
<p>Di antara yang harus diperhatikan oleh orang tua adalah disyariatkannya khitan bagi anak laki-laki dan anak perempuan.</p>
<p><strong>Hukum khitan bagi laki-laki dan perempuan</strong></p>
<p>Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum khitan. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat dalam hal ini adalah dibedakan hukumnya antara laki-laki dan perempuan. <strong>Untuk anak laki-laki, hukum khitan adalah wajib; sedangkan untuk anak perempuan, hukum khitan adalah sunnah (dianjurkan). </strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: right;">الفِطْرَةُ خَمْسٌ: الخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الآبَاطِ</p>
<p><em>“</em><em>Fitrah itu ada lima: <strong>(1) khitan;</strong> (2) mencukur bulu kemaluan; (3) memotong kumis; (4) memotong kuku; dan (5) mencabut bulu ketiak.</em><em>”</em> <strong>(HR. Bukhari no. 5891 dan Muslim no. 257)</strong></p>
<p>Hadits ini bersifat umum, baik mencakup laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Di antara dalil yang menunjukkan wajibnya khitan bagi anak laki-laki adalah perintah Nabi <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam </em>kepada seorang laki-laki yang baru saja masuk Islam untuk berkhitan,</p>
<p style="text-align: right;">أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ</p>
<p><em>“</em><em>Cukurlah (hilangkanlah) rambut kekafiran yang ada pada dirimu <strong>dan berkhitanlah!</strong></em><strong><em>”</em></strong> <strong>(HR. Abu Dawud no. 356, hadits hasan)</strong></p>
<p>Sedangkan hukum asal perintah adalah wajib.</p>
<p>Berkaitan dengan khitan untuk anak perempuan, hal ini tetap disyariatkan (dianjurkan), karena Nabi <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam </em>juga menyebut kemaluan perempuan dengan istilah “khitan”. Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: right;">إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ وَمَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ</p>
<p><em>“</em><em>Jika seorang laki-laki duduk di antara empat anggota badan perempuan <strong>dan dua khitan bertemu</strong> (terjadi persetubuhan, pen), maka wajib mandi.</em><em>”</em> <strong>(HR. Muslim no. 349)</strong></p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa pada asalnya, perempuan juga dikhitan.</p>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz <em>rahimahullahu Ta</em><em>’</em><em>ala </em>ditanya,</p>
<p><em>“</em><em>Apakah hukum khitan bagi anak perempuan? Apakah terdapat kaidah tertentu dalam hal ini?</em><em>”</em></p>
<p>Beliau <em>rahimahullahu Ta</em><em>’</em><em>ala </em>menjawab,</p>
<p style="text-align: right;">ختان البنات سنة، إذا وجد طبيب يحسن ذلك أو طبيبة تحسن ذلك؛ لقوله صلى الله عليه وسلم<strong>: )) </strong>الفطرة خمس: الختان، والاستحداد، وقص الشارب، وقلم الأظفار، ونتف الآباط<strong> (( </strong>متفق على صحته، وهو يعم الرجال والنساء ما عدا قص الشارب فهو من صفة الرجال<strong>.</strong></p>
<p><em>“</em><em>Khitan bagi anak perempuan hukumnya sunnah, ketika dokter laki-laki atau perempuan menganggap baik hal ini. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam, </em><em>“</em><em>Fitrah itu ada lima: <strong>khitan; </strong>mencukur bulu kemaluan; memotong kumis; memotong kuku; dan mencabut bulu ketiak.</em><em>”</em><em> (Muttafaq </em><em>‘</em><em>alaihi ) Hadits ini bersifat umum, mencakup baik laki-laki dan perempuan, kecuali mencukur kumis yang merupakan karakter bagi laki-laki.</em><em>”</em> <strong>[1]</strong></p>
<p><strong>Kesimpulan dalam masalah ini, khitan itu wajib bagi anak laki-laki dan sunnah untuk anak perempuan. </strong>Di antara ulama kontemporer yang menguatkan pendapat ini antara lain Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>(<em>Syarhul Mumti</em><em>’</em><em>, </em>1/110; <em>Fataawa Arkanil Islaam, </em>no. 135) dan juga Syaikh Musthafa Al-‘Adawi <em>hafidzahullah </em>(<em>Fiqh Tarbiyatul Abna</em><em>’</em><em>, </em>hal. 61).</p>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p>***</p>
<p>Diselesaikan di pagi hari, Rotterdam NL 3 Shofar 1439/22 Oktober 2017</p>
<p><strong>Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><strong>[1] </strong>https://binbaz.org.sa/fatawa/2280</p>
<p> </p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 