
<p>Di bulan Ramadhan ini, sangat baik sekali jika kita kembali merenungkan ayat-ayat yang biasa kita baca atau kita hafal. Kita memulai dari beberapa surat dalam Juz ‘Amma, saat ini akan diulas tafsiran dari surat Al Humazah. Di mana diterangkan mengenai akibat bagi para pencela lagi pengumpat, juga akibat dari orang yang hanya gemar mengumpulkan harta tanpa memperhatikan kewajibannya dan juga akan diterangkan kengerian neraka <em>Huthomah</em>.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;"><span style="color: #800000;">وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (1) الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ (2) يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ (3) كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ (4) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ (5) نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ (6) الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ (7) إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ (8) فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ (9)</span></span></p>
<p>1. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,</p>
<p>2. yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,</p>
<p>3. dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,</p>
<p>4. sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthomah.</p>
<p>5. Dan tahukah kamu apa Huthomah itu?</p>
<p>6. (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,</p>
<p>7. yang (membakar) sampai ke hati.</p>
<p>8. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,</p>
<p>9. (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang. (QS. Al Humazah: 1-9)</p>

<h2><strong><span style="color: #ff0000;">Pengumpat Lagi Pencela</span></strong></h2>
<p>Mengenai kata “هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ”, para ulama berselisih pendapat apakah kedua kata tersebut bermakna sama ataukah berbeda.</p>
<p>Jika bermakna beda, ada 7 pendapat mengenai makna kedua kata tersebut:</p>
<p>1. <em>Humazah</em> bermakna menggibahi (menjelek-jelekkan di belakang), sedangkan <em>lumazah</em> bermakna menjelek-jelekkan. Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas.</p>
<p>2. <em>Humazah</em> bermakna mencela manusia di hadapannya, sedangkan <em>lumazah</em> berarti menjelekkan manusia di belakangnya. Inilah pendapat Al Hasan Al Bashri, ‘Atho’ dan Abul ‘Aliyah.</p>
<p>3. <em>Humazah</em> bermakna mencela manusia. Adapun <em>lumazah</em> bermakna mencela nasab manusia. Demikian pendapat Mujahid.</p>
<p>4. <em>Humazah</em> berarti mengejek dengan mata dan <em>lumazah</em> berarti mengejek dengan lisan. Inilah pendapat Qotadah.</p>
<p>5. <em>Humazah</em> berarti mencela dengan tangan ditambah memukul dan <em>lumazah</em> berarti mencela dengan lisan sebagaimana pendapat Ibnu Zaid.</p>
<p>6. <em>Humazah</em> berarti mencela dengan lisan, sedangkan <em>lumazah</em> berarti mencela dengan mata. Demikian pendapat Sufyan Ats Tsauri.</p>
<p>7. <em>Humazah</em> berarti mencela manusia di belakangnya, sedangkan <em>lumazah</em> berarti mencela manusia di hadapannya. Inilah pendapat Maqotil.</p>
<p>Sedangkan jika humazah bermakna sama dengan lumazah, maka maknanya adalah menjelek-jelekan di belakang dan membenci orang lain. (Dinukil dari <em>Zaadul Masiir</em>, Ibnul Jauzi). Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di memilih tafsiran, <em>humazah</em> dimaksudkan untuk orang yang menjelek-jelekkan dengan isyarat dan perbuatannya. Sedangkan <em>lumazah</em> dimaksudkan untuk orang yang menjelek-jelekkan dengan perkataannya.</p>
<p>Berarti ayat “<em>celakalah humazah dan lumazah</em>” menunjukkan ancaman keras pada orang yang suka mencela dan menjelek-jelekkan orang lain. Karena “وَيْلٌ” itu sendiri bermakna celaka atau ancaman keras.</p>
<h2><strong><span style="color: #ff0000;">Pengumpul Harta</span></strong></h2>
<p>Mengenai ayat,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ</span></span></p>
<p>“<em>yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung</em>”, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menerangkan bahwa di antara sifat <em>humazah</em> dan <em>lumazah</em> adalah <strong>hanya mengumpulkan harta saja, menghitung-hitungnya dan begitu tamak padanya</strong>. Namun mereka tidak punya semangat untuk menginfakkannya di jalan kebaikan atau jalan menjalin hubungan kekerabatan atau yang lainnya.</p>
<h2><strong><span style="color: #ff0000;">Harta Dapat Mengekalkan di Dunia?</span></strong></h2>
<p>Karena kebodohannya, mereka menyangka bahwa harta bisa mengekalkan mereka di dunia. Oleh karena itu, usaha dan kerja kerasnya hanyalah ingin terus menambah subur harta yang mereka sangka bahwa harta tadi bisa menambah umur mereka. Padahal sifat pelit (kikir) malah mengurangi umur dan menghancurkan kehidupannya di dunia. Yang sungguh menambah umur hanyalah dengan amalan kebajikan. Demikian keterangan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengenai ayat,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;"><span style="color: #800000;">يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ</span></span></p>
<p>“<em>Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya.</em>”</p>
<h2><strong><span style="color: #ff0000;">Tidak Seperti yang Mereka Angankan</span></strong></h2>
<p>Mereka menyangka bahwa harta bisa mengekalkan di dunia, padahal tidak seperti yang mereka angankan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;"><span style="color: #800000;">كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ</span></span></p>
<p>“<em>Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthomah</em>.” Maksud ayat ini adalah “tidak seperti yang mereka sangkakan karena sungguh mereka (yang hanya sibuk dengan mengumpulkan dan menghitung-hitung harta) akan dilemparkan di <em>huthomah</em>. Dan <em>huthomah</em> adalah salah satu dari nama neraka yang sifatnya memecahkan segala yang nanti masuk di dalamnya.” <em>Na’udzu billah</em> … Demikian keterangan dari Ibnu Katsir. Sedangkan Ibnul Jauzi dalam <em>Zaadul Masiir</em> menerangkan bahwa <em>huthomah</em> disebut demikian karena segala sesuatu akan hancur atau pecah ketika di lempar di dalamnya. Gambarannya, tulang bisa patah setelah daging luarnya dilahap.</p>
<p>Adapun ayat tersebut diulang dengan,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;"><span style="color: #800000;">وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ</span></span></p>
<p>“<em>Dan tahukah kamu apa Huthomah itu?</em>”, maksudnya adalah untuk menunjukkan besarnya dan ngerinya neraka tersebut. Demikian keterangan dari Syaikh As Sa’di dalam kitab tafsirnya.</p>
<h2><strong><span style="color: #ff0000;">Sifat-Sifat <em>Huthomah</em></span></strong></h2>
<p>Setelahnya disebutkan beberapa sifat <em>huthomah</em>.</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;"><span style="color: #800000;">نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ (6) الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ (7) إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ (8) فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ (9)</span></span></p>
<p>“<em>(yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati.  Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang</em>” (QS. Al Humazah: 1-9)</p>
<p><em>Huthomah</em> adalah api yang dinyalakan, di mana api tersebut berbahan bakar manusia dan batu. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> sebutkan dalam ayat lainnya,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;"><span style="color: #800000;">وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ</span></span></p>
<p>“<em>Api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu</em>” (QS. At Tahrim: 6).</p>
<p>Nyala api itu tersebut kemudian membakar sampai di hati. Ini menunjukkan kerasnya siksa karena yang dibakar adalah jasad dan akan menjalar sampai ke <em>qolbu</em> (jantung).</p>
<p>Kengerian panasnya <em>huthomah</em> tersebut ditambah dengan tertutupnya neraka tadi dan orang yang telah masuk di dalamnya tidak bisa keluar.</p>
<p>Mengenai ayat “فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ”, sebagaimana dikatakan oleh ‘Athiyah Al ‘Aufiy bahwa maksudnya ada tiang dari besi. Sedangkan As Sudi berpendapat bahwa ada tiang dari api. Dan tiang tersebut dibentangkan. Artinya di sini, <em>huthomah</em> adalah neraka yang tertutup dan terdapat tiang di belakang pintu yang dibentangkan dan jika seseorang itu berusaha keluar, maka ia akan kembali lagi ke dalamnya. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;"><span style="color: #800000;">كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا</span></span></p>
<p>“<em>Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya</em>” (QS. As Sajdah: 20). Inilah keterangan dari Ibnu Katsir dan As Sa’di dalam kitab tafsirnya.</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 18pt;"><span style="color: #800000;">نعوذ بالله من ذلك، ونسأله العفو والعافية</span></span></p>
<p><em>Na’udzu billah min dzalik</em>, kita berlindung kepada Allah dari kengerian neraka. Kita meminta pada Allah pemaafan dan keselamatan.</p>
<p><em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p>@ APO Bengkel, Jayapura, Papua, 2 Ramadhan 1433 H</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/">www.rumaysho.com</a></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca Juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/1328-bolehkah-memohon-surga-dan-berlindung-dari-neraka.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Bolehkah Memohon Surga dan Berlindung dari Neraka</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/15471-dari-tahu-namanya-neraka-sudah-sangat-mengerikan.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Dari Tahu Namanya, Neraka Sudah Sangat Mengerikan</strong></span></a></li>
</ul>
 