) dan meraih keuntungan (besar) dari  mengingat (beribadah) kepada <em>Rabb</em> mereka (Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>)  Yang Maha Menciptakan dan Melimpahkan rezeki kepada mereka, dan mereka  adalah orang-orang yang mengetahui (meyakini) bahwa (balasan kebaikan)  di sisi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>adalah lebih baik dan lebih  utama daripada harta benda yang ada di tangan mereka, karena sesuatu  yang ada di tangan mereka akan habis/musnah sedangkan balasan di sisi  Allah adalah kekal abadi.”[18]</p>
<p>Imam Al-Qurthubi berkata, “Dianjurkan bagi seorang pedagang  (pengusaha) untuk tidak disibukkan/dilalaikan dengan perniagaan  (usaha)nya dari menunaikan kewajiban-kewajibannya. Oleh karenanya,  ketika tiba waktu shalat <em>fardhu</em>, hendaknya dia (segera)  meninggalkan perniagaannya (untuk menunaikan shalat), agar dia termasuk  ke dalam golongan orang-orang (yang dipuji Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>) dalam ayat ini.”[19]</p>
<p><strong>2. </strong>Sabda Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Tidak ada<em> hasad</em>/iri[20] (yang terpuji) kecuali kepada dua orang: (yang pertama adalah) orang  yang Allah anugerahkan kepadanya harta lalu dia menginfakkan hartanya di  (jalan) yang benar (di jalan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>), dan  (yang kedua adalah) orang yang Allah anugerahkan kepadanya ilmu lalu dia  mengamalkannya dan mengajarkannya (kepada orang lain).”[21]</p>
<p><strong>3.</strong> Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dia berkata, “Ibuku (Ummu Sulaim <em>radhiyallahu ‘anha</em>) pernah berkata, ‘(Wahai Rasulullah), berdoalah kepada Allah untuk (kebaikan) pelayan kecilmu ini (Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>).’” Anas berkata, “Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun berdoa (meminta kepada Allah) segala kebaikan untukku, dan doa  kebaikan untukku yang terakhir beliau ucapkan, ‘Ya Allah, perbanyaklah  harta dan keturunannya, serta berkahilah harta dan keturunan yang Engkau  berikan kepadanya.’” Anas berkata, “Demi Allah, sungguh aku memiliki  harta yang sangat banyak, dan sungguh anak dan cucuku saat ini  (berjumlah) lebih dari seratus orang.”[22]</p>
<p>Hadits ini menunjukkan keutamaan memiliki banyak harta dan keturunan yang diberkahi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>dan tidak melalaikan manusia dari ketaatan kepada-Nya,[23] karena Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak mungkin mendoakan keburukan untuk sahabatnya, dan Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> sendiri menyebutkan ini sebagai doa kebaikan. Oleh karena itulah, Imam  An-Nawawi mencantumkan hadits ini dalam bab “Keutamaan Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>”.[24]</p>
<p><strong>4.</strong> Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dia berkata, “Orang-orang miskin (dari para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) pernah datang menemui beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  orang-orang (kaya) yang memiliki harta yang berlimpah bisa mendapatkan  pahala (dari harta mereka), kedudukan yang tinggi (di sisi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>),  dan kenikmatan yang abadi (di surga), karena mereka melaksanakan shalat  seperti kami melaksanakan shalat dan mereka juga berpuasa seperti kami  berpuasa, tetapi mereka memiliki kelebihan harta yang mereka gunakan  untuk menunaikan ibadah haji, umrah, jihad, dan sedekah, sedangkan kami  tidak memiliki harta.…” Dalam riwayat Imam Muslim, di akhir hadits ini  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Itu adalah karunia (dari) Allah yang diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.”[25]</p>
<p>Dalam hadits ini, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak mengingkari ucapan para sahabat tersebut tentang pahala dan  keutamaan besar yang diraih oleh orang-orang kaya pemilik harta yang  menginfakkannya di jalan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, bahkan di akhir hadits ini Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memuji perbuatan mereka. Oleh karena itu, Imam Ibnu Hajar –ketika  menjelaskan hadits ini– berkata, “Dalam hadits ini (terdapat dalil yang  menunjukkan) lebih utamanya orang kaya yang menunaikan hak-hak (Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>)  pada (harta) kekayaannya dibandingkan orang miskin, karena berinfak di  jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits di atas) hanya bisa  dilakukan oleh orang kaya.”[26]</p>
<p><strong>Antara kaya dan miskin</strong></p>
<p>Siapakah yang lebih utama di sisi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>: orang kaya yang bersyukur dengan kekayaannya atau orang miskin yang bersabar dengan kemiskinannya?</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, ada yang lebih  mengutamakan orang kaya yang bersyukur dan ada yang lebih mengutamakan  orang miskin yang bersabar. Kedua pendapat ini juga dinukil dari ucapan  Imam Ahmad bin Hambal.[27]</p>
<p>Kedua pendapat ini masing-masing memiliki berbagai argumentasi dari Al-Quran dan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang sama kuatnya, sehingga para ulama ahli <em>tahqiq</em> (yang terkenal dengan ketelitian dalam berpendapat) tidak menguatkan  salah satu di antara dua pendapat tersebut, tetapi mereka memilih  pendapat yang menggabungkan keduanya, yaitu: yang lebih utama di antara  keduanya adalah yang paling besar ketakwaannya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, berdasarkan keumuman makna firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu</em>.” (QS. Al-Hujurat: 13)</p>
<p>Maka, orang kaya yang lebih besar rasa syukurnya lebih utama  dibanding orang miskin yang lebih sedikit kesabarannya dan sebaliknya.</p>
<p>Pendapat inilah yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah dan dua murid beliau, yaitu Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah[28] dan Ibnu Muflih Al-Maqdisi[29].</p>
<p>Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Telah terjadi perbedaan  pendapat di kalangan kebanyakan (ulama) zaman sekarang tentang siapakah  yang lebih utama: orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang  bersabar. Sebagian dari para ulama dan ahli ibadah menguatkan pendapat  pertama (orang kaya yang bersyukur lebih utama), sementara ulama dan  ahli ibadah yang lain menguatkan pendapat kedua (orang miskin yang  bersabar lebih utama). Kedua pendapat ini (juga) dinukil dari Imam  Ahmad.</p>
<p>Adapun para shahabat dan tabi’in <em>radhiyallahu ‘anhum</em>, maka tidak ada satu pun nukilan dari mereka (tentang) keutamaan salah satu dari dua golongan tersebut dibanding yang lain.</p>
<p>Sekelompok ulama lainnya berkata, “Masing-masing dari keduanya tidak  ada yang lebih utama dibanding yang lain kecuali dengan ketakwaan. Maka,  yang paling kuat iman dan ketakwaannya itulah yang paling utama. Kalau  iman dan ketakwaan keduanya sama maka keutamaan keduanya pun sama.”</p>
<p>Inilah pendapat yang paling benar, karena dalil-dalil dari Al-Qur-an dan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menunjukkan (bahwa) keutamaan (manusia di sisi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dicapai) dengan keimanan dan ketakwaan. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا</p>
<p>“<em>Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu (keadaan) keduanya</em>.” (QS. An-Nisa’: 135)</p>
<p>Di antara para Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para shahabat<em> radhiyallahu ‘anhum</em> yang terdahulu dan pertama (masuk Islam), ada orang-orang kaya yang keutamaannya (di sisi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>)  lebih besar dibandingkan kebanyakan orang-orang miskin (setelah  mereka), sebagaimana di antara mereka ada orang-orang miskin yang  keutamaannya (di sisi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>) lebih besar dibandingkan kebanyakan orang-orang kaya (setelah mereka).</p>
<p>Orang-orang yang sempurna (keimanan dan ketakwaannya) mampu  menegakkan dua sifat agung tersebut (syukur dan sabar) secara sempurna  (dalam semua kondisi), seperti gambaran yang ada pada diri Nabi Muhammad  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan pada diri (dua shahabat) Abu Bakar<em> radhiyallahu ‘anhu</em> dan ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p>Akan tetapi, terkadang seseorang lebih baik baginya (dalam keimanan)  jika diberi kemiskinan, sementara orang lain lebih baik baginya jika  mendapatkan kekayaan, sebagaimana kesehatan lebih baik bagi sebagian  manusia dan penyakit lebih baik bagi yang lain…”[30]</p>
<p><strong>Teladan sempurna dari ulama salaf</strong></p>
<p>Para ulama salaf adalah sebaik-baik teladan dalam semua kebaikan dan  keutamaan dalam agama ini, tidak terkecuali dalam memanfaatkan harta dan  kekayaan untuk meraih ridha Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Di antara para ulama salaf yang terkenal dengan sifat ini adalah:</p>
<p>Pertama, shahabat yang mulia, ‘Utsman bin ‘Affan bin Abil ‘Ash Al-Umawi <em>radhiyallahu ‘anhu</em> (wafat tahun 35 H), salah seorang dari <em>Al-Khulafa Ar-Rasyidin </em>dan sepuluh orang shahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau <em>radhiyallahu ‘anhu</em> sangat terkenal dengan kekayaan dan kedermawanan.</p>
<p>Beliaulah yang membeli sumur Rumah dari pemiliknya yang seorang Yahudi, untuk air minum bagi kaum muslimin, dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjanjikan bagi beliau balasan air minum di surga kelak.</p>
<p>Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memperluas Mesjid Nabawi, ‘Utsman <em>radhiyallahu ‘anhu</em> menyumbangkan hartanya untuk membeli tanah perluasan mesjid tersebut.</p>
<p>Beliau juga yang membiayai persiapan jihad pasukan <em>Al-‘Usrah</em> dalam perang Tabuk, yaitu sebanyak 950 ekor unta dan 50 ekor kuda. Sehingga setelah itu Rasulullah s<em>hallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda berkali-kali, “Tidak akan merugikan ‘Utsman apa (pun) yang dilakukannya setelah hari ini.”[31],[32]</p>
<p>Kedua, shahabat yang mulia, ‘Abdurrahman bin ‘Auf Al-Qurasyi <em>radhiyallahu ‘anhu</em> (wafat tahun 32 H), salah seorang dari sepuluh shahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan juga merupakan shahabat yang sangat terkenal dengan kekayaan dan kedermawanan.</p>
<p>Imam Az-Zuhri berkata, “Di masa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  ‘Abdurrahman bin ‘Auf pernah bersedekah dengan separuh dari harta  beliau (yaitu sebesar) empat ribu dinar, lalu beliau bersedekah (lagi)  dengan (harta sebesar) empat puluh ribu dinar. Kemudian beliau  menanggung (biaya seharga) lima ratus ekor kuda (untuk keperluan  berjihad) di jalan Allah. Setelah itu, beliau menanggung (biaya seharga)  lima ratus ekor unta (untuk keperluan berjihad) di jalan Allah.  Sebagian besar hasil kekayaan beliau (diperolehnya) dari (usaha)  perniagan.[33]</p>
<p>Ketiga, ‘Ali bin Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib Al-Hasyimi Al-Madani (wafat tahun 94 H),[34] putra dari cucu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang terkenal, Husein bin ‘Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dan Imam besar dari kalangan <em>Tabi’in</em> (murid para shahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>), serta sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.[35] Beliau sangat terkenal dengan ketekunan beribadah sehingga digelari sebagai <em>zainul ‘abidin</em> (perhiasan bagi para ahli ibadah).[36]</p>
<p>Termasuk amal ibadah agung yang sering beliau lakukan adalah banyak  bersedekah untuk orang-orang miskin penduduk Madinah, sehingga sewaktu  beliau wafat dan jenazah beliau dimandikan, terlihat di punggung beliau  bekas-bekas berwarna hitam pada kulit beliau, karena semasa hidupnya  beliau sering memikul karung berisi tepung (makanan) untuk disedekahkan  kepada orang-orang miskin, di malam hari secara sembunyi-sembunyi.[37]</p>
<p>Bahkan, semasa hidupnya beliau menanggung biaya seratus keluarga  miskin di Madinah. Sampai-sampai, orang menyangka beliau kikir dan suka  menimbun harta, karena beliau selalu menyembunyikan sedekah beliau.[38]</p>
<p>Keempat, Yunus bin ‘Ubaid bin Dinar Al-Bashri (wafat tahun 139 H)[39], imam panutan yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, serta sangat <em>wara’</em> (hati-hati dalam masalah halal dan haram).[40]</p>
<p>Beliau adalah seorang pedagang kain yang sangat jujur dan selalu  menjelaskan cacat barang dagangan beliau sebelum terjadi jual beli[41].  Bahkan, karena kejujurannya, beliau pernah mengembalikan uang seorang  pembeli yang membeli kain beliau dengan harga yang lebih tinggi, karena  waktu itu yang menjualnya adalah keponakan beliau.[42] Bagitu pula sebaliknya, jika beliau membeli barang dari seseorang, maka  beliau akan membayarnya dengan harga yang sesuai, meskipun orang  tersebut pada awalnya menawarkannya dengan harga yang lebih murah.[43]</p>
<p>Diriwayatkan dalam biografi beliau, bahwa suatu saat harga kain di  suatu daerah dekat Bashrah naik menjadi lebih mahal, yang mana sesuai  kebiasaan, jika daerah tersebut harga kainnya naik maka harga kain di  Bashrah pun nantinya ikut naik. Mengetahui hal itu, Yunus bin ‘Ubaid  segera membeli sejumlah besar kain kepada pedagang kain lainnya dengan  harga pasaran biasa. Setelah selesai membeli barang tersebut, beliau  bertanya kepada penjual tersebut, “Apakah engkau mengetahui bahwa harga  kain naik di daerah anu?” Penjual tersebut menjawab, “Tidak, kalau saja  aku tau tentu aku tidak akan menjualnya kepadamu.” Maka Yunus bin ‘Ubaid  berkata, “(Kalau begitu) kembalikan uangku padamu dan aku akan  kembalikan barangmu.”[44]</p>
<p>Kelima, ‘Abdurrahman bin Aban bin ‘Utsman bin ‘Affan Al-Umawi Al-Madani, cucu shahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang mulia, ‘Utsman bin ‘Affan <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, imam besar dari kalangan <em>atba’ut tabi’in</em> (murid para tabi’in), ahli ibadah dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.[45]</p>
<p>Musa bin Muhammad At-Taimi memuji beliau dengan mengatakan, “Aku  tidak pernah melihat (seorang lelaki) yang lebih banyak menghimpun  agama, kerajaan (kekuasaan), dan kemuliaan (nasab) melebihi ‘Abdurrahman  bin Aban.[46]</p>
<p>Beliau pernah membeli satu keluarga budak, kemudian memberikan  pakaian untuk mereka semua, setelah itu beliau berkata kepada mereka,  “Kalian (semua) aku bebaskan karena (mengharapkan) wajah Allah. Aku  menjadikan kalian sebagai (salah satu sebab) penolongku (menghadapi  dasyatnya) sakaratul maut.”[47]</p>
<p>Beliau sangat rajin beribadah, sehingga ‘Ali bin ‘Abdullah bin ‘Abbas mengagumi dan meneladani beliau dalam kebaikan.[48]</p>
<p>Keenam, Abdullah bin Al-Mubarak Al-Marwazi (wafat tahun 181 H)[49], imam besar yang ternama dari kalangan <em>atba’ut tabi’in</em> yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.  Imam Ibnu Hajar berkata, “Beliau adalah seorang yang terpercaya lagi  sangat teliti (dalam meriwayatkan hadits), orang yang memiliki ilmu dan  pemahaman (yang dalam), sangat dermawan lagi (sering) berjihad (di jalan  Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>), terkumpul padanya (semua) sifat-sifat yang baik.”[50]</p>
<p>Dalam biografi beliau disebutkan bahwa Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh  pernah bertanya kepadanya tentang sebab dia memliki perniagaan besar  dengan mengekspor barang-barang dagangan dari negeri Khurasan ke “tanah  haram” (Mekkah). Maka, Abdullah bin Al-Mubarak menjawab, “Sesungguhnya  aku melakukan itu adalah untuk menjaga mukaku (agar tidak meminta-minta  kepada orang lain), memuliakan kehormatanku, dan menggunakannya untuk  membantuku dalam ketaatan kepada Allah.”[51]</p>
<p>Ucapan beliau ini benar-benar terbukti, karena beliau sangat terkenal  dengan sifat dermawan, membantu orang miskin dengan sumbangan harta  yang sangat besar setiap tahun,[52] serta membiayai semua perbekalan orang-orang yang menunaikan ibadah haji bersama beliau.[53]</p>
<p>Termasuk kedermawanan beliau yang paling utama adalah menanggung  biaya hidup beberapa imam besar ahli hadits di zamannya, seperti Imam  Al-Fudhail bin ‘Iyadh,[54] agar mereka bisa lebih berkonsentrasi menyebarkan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada umat. Beliau berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui kemuliaan  suatu kaum (para ulama ahli hadits) yang memiliki keutamaan dan  kejujuran. Mereka (menyibukkan diri dengan) mempelajari hadits-hadits  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan benar dan  sungguh-sungguh. Kemudian (setelah itu) kebutuhan umat Islam kepada  mereka sangat mendesak (untuk mengenal petunjuk Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>),  sedangkan mereka sendiri punya kebutuhan (untuk membiayai kelurga  mereka). Jika kami tidak membantu (menanggung biaya hidup) mereka maka  ilmu mereka akan sia-sia (tidak tersebar dengan baik), tetapi kalau kami  mencukupi (biaya hidup) mereka maka mereka (bisa lebih berkonsentrasi)  menyebarkan ilmu kepada umat Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.  Aku tidak mengetahui -setelah kenabian-, tingkatan/kedudukan yang lebih  utama daripada menyebarkan ilmu (tentang sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>).”[55]</p>
<p><strong>Jadilah pengusaha yang zuhud</strong></p>
<p>Menjadi pengusaha bukanlah dengan harus menjadi miskin dan  menyia-nyiakan harta yang ada, juga bukan dengan mengharamkan apa yang  dihalalkan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Akan tetapi, bersikap zuhud adalah dengan menggunakan harta dan kekayaan yang dimiliki sesuai dengan petunjuk Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala,</em> tanpa adanya keterikatan hati dan kecintaan yang berlebihan kepada  harta dan kekayaan tersebut. Atau dengan kata lain, bersikap zuhud  adalah dengan tidak menggantungkan angan-angan yang panjang pada harta  dan kekayaan yang dimiliki, dengan bersegera menggunakannya untuk  hal-hal yang diridhai oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p>
<p>Inilah arti zuhud yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan imam Ahmad  bin Hambal ketika beliau ditanya, “Apakah makna zuhud di dunia (yang  sebenarnya)?” Beliau berkata, “(Maknanya adalah) tidak panjang  angan-angan, (yaitu) ketika seseorang berada di waktu pagi maka dia  berkata, “Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi.”[56]</p>
<p>Salah seorang ulama salaf berkata, “Zuhud di dunia bukanlah dengan  mengharamkan yang halal dan juga bukan dengan menyia-nyiakan harta. Akan  tetapi, zuhud di dunia adalah dengan kamu lebih yakin dengan (balasan  kebaikan) di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika  kamu ditimpa suatu musibah (kehilangan sesuatu yang dicintai) maka kamu  lebih mengharapkan pahala dan simpanan (kebaikannya diakhirat kelak)  daripada jika sesuatu yang hilang itu tetap ada padamu.”[57]</p>
<p>Sifat inilah yang dimiliki dengan sempurna oleh para shahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menjadikan mereka lebih mulia dan utama di sisi Allah Subhanahu wa  Ta’ala dibandingkan orang-orang yang  datang setelah mereka. Ibnu  Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, “Kalian lebih banyak  berpuasa, (mengerjakan) shalat, dan lebih bersungguh-sungguh (dalam  beribadah) dibandingkan para shahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, tetapi mereka lebih baik (lebih utama di sisi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>) daripada kalian.” Ada yang bertanya, “Kenapa (bisa demikian), wahai Abu Abdirrahman?” Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, “Karena mereka lebih zuhud dalam (kehidupan) dunia dan lebih cinta kepada akhirat.”[58]</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sebagai penutup, renungkanlah nasehat berharga dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut ini,</p>
<p>“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan  mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah  merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan  mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan  baginya. Serta, barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan  utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan  kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda)  duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di  hadapannya).”[59]</p>
<p>Akhirnya, kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan  nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna,  agar dia menganugerahkan kepada kita sifat zuhud dalam kehidupan dunia  dan cinta kepada balasan yang kekal di akhirat, serta semua sifat-sifat  baik yang diridhai-Nya, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha  Mengabulkan doa.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 17 Dzulqa’dah 1431</p>
<p>Penulis: <a href="http://manisnyaiman.com/" target="_blank">Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A.</a><br> Artikel www.pengusahamuslim.com</p>
<div>
<p> </p>
<hr size="1">
 
<p> </p>
<div>
<p>[1] Lihat: kitab <em>F</em><em>athul Qadir</em>: 4/52.</p>
</div>
<div>
<p>[2] HR. At-Tirmidzi (no. 2376), Ahmad: 3/456, Ad-Darimi (no. 2730), dan  Ibnu Hibban (no. 3228); dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban dan  Syekh Al-Albani.</p>
</div>
<div>
<p>[3] Lihat kitab <em>Faidhul Qadir</em>: 5/445.</p>
</div>
<div>
<p>[4] Kitab <em>Al Fawa`id</em> (hlm. 133, cet. Muassasah Ummil Qura, Mesir, 1424 H).</p>
</div>
<div>
<p>[5] HR. An-Nasa`i dalam <em>As-Sunan</em>:<em> </em>6/147 dan Al-Hakim dalam <em>Al Mustadrak</em> (no. 2000); dishahihkan oleh Al-Hakim, disepakati oleh Adz-Dzahabi, dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam <em>Silsilatul </em><em>A</em><em>hadits Ash-Shahihah</em> (1/449, no. 227).</p>
</div>
<div>
<p>[6] Lihat: kitab <em>Tuhfatul ahwadzi</em>: 9/334.</p>
</div>
<div>
<p>[7] HR. At-Tirmidzi (no. 3502); dinyatakan hasan oleh Imam At-Tirmidzi dan Syekh Al-Albani.</p>
</div>
<div>
<p>[8] Lihat: kitab <em>Faidhul Qadir</em>: 2/507.</p>
</div>
<div>
<p>[9] Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (no. 2988) dan Muslim (no. 2961).</p>
</div>
<div>
<p>[10] Lihat: catatan kaki kitab <em>Shahihul Bukhari</em>: 3/1152.</p>
</div>
<div>
<p>[11] Nasihat Imam Ibnu Baththal yang dinukil dalam kitab <em>Fathul Bari</em>: 11/245.</p>
</div>
<div>
<p>[12] Lihat: keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab <em>Igatsatul </em><em>L</em><em>ahfan</em> (hlm. 84, Mawaridul Aman).</p>
</div>
<div>
<p>[13] Hadits shahih Riwayat Al-Bukhari (no. 6075) dan Muslim (no. 116).</p>
</div>
<div>
<p>[14] Kitab <em>Igatsatul </em><em>L</em><em>ahfan</em> (hlm. 83–84, Mawaridul Aman).</p>
</div>
<div>
<p>[15] Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab <em>Igatsatul </em><em>L</em><em>ahfan</em> (hlm. 83, Mawaridul Aman).</p>
</div>
<div>
<p>[16] Lihat: kitab <em>Tafsir </em><em>A</em><em>l-Qurthubi</em>: 18/142 dan <em>Aisarut </em><em>T</em><em>afasir</em>:<em> </em>4/271.</p>
</div>
<div>
<p>[17] Kitab <em>Al</em><em>-Adabusy S</em><em>yar’iyyah</em>: 3/469.</p>
</div>
<div>
<p>[18] Kitab <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>: 3/390.</p>
</div>
<div>
<p>[19] Kitab <em>Tafsir </em><em>A</em><em>l-Qurthubi</em>: 5/156.</p>
</div>
<div>
<p>[20] Maksudnya adalah ”<em>al-gibthah</em>”  yaitu mengharapkan nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala  kepada orang lain tanpa hilangnya nikmat tersebut dari diri orang itu;  lihat: kitab <em>Syarhu shahiihi Muslim</em>:<em> </em>6/97.</p>
</div>
<div>
<p>[21] Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (no. 73) dan Muslim (no. 816).</p>
</div>
<div>
<p>[22] Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (no. 6018) dan Muslim (no. 2481); lafal ini yang terdapat dalam <em>Shahih Muslim</em>.</p>
</div>
<div>
<p>[23] Lihat: kitab <em>Tafsir </em><em>A</em><em>l-Qurthubi</em>: 11/80.</p>
</div>
<div>
<p>[24] Lihat: <em>Syarah </em><em>S</em><em>hahih Muslim</em>: 16/39–40.</p>
</div>
<div>
<p>[25] Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (no. 807 dan 5970) dan Muslim (no. 595).</p>
</div>
<div>
<p>[26] Kitab <em>Fathul Bari</em>: 3/298.</p>
</div>
<div>
<p>[27] Lihat: kitab <em>A</em><em>l-Adabusy S</em><em>yar’iyyah</em>: 3/468 dan ‘<em>Uddatush </em><em>S</em><em>habirin</em> (hlm. 146).</p>
</div>
<div>
<p>[28] Dalam kitab <em>‘Uddatush </em><em>S</em><em>habirin</em> (hlm. 146 dan 149).</p>
</div>
<div>
<p>[29] Dalam kitab <em>A</em><em>l-Ad</em><em>abusy S</em><em>yar’iyyah</em>: 3/468–469.</p>
</div>
<div>
<p>[30] Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab <em>‘Uddatush </em><em>S</em><em>habirin</em> (hlm. 149–150).</p>
</div>
<div>
<p>[31] HR. At-Tirmidzi (no. 3701) dan Al-Hakim (no. 4553); dinyatakan shahih  oleh Al-Hakim, disepakati oleh Adz-Dzahabi, dan dinyatakan hasan oleh  Syekh Al-Albani.</p>
</div>
<div>
<p>[32] Lihat: kitab <em>Tahdzibul </em><em>K</em><em>amal</em>: 19/450.</p>
</div>
<div>
<p>[33] Lihat: kitab <em>Tahdzibul </em><em>K</em><em>amal</em>: 17/327.</p>
</div>
<div>
<p>[34] Biografi beliau dalam kitab <em>Siyaru </em><em>A</em><em>’lamin N</em><em>ubala’</em>: 4/386 dan <em>Shifatush </em><em>S</em><em>hafwah</em>: 2/93.</p>
</div>
<div>
<p>[35] Kitab <em>Taqribut </em><em>T</em><em>ahdzib</em> (hlm. 400).</p>
</div>
<div>
<p>[36] Lihat: kitab <em>Siyaru </em><em>A</em><em>’lamin N</em><em>ubala’</em>: 4/392.</p>
</div>
<div>
<p>[37] Lihat: kitab <em>Shifatush </em><em>S</em><em>hafwah</em>: 2/96.</p>
</div>
<div>
<p>[38] Lihat: kitab <em>Siyaru </em><em>A</em><em>’lamin N</em><em>ubala’</em>: 4/394.</p>
</div>
<div>
<p>[39] Biografi beliau dalam kitab <em>Siyaru </em><em>A</em><em>’lamin N</em><em>ubala’</em>: 6/288 dan <em>Shifatush </em><em>S</em><em>hafwah</em>: 32/517.</p>
</div>
<div>
<p>[40] Kitab <em>Taqribut </em><em>T</em><em>ahdzib</em> (hlm. 613).</p>
</div>
<div>
<p>[41] Lihat: kitab <em>Siyaru </em><em>A</em><em>’lamin N</em><em>ubala’</em>: 6/290.</p>
</div>
<div>
<p>[42] Ibid: 6/289.</p>
</div>
<div>
<p>[43] Ibid.</p>
</div>
<div>
<p>[44] Ibid: 6/293.</p>
</div>
<div>
<p>[45] Biografi beliau dalam kitab <em>Tahdzibul </em><em>K</em><em>amal</em>: 16/492 dan <em>Siyaru </em><em>A</em><em>’lamin N</em><em>ubala’</em>: 5/10.</p>
</div>
<div>
<p>[46] Ibid.</p>
</div>
<div>
<p>[47] Kitab <em>Tahdzibul </em><em>K</em><em>amal</em>: 16/493.</p>
</div>
<div>
<p>[48] Kitab <em>Siyaru </em><em>A</em><em>’lamin N</em><em>ubala’</em>: 5/10–11.</p>
</div>
<div>
<p>[49] Biografi beliau dalam kitab <em>Tahdzibul </em><em>K</em><em>amal</em>: 16/5 dan <em>Siyaru </em><em>A</em><em>’lamin N</em><em>ubala’</em>: 8/378.</p>
</div>
<div>
<p>[50] Kitab <em>Taqribut </em><em>T</em><em>ahdzib</em> (hlm. 271).</p>
</div>
<div>
<p>[51] Kitab <em>Tahdzibul </em><em>K</em><em>amal</em>: 16/20 dan <em>Siyaru </em><em>A</em><em>’lamin N</em><em>ubala’</em>: 8/387.</p>
</div>
<div>
<p>[52] Lihat: kitab <em>Siyaru </em><em>A</em><em>’lamin N</em><em>ubala’</em>: 8/386.</p>
</div>
<div>
<p>[53] Ibid: 8/385–386.</p>
</div>
<div>
<p>[54] Ibid: 8/386.</p>
</div>
<div>
<p>[55] Kitab <em>Tahdzibul </em><em>K</em><em>amal</em>: 16/20 dan <em>Siyaru </em><em>A</em><em>’lamin N</em><em>ubala’</em>: 8/387.</p>
</div>
<div>
<p>[56] Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau <em>Jami’ul ‘</em><em>U</em><em>lumi wal H</em><em>ikam</em>: 2/384.</p>
</div>
<div>
<p>[57] Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau <em>Jami’ul ‘</em><em>U</em><em>lumi wal H</em><em>ikam</em>: 2/179.</p>
</div>
<div>
<p>[58] Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam <em>A</em><em>l-Mushannaf</em> (no. 34550) dan Abu Nu’aim dalam <em>Hilyatul </em><em>A</em><em>uliya’</em>: 1/136 dengan sanad yang shahih, juga dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab <em>Latha</em><em>`</em><em>iful M</em><em>a’arif</em> (hlm. 279).</p>
</div>
<div>
<p>[59] HR. Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad: 5/183, Ad-Darimi (no. 229), Ibnu  Hibban (no. 680), dan lain-lain dengan sanad yang shahih; dinyatakan  shahih oleh Ibnu Hibban, Al-Bushiri, dan Syekh Al-Albani.</p>
</div>
</div>
 