
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>3. Adanya Pengingkaran Rasulullah </b><b><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></b><b>Terhadap Pemakai Jimat Tanpa Bertanya Apakah Jimat Diyakini Hanya Sebagai Sebab Atau Tidak</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Kelompok dalil tentang larangan memakai jimat, jika ditinjau dari sisi model pengingkaran yang dilakukan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka terbagi menjadi dua, yaitu pengingkaran dengan perbuatan dan pengingkaran dengan ucapan. Jika kita perhatikan hadis-hadis yang akan dibawakan di bawah ini, maka nampak jelas titik temu dari dua macam pengingkaran Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tersebut.</span></p>
<p><b>Apakah Titik Temu Itu?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadis-hadis tersebut</span><b> tidak ditemukan</b><span style="font-weight: 400;"> adanya pertanyaan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i> <b>apakah jimat diyakini oleh pemakainya hanya sebagai sebab atau tidak.  Yang ada </b><span style="font-weight: 400;">adalah beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bertanya dengan pertanyaan pembuktian; </span><b>apakah suatu benda itu dikenakan sebagai jimat atau tidak</b><span style="font-weight: 400;">, hal ini sebagaimana salah satu tafsiran ulama tentang hadis Imran bin Husain </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">yang akan disebutkan setelah ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sini dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun keyakinan pemakai jimat, maksudnya terserah apakah ia meyakini jimat itu sekedar sebab atau berpengaruh dengan sendirinya, </span><b>selama ia memaksudkan benda tersebut sebagai jimat</b><span style="font-weight: 400;">, maka tetaplah perbuatan tersebut divonis sebagai sebuah kesyirikan. Adapun besar kecilnya kesyirikan tersebut, barulah dikembalikan kepada keyakinan pemakainya. Namun, ia telah terbukti menjadikan benda tersebut sebagai jimat, maka wajib dingkari dan dilarang.</span></p>
<p><b>Kapan Seseorang Dinilai Memaksudkan Suatu Benda Yang Dikenakan Itu Sebagai Jimat? </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal itu ditandai dengan ia menggantungkan, menempel, atau melakukan hal semisalnya pada suatu benda untuk mengusir atau menangkal mara bahaya maupun untuk mendapatkan manfaat, padahal benda itu tidak terbukti secara Syar’i ataupun Qodari sebagai sebab.</span></p>
<p><b>1. Pengingkaran dengan Ucapan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imran bin Husain </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">menuturkan bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya,</span></p>
<p style="text-align: right;">مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الوَاهِنَةِ، فَقَالَ: انْزعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ متَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Untuk apa (gelang) ini</span></i><span style="font-weight: 400;">? Orang itu menjawab </span><i><span style="font-weight: 400;">untuk menangkal penyakit lemah badan</span></i><span style="font-weight: 400;">, lalu Nabi bersabda </span><i><span style="font-weight: 400;">lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Ahmad dengan sanad yang bisa diterima). Hadis Imran bin Husain </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, dishohihkan beliau dan disetujui Adz-Dzahabi).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengingkari pemakai jimat itu,</span><b> tanpa menanyakan </b><span style="font-weight: 400;">apakah pemakainya berkeyakinan bahwa yang menentukan semuanya itu hanyalah Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">atau tidak, dan apakah suatu jimat diyakini hanya sebagai sebab atau tidak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sebatas bertanya tujuan pemakaian gelang tersebut, dengan bersabda </span><i><span style="font-weight: 400;">untuk apa (gelang) ini.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Jadi, dalam hadis di atas hakekatnya Rasulullah</span> <i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><b>sekedar menanyakan status gelang itu sebagai jimat atau tidak.</b><span style="font-weight: 400;"> Kemudian setelah jelas dan terbukti status gelang itu sebagai jimat, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">langsung memerintahkan orang tersebut untuk melepasnya, dan </span><b>tidak menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apalagi jika hadis ini dibawakan kepada pendapat ulama yang kedua bahwa maksud sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">apa-apaan ini </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan maksud mengingkari. Namun orang yang diingkari memahami bahwa pertanyaan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">  itu tentang sebab pemakaian jimat, yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">untuk apa (gelang) ini</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut pendapat ulama, pengingkaran dengan pertanyaa </span><i><span style="font-weight: 400;">apa-apaan ini</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah pengingkaran langsung yang dilakukan oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan tidak bertanya tentang sebab pemakaian, karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">telah mengetahui bahwa gelang itu memang dipakai untuk jimat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasan ini memang logis, karena dahulu di masa jahiliyyah, banyak orang yang memakai gelang kuningan sebagai jimat, untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya. Jadi, jika makna hadis ini dibawakan kepada pendapat yang kedua, akan nampak lebih jelas kesalahan pendapat sebagian orang yang menyangka bahwa memakai jimat itu tidak terlarang alias boleh asalkan ia berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab, dengan alasan dalam hadis ini Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> langsung mengingkarinya, karena mengetahui bahwa gelang kuningan itu dipakai sebagai jimat, dan beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidaklah menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.</span></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 