
<p><span style="font-weight: 400;">‘Atha’ bin Abi Rabah, seorang ulama tabiin, mengatakan, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">إِنَّ الرَّجُلَ يُحَدِّثُنِيْ بِالْحَدِيْثِ فَأَنْصِتُ لَهُ كَأَنِّيْ أَسْمَعُهُ وَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُوْلَدَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sungguh ada orang yang menyampaikan sebuah hadits. Akupun diam menyimak seakan aku baru pertama kali mendengar hadits tersebut padahal aku telah mendengar hadits tersebut sebelum dia lahir.” (<em>Siyar A’lam an-Nubala’</em> 5/86)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diantara adab yang luhur ketika ada yang berbicara atau bercerita adalah kita simak dengan penuh perhatian dan penuh antusias seakan kita baru mendengarnya pertama kali.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diantara adab yang buruk ketika ada orang yang bercerita adalah:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Kita dengarkan sambil mainan gadget. </span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Kita dengarkan sambil menengok ke kanan atau ke kiri, seakan bosan mendengarkan ceritanya. </span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Kita simak pembicaraannya lantas kita komentari bahwa kita sudah pernah mendengarnya dari pembicara yang lain. </span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Kita potong pembicaraan orang sepuh tersebut dan kita komentari bahwa kita sudah mendengar cerita tersebut dari beliau sendiri untuk kesekian kalinya.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Adab yang luhur dan mulia itu membuat kita dicintai dan dihormati manusia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebaliknya adab yang buruk menyebabkan orang tidak suka dengan kita. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang cakep, cantik, pintar atau berilmu itu jatuh nilainya disebabkan adab yang buruk.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu warisan terbaik ortu kepada anaknya adalah penanaman adab yang luhur dan mulia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk bisa memiliki adab yang luhur dan mulia. </span></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.</strong></p>
 