
<blockquote><p><em><strong>Baca pembahasan sebelumnya <a href="https://muslim.or.id/52497-pemimpin-rumah-tangga-1.html" data-darkreader-inline-color="">Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 1)</a></strong></em></p></blockquote>

<h2>Tingginya Kedudukan Suami di Sisi Sang Istri</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau kita merenungkan hadits-hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">kita dapati bagaimanakah tingginya kedudukan suami di sisi sang istri. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ المَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya akan aku perintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya.” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 1159, dinilai hasan shahih oleh Al-Albani)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat Al-baihaqi terdapat tambahan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لِمَا عَظَّمَ اللهُ مِنْ حَقِّهِ عَلَيْهَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Karena Allah telah mengagungkan hak suami yang wajib ditunaikan istri.” </span><b>(HR. Al-Baihaqi dalam </b><b><i>Sunan Al-Kubra </i></b><b>7: 475, dengan sanad yang shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diketahui, ada dua macam sujud, yaitu (1) sujud ibadah dan (2) sujud </span><i><span style="font-weight: 400;">tahiyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">(sujud karena penghormatan). Sujud ibadah ini hanya boleh ditujukan untuk Allah <em>Ta’ala,</em> sehingga haram ditujukan kepada selain Allah <em>Ta’ala</em> dalam semua syariat para Nabi dan Rasul. Adapun contoh sujud </span><i><span style="font-weight: 400;">tahiyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah sujud malaikat kepada Nabi Adam </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihi salaam, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan juga sujud anak-anak Nabi Ya’qub kepada ayah dan ibunya, sebagaimana yang terdapat di surat Yusuf. Sujud </span><i><span style="font-weight: 400;">tahiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> tersebut diperbolehkan di sebagian syariat terdahulu, namun diharamkan di syariat Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan bahwa seandainya sujud </span><i><span style="font-weight: 400;">tahiyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">itu diperbolehkan dalam syariat Muhammad, niscaya dia akan perintahkan istri untuk sujud kepada sang suami. </span><i><span style="font-weight: 400;"> </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tingginya kedudukan suami, juga digambarkan dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau meengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَنَّ رَجُلًا أَتَى بِابْنَةٍ لَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ ابْنَتِي هَذِهِ أَبَتْ أَنْ تَتَزَوَّجَ، قَالَ: فَقَالَ لَهَا: أَطِيعِي أَبَاكِ قَالَ: فَقَالَتْ: لَا، حَتَّى تُخْبِرَنِي مَا حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ؟ فَرَدَّدَتْ عَلَيْهِ مَقَالَتَهَا قَالَ: فَقَالَ: حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ أَنْ لَوْ كَانَ بِهِ قُرْحَةٌ فَلَحَسَتْهَا، أَوِ ابْتَدَرَ مَنْخِرَاهُ صَدِيدًا أَوْ دَمًا، ثُمَّ لَحَسَتْهُ مَا أَدَّتْ حَقَّهُ قَالَ: فَقَالَتْ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا قَالَ: فَقَالَ: لَا تُنْكِحُوهُنَّ إِلَّا بِإِذْنِهِنَّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seseorang datang menemui Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">disertai anak perempuannya. Kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya anakku ini, dia enggan untuk menikah.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata kepada perempuan tersebut, “Patuhilah bapakmu.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perempuan itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebanaran, aku tidak mau menikah sampai Engkau mengabarkan kepadaku apa hak suami yang wajib ditunaikan istri.” Dia terus mengulang-ulang permintaan tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah bersabda, “Hak suami yang wajib ditunaikan istri itu bagaikan jika suami memiliki luka, lalu sang istri menjilati luka tersebut, atau jika dari kedua lubang hidung suami keluar nanah atau darah, kemudian sang istri menjilatinya, belumlah dinilai memenuhi hak suami.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perempuan itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebanaran, aku tidak akan menikah selamanya.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda kepada sang ayah, “Janganlah Engkau menikahkannya, kecuali dengan seijinnya.” </span><b>(HR. Ibnu Abi Syaibah dalam </b><b><i>Al-Mushannaf, </i></b><b>4: 303; Al-Baihaqi dalam </b><b><i>As-Sunan Al-Kubra, </i></b><b>7: 291; An-Nasa’i dalam </b><b><i>As-Sunan Al-Kubra, </i></b><b>3: 383)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits di atas, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menggambarkan tingginya kedudukan suami. Sampai-sampai jika suami terluka dan berdarah, lalu sang istri menjilati darah tersebut, hal itu dinilai belum menunaikan hak suami. Karena itulah, anak perempuan tersebut tidak mau menikah, dan hal ini disetujui oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Sehingga dapat diambil faidah dari hadits ini bahwa seorang perempuan boleh untuk memilih tidak menikah. Dan juga dalil tidak bolehnya nikah paksa dalam ajaran Islam. </span></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/39376-sunnah-membantu-istri-di-rumah.html" data-darkreader-inline-color="">Sunnah Membantu Istri di Rumah</a></strong></em></p></blockquote>
<h2>Kedudukan Mulia Seorang Istri yang Taat Suami</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Para istri yang taat kepada suami inilah yang dikatakan oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagai wanita terbaik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau menceritakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟ قَالَ: الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا، وَلَا فِي مَالِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ditanya tentang siapakah wanita yang paling baik?” Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan, “Yaitu para wanita yang membuat senang ketika dipandang, taat jika diperintah sang suami, tidak menyelisihi suami dalam perkara-perkara yang dibenci suami, baik berkaitan dengan dirinya (istri) atau hartanya (suami).” </span><b>(HR. Ahmad 2: 251, dengan sanad yang shahih)</b></p>
<p><b>“</b><span style="font-weight: 400;">Berkaitan dengan diri istri”, misalnya suami mengatakan, “Aku tidak suka parfummu yang ini, karena aku tidak suka baunya.” Maka istri yang baik, dia akan taat dan tidak memakai parfum yang tidak disukai istri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Berkaitan dengan harta suami”, misalnya suami mengatakan, “Jika Engkau ingin sedekah (dengan harta suami) lebih dari sekian, ngomong dulu sama saya.” Maka istri yang baik, dia akan menaati perintah suaminya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang istri, bisa jadi sangat ringan untuk shalat, puasa, sedekah, dan ibadah-ibadah lainnya. Akan tetapi, dia sangat berat untuk taat kepada suami dalam perkara-perkara yang ma’ruf. Dan inilah salah satu ujian untuk para istri di kehidupan rumah tangannya bersama sang suami. </span></p>
<blockquote><p><em><strong>Lanjut baca: <a href="https://muslim.or.id/52605-pemimpin-rumah-tangga-3.html" target="_blank" rel="noopener">Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 3)</a></strong></em><b><br>
</b></p></blockquote>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kantor YPIA Jogja, 29 Shafar 1441/28 Oktober 2019</span></p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></strong></p>
<p><strong>Artikel: <a href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></strong></p>
 