
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya Pengaruh <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/62025-pengaruh-nama-dan-sifat-allah-bagi-insan-beriman-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Nama dan Sifat Allah bagi Insan Beriman (Bag. 1)</a></span></strong></p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pengaruh mengimani sifat <em>mahabbah</em></strong></span></h2>
<p>Seorang hamba apabila mengimani sifat Allah (الحب و المحبة) (cinta) dan juga sifat (رحيم و ودود) (kasih sayang), niscaya dia akan mencintai Rabbnya, dan akan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang akan menambah kecintaan Allah kepada dirinya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ</span></p>
<p>“<em>Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya</em>” (HR. Bukhari).</p>
<p>Dia pun juga akan berusaha untuk menjadi bagian orang-orang yang Allah berkata tentang mereka,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إني أحب فلانا فأحبه قال فيحبه جبريل ثم ينادي في السماء فيقول إن الله يحب فلانا فأحبوه فيحبه أهل السماء قال ثم يوضع له القبول في الأرض</span></p>
<p><em>‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan. Oleh karena itu, cintailah si fulan.’ Maka, Jibril pun mencintainya. Lalu, malaikat Jibril menyeru di langit, beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan. Oleh karena itu, hendaklah kalian mencintai fulan.’ Penduduk langit pun mencintai si fulan. Kemudian diletakkan untuk si fulan tersebut penerimaan di muka bumi” </em>(HR. Muslim).</p>
<p>Di antara pengaruh mengimani sifat <em>mahabbah</em> yaitu barangsiapa yang ingin mendapat kecintaan Allah, hendaknya ia mengikuti petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em> Hal ini sebagaaimana firman Allah,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ</span></p>
<p>“<em>Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.</em><em>”</em> (QS. Ali Imran: 31)</p>
<p>Kecintaan Allah <em>Ta’ala</em> kepada hamba berkaitan dengan kecintaan hamba kepada Allah. Jika tertanam kuat pohon iman di dalam hati, dan disirami dengan keikhlasan serta senantiasa mengikuti petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> maka akan menghasilkan buah kebaikan yang senantiasa berkembang.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pengaruh mengimanai sifat <em>‘ilmu</em> dan <em>ma’iyyah</em></strong></span></h2>
<p>Jika seorang hamba mengimani bahwa Allah memiliki sifat ilmu dan Allah bersama dengan makhluk-Nya (<em>ma’iyyah</em>), maka akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, merasa diawasi oleh-Nya, dan sekaligus merasa dekat dengan-Nya.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pengaruh mengimani sifat rahmat</strong></span></h2>
<p>Apabila seorang hamba mengetahui bahwa Allah memiliki sifat rahmat, maka setiap dia terjerumus perbuatan dosa, niscaya dia segera memohon kepada Allah agar merahmati dan mengampuni dosanya. Dia pun tidak mudah berputus asa dari rahmat Allah. Bagaimana mungkin seseorang akan berputus asa jika dia mengimani bahwa Allah memiliki sifat rahmat terhadap para hamba-Nya ?</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pengaruh mengimani sifat <em>qudrah</em></strong></span></h2>
<p>Allah memiliki sifat-sifat <strong>(القهر و الغلبة و السلطان و القدرة و الهيمنة و الجبروت)</strong> yang maknanya adalah memiliki sifat kemampuan yang sempurna terhadap segala sesuatu. Jika hamba mengimani hal ini, maka dia mengetahui bahwa tidak ada satu pun yang mampu melemahkan Allah. Dia mampu menundukkan bumi sleuruhnya, Dia mampu memberi hukuman bagi hamba di dunia sebelum di akhirat, Dia maha mampu di atas seluruh makhluk-Nya. Dia akan mengalahkan semua yang melawan dan menantang.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pengaruh mengimanai sifat <em>quwwah</em></strong></span></h2>
<p>Seorang hamba apabila mengimani bahwa Allah memiliki sifat <strong>(القوةو العزة الغلبة),</strong> maka dia akan meyakini bahwa kekuatan dan kemuliaannnya berasal dari Allah. Perbuatan orang-orang kafir tidak akan menghinakan dan merendahkan Allah. Apabila kita bersama Allah, niscaya Allah akan membersamai kita dan tidak akan ada yang mampu mengalahkan ketentuan-Nya (untuk mengalahkan orang-orang kafir).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/61339-allah-taala-yang-lebih-mengetahui.html" data-darkreader-inline-color="">Allah Ta’ala yang Lebih Mengetahui</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pengaruh mengimani sifat <em>As-Salam</em></strong></span></h2>
<p>Apabila seorang hamba mengimanai sifat Allah ini, maka akan merasakan ketenangan hati. Allah adalah <em>As-Salaam,</em> Dia juga mencintai <em>as-salaam</em> (keselamatan). Maka sebarkanlah salam di antara orang beriman agar timbul kecintaan di antara sesama mukmin.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pengaruh mengimani sifat <em>makar</em></strong></span></h2>
<p>Di antara sifat Allah adalah  ( <strong>المكر و الكيد</strong>) yang maknanya adalah membalas tipu daya kepada yang berhak mendapatkannya. Apabila seorang hamba mengimani sifat ini sesuai dengan keagungan Allah, maka niscaya dia meyakini bahwa tidak akan ada makhluk yang mampu membuat makar dan tipu daya kepada Allah. Allah adalah sebaik-baik pemberi makar kepada siapa saja yang berhak mendapatkannya.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pengaruh mengimani sifat <em>al-‘Uluw</em> dan<em> Istiwa’</em>, <em>An Nuzul</em>, dan <em>Al Qurb</em></strong></span></h2>
<p>Apabila seorang hamba mengimani sifat ini, maka dia akan mengetahui bahwa Allah tersucikan dari bercampur dengan makhluk. Dia berada tinggi <strong>(العلوّ)</strong> di atas seluruh makhluk-Nya dan terpisah dari makhluk-Nya. Dia <em>istiwa’</em>  <strong>(الاستواء)</strong> di atas ‘Arsy, namun Dia juga dekat <strong>(القرب)</strong> dengan hamba-Nya secara pengilmuan. Jika seorang hamba membutuhkan Allah, maka Dia dekat dengan hamba. Dia megabulkan doa orang yang meminta. Dia turun <strong>(النُّزول)</strong> ke langit dunia di waktu seperiga malam terakhir sesuai dengan keagungan-Nya, kemudian berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><strong>مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ</strong></span></p>
<p><em>”’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Ini semua akan berdampak bagi hamba menjadi bersemangat untuk memperhatikan waktu tersebut. Dan sifat-sifat di atas tidaklah bertentangan satu dengan yang lainnya. Kita wajib mengimaninya sesuai dengan keaguangan Allah <em>Ta’ala.</em></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pengaruh mengimani sifat Kalam</strong></span></h2>
<p>Al Qur’an adalah <em>kalamullah.</em> Mengimanai sifat <em>kalam </em>(berbicara) akan menjadikan hamba merasa apabila dia membaca Al Qur’an, maka berarti dia membaca <em>kalamullah</em>. Apabila dia membaca ayat Al Qur’an, misalnya:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><strong>يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ</strong></span></p>
<p><strong>“</strong><em>Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.</em> “ (QS. Al-Infithar : 6)</p>
<p>Ketika membaca ayat ini maka dia merasa seolah Allah berbicara kepadanya sehingga akan muncul dalam hatinya pengagungan. Seorang hamba apabila mengimani sifat kalam ini dan dia juga mengetahui bahwa di dalam hadits shahih disebutkan bahwa Allah akan berbicara kelak pada hari kiamat tanpa ada penerjemah antara hamba dengan Rabb-Nya, maka dia pun akan berusaha menghindar dari perbuatan kemaksiatan selama di dunia. Dia pun akan mempersiapkan jawaban untuk menghadapai hisab ketika ditanya oleh Allah kelak.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pengaruh mengimani sifat-sifat <em>dzatiyyah</em> <em>khabariyyah</em></strong></span></h2>
<p>Allah memiliki sifat-sifat <em>khabariyyah</em> seperti wajah, tangan, jari, telapak kaki, betis, dan yang lainnya. Barangsiapa mengimani dan membenarkannya sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah tanpa melakukan <em>tahrif</em><em>, ta’thil, tamtsil,</em> dan <em>takyif,</em> maka sungguh dia telah mendapatkan keberuntungan. Sebaliknya, barangsiapa yang lebih mengedepankan akalnya yang rusak daripada dalil <em>shahih, </em>kemudian menolak sifat-sifat tersebut, atau menyelewengkan maknanya, atau menganggapnya sebagai <em>majaz</em>, maka dia sungguh telah melakukan kesalahan fatal dan merugi.</p>
<p>Mengapa? Karena dengan demikan, berarti dia telah membedakan antara sebagian sifat Allah dengan sifat-sifat yang lain. Dia juga berarti telah mendustakan Allah mengenai sifat-sifat yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya yang disebutkan dalam Al Qur’an. Demikian pula, berarti dia telah mendustakan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengenai sifat-sifat Allah yang telah beliau tetapkan untuk Allah melalui hadits-hadits yang shahih.</p>
<p>Seandainya tidak ada buah manis dari mengimani sifat-sifat ini, kecuali menjadikan orang yang mengimaninya termasuk ke dalam golongan orang beriman dan bertauhid, maka ini sudah cukup. Seandainya tidak ada pengaruh mengimani sifat-sifat tersebut kecuali hal ini menjadi menjadi pembeda antara orang yang jujur dalam keimanan dan tauhidnya dengan orang-orang yang berdusta dan menyelewengkan makna firman Allah dan sabda rasul-Nya, maka ini pun sudah cukup.</p>
<p>Namun ternyata masih ada pengaruh penting yang lain dalam mengimani sifat-sifat <em>khabariyyah</em> tersebut, di antaranya:</p>
<ul>
<li>Jika Engkau mengimani bahwasanya Allah memiliki wajah yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah, dan melihat wajah-Nya adalah di antara nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya di hari kiamat, niscaya hal ini akan menjadi motivasi besar bagi hamba untuk beramal dan meminta kepada Allah agar kelak bisa melihat wajah-Nya yang mulia.</li>
<li>Jika Engkau beriman bahwa Allah memiliki tangan dan seluruh kebaikan berada di tangan-Nya, maka Engkau pun akan termotivasi untuk hanya meminta kepada Allah, yang segala sesuatu berada di tangan-Nya.</li>
<li>Jika Engkau mengetahui dan mengimani bahwa hatimu berada di antara jari-jemari Allah, niscaya Engkau akan terus meminta kepada Allah agar menetapkan hati di atas agama Islam.</li>
</ul>
<p>Masih terdapat banyak sifat-sifat Allah yang lain. Tidak ada satu pun sifat Allah,  kecuali bagi orang yang megimaninya dengan benar pasti akan mendapat buah yang manis dan pengaruh positif dari keimanannya tersebut. Merupakan nikmat yang sangat agung bagi <em>ahlus sunnah wal jama’ah</em> yang memiliki keimanan yang benar terhadap setiap sifat-sifat Allah sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah <em>Ta’ala</em> sehingga merasakan buah manisnya iman dan pengaruh yang bermanfaat bagi dirinya.</p>
<p>Semoga bermanfaat. <em>Allahu waliyyu at taufiik. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad</em></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/60965-mengadu-kepada-allah-bukan-kepada-makhluk.html" data-darkreader-inline-color="">Mengadu kepada Allah, bukan kepada Makhluk</a></strong></span></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/60575-tetap-bersandar-kepada-allah-setelah-divaksinasi.html"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong>Tetap Bersandar kepada Allah setelah Divaksinas</strong></span>i</a></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/adika" data-darkreader-inline-color=""> Adika Mianoki</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Penulis : </strong></p>
<p><strong>Referensi :</strong></p>
<p><em>Fiqh Al Asmaail Husna</em> karya Syaikh Prof. Dr. Aburrozzaq bin Abdil Muhsin al Badr</p>
<p><em>Shifatullah ‘Azza wa Jalla al Waaridatu fil kitabi was Sunnah</em> karya Syaikh ‘Alawi bin ‘Abdil Qaadir as Saqqof.</p>
 