
<p>Kedua orang tua, baik ayah maupun ibu, tentu saja mencintai buah hati mereka. Kecintaan orang tua terhadap anaknya merupakan sebuah perkara yang alamiah (naluri) yang Allah <em>Ta’ala</em> tanamkan di hati mereka. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي</p>
<p>“<em>Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari</em><em>–</em><em>Ku</em>.” (QS. Thaha [20] : 39)</p>
<p>Nabi <em>s</em><em>h</em><em>a</em><em>llallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">إِنِّى قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا</p>
<p>“Sesungguhnya aku telah diberikan anugerah cintanya (Khadijah).” (HR. Muslim no. 2435)</p>
<p>Intinya, cinta merupakan semata-mata anugerah dari Allah <em>Ta’ala</em>. Terkait kecintaan orang tua terhadap anaknya, terkadang orang tua lebih mencintai salah satu anaknya dibandingkan anak-anak yang lainnya. Pada dasarnya, kecintaan semacam ini tidaklah mengapa, sebab cinta merupakan suatu yang alamiah, natural, semata-mata anugerah dari Allah <em>Ta’ala</em>. <strong>Namun</strong><strong>,</strong><strong> kecintaan tersebut tidak boleh </strong><strong>menyebabkan</strong><strong> kez</strong><strong>a</strong><strong>liman pada anak yang lainnya, atau mengurangi hak-hak mereka</strong>.</p>
<p>Sebuah hal yang wajar bila kita lebih mencintai orang yang shalih dibandingkan yang kurang shalih. Anak yang taat, rajin shalat, puasa sunnah dan berbakti, tentu lebih dicintai orang tuanya.<strong> K</strong><strong>edua orang tua tetap tidak boleh berlebihan dalam mengekspresikan</strong><strong> atau</strong><strong> menunjukkan kecintaannya kepada sang anak yang taat ini</strong>. Namun, terkadang diperbolehkan menjadikan ketaatan atau kelebihan salah satu anak untuk memotivasi anak yang lainnya. Misalnya, dengan mengatakan, “Si Fulan ini lebih baik dari kalian karena dia taat, rajin shalat dan puasa.” Atau kata-kata lain yang semisal dengan itu. Sekali lagi, bukan dalam rangka membanding-bandingkan anak, namun lebih untuk memotivasi mereka.</p>
<p>Lihatlah, Nabi Ya’qub <em>‘</em><em>a</em><em>laihis</em> <em>salam </em>demikian cintanya kepada Nabi Yusuf<em> ‘</em><em>a</em><em>laihis</em> <em>sal</em><em>a</em><em>m. </em>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ ؛ إِذْ قَالُوْا لَيُوْسُفُ وَأَخُوْهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِيْنَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِيْ ضَلَالٍ مُبِيْنٍ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. (Yaitu) ketika mereka berkata,  <strong>‘Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya </strong></em><strong>(Bunyamin –Tafsir Jalalain)<em> lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri,</em></strong><em> padahal kita (ini) adalah satu golongan (banyak</em><em>,</em> <em>–</em><em>pen</em><em>.</em><em>). Sesungguhnya ayah kita </em><em>di </em><em>dalam kekeliruan yang nyata</em>.” (QS. Yusuf [12] : 7-8)</p>
<p>Sesungguhnya, cinta Nabi Ya’qub kepada Yusuf <em>‘</em><em>a</em><em>laihimas salam</em> merupakan kecintaan yang murni, tidak ada unsur kezaliman kepada anak yang lainnya. Namun, kecintaan yang demikian itu saja dapat melahirkan perasaan jengkel di dada anak-anaknya yang lain.</p>
<p>Demikian pula, perhatian orang tua yang berlebih terhadap salah satu anaknya akan membuat perasaan anak yang lain sedih, galau, dendam, bahkan melahirkan permusuhan yang berujung pada keinginan untuk mencelakai anak yang “terlihat lebih disayangi” orang tua mereka.</p>
<p>Lihatlah perbuatan saudara-saudaranya Nabi Yusuf <em>‘</em><em>a</em><em>laihis</em> <em>salam </em>kepada beliau. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">اُقْتُلُوْا يُوْسُفَ أَوِ اطْرَحُوْهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِيْنَ</p>
<p>“<em>Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke</em> <em>suatu daerah (yang t</em><em>id</em><em>ak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik</em>.” (QS. Yusuf [12] : 9)</p>
<p>Lihatlah, ucapan mereka terhadap ayahnya pada ayat sebelumnya, bagaimana mereka menyifati ayahnya dengan kesesatan.</p>
<p>Lihat pula apa yang ada di pikiran mereka ketika melihat bagaimana perlakuan ayahnya terhadap Nabi Yusuf <em>‘</em><em>a</em><em>laihis</em> <em>sal</em><em>a</em><em>m. </em>Lihatlah bagaimana hal ini dapat melahirkan di pikiran mereka untuk melakukan konspirasi jahat untuk membunuh saudara mereka sendiri, yaitu Nabi Yusuf <em>‘</em><em>a</em><em>laihis</em> <em>salam</em><em>.</em> Sikap semacam ini muncul karena mereka melihat kecintaan sang ayah kepada salah satu anaknya. Padahal, kecintaan Nabi Ya’qub terhadap Nabi Yusuf <em>‘</em><em>a</em><em>laihimas salam</em> adalah kecintaan yang murni, cinta yang tidak mengandung unsur zalim dan pengurangan hak terhadap anak-anaknya yang lain. Kecintaan beliau ini adalah kecintaan yang Allah <em>Ta’ala</em> anugerahkan di dalam hatinya, kecintaan tulus kepada anak yang ada padanya tanda-tanda kemuliaan dan keshalihan.</p>
<p>Kita dapat melihat mengapa mereka berniat melakukan rencana pembunuhan terhadap Nabi Yusuf <em>‘</em><em>a</em><em>laihis</em> <em>salam</em>. Yang mereka inginkan semata-mata agar ayah mereka hanya mencintai mereka semata dan berpaling dari Nabi Yusuf <em>‘</em><em>a</em><em>laihis</em> <em>salam.</em></p>
<p>Lantas bagaimana lagi, bila kecintaan kepada salah seorang anak yang terekspresikan jelas dan disertai dengan kezaliman dan pengurangan hak-hak anak yang lainnya? Tentulah ini akan lebih menimbulkan kesedihan, kebencian, dan permusuhan di antara anak-anak kita. Bahkan, akan menimbulkan kebencian dan permusuhan antara anak dengan orang tuanya.</p>
<p>Kesimpulannya, kecintaan yang sedikit berlebih kepada salah seorang anak pada dasarnya tidak terlarang. Sebab, cinta itu murni anugerah Allah <em>Ta’ala</em> dan di luar kuasa orang tua. Namun, kedua orang tua hendaknya semaksimal mungkin berusaha untuk tidak menampakkannya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di antara anak-anaknya. Terlebih lagi bila menimbulkan ketidakadilan dan pengurangan terhadap hak anak yang lainnya. <em>Wa</em><em>llahu </em><em>Ta’ala </em><em>a’lam.</em></p>
<p>***</p>
<p>Sigambal selepas subuh, 4 Muharram 1440/ 14 September 2018</p>
<p><strong>Pen</strong><strong>ulis</strong><strong>: </strong><strong>Aditya Budiman dan </strong><strong>M. Saifudin Hakim</strong></p>
<p> </p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 