
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimanakah cara melaksanakan shalat gerhana?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berikut panduan lengkapnya.</span></p>

<h2><b>Bagi yang Menyaksikan Gerhana Hendaklah Melaksanakan Shalat Gerhana</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seseorang menyaksikan gerhana, hendaklah ia melaksanakan shalat gerhana sebagaimana tata cara yang nanti akan kami utarakan, insya Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu apa hukum shalat gerhana? Pendapat yang terkuat, bagi siapa saja yang melihat gerhana dengan mata telanjang, maka ia wajib melaksanakan shalat gerhana.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalilnya adalah sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”</span><i><span style="font-weight: 400;">Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">2</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena dari hadits-hadits yang menceritakan mengenai shalat gerhana mengandung kata perintah (jika kalian melihat gerhana tersebut, shalatlah: kalimat ini mengandung perintah). Padahal menurut kaedah ushul fiqih, </span><i><span style="font-weight: 400;">hukum asal perintah adalah wajib</span></i><span style="font-weight: 400;">. Pendapat yang menyatakan wajib inilah yang dipilih oleh Asy Syaukani, Shidiq Hasan Khoon, dan Syaikh Al Albani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><b>Catatan</b><span style="font-weight: 400;">: Jika di suatu daerah tidak nampak gerhana, maka tidak ada keharusan melaksanakan shalat gerhana. Karena shalat gerhana ini diharuskan bagi siapa saja yang melihatnya sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.</span></p>
<h2><b>Waktu Pelaksanaan Shalat Gerhana</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Waktu pelaksanaan shalat gerhana adalah mulai ketika gerhana muncul sampai gerhana tersebut hilang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Al Mughiroh bin Syu’bah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِىَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”</span><i><span style="font-weight: 400;">Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya, berdo’alah pada Allah, lalu shalatlah hingga gerhana tersebut hilang (berakhir).</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">3</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Shalat gerhana juga boleh dilakukan pada waktu terlarang untuk shalat. Jadi, jika gerhana muncul setelah Ashar, padahal waktu tersebut adalah waktu terlarang untuk shalat, maka shalat gerhana tetap boleh dilaksanakan. Dalilnya adalah:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”</span><i><span style="font-weight: 400;">Jika kalian melihat kedua gerhana matahari dan bulan, bersegeralah menunaikan shalat</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span><span style="font-weight: 400;">4</span><span style="font-weight: 400;"> Dalam hadits ini tidak dibatasi waktunya. Kapan saja melihat gerhana termasuk waktu terlarang untuk shalat, maka shalat gerhana tersebut tetap dilaksanakan.</span></p>
<h2><b>Hal-hal yang Dianjurkan Ketika Terjadi Gerhana</b></h2>
<p><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">: perbanyaklah dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan bentuk ketaatan lainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span><span style="font-weight: 400;">5</span></p>
<p><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">: keluar mengerjakan shalat gerhana secara berjama’ah di masjid.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini sebagaimana dalam hadits dari ’Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengendari kendaraan di pagi hari lalu terjadilah gerhana. Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melewati kamar istrinya (yang dekat dengan masjid), lalu beliau berdiri dan menunaikan shalat.</span><span style="font-weight: 400;">6</span><span style="font-weight: 400;"> Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendatangi tempat shalatnya (yaitu masjidnya) yang biasa dia shalat di situ.</span><span style="font-weight: 400;">7</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hajar mengatakan, ”Yang sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah mengerjakan shalat gerhana di masjid. Seandainya tidak demikian, tentu shalat tersebut lebih tepat dilaksanakan di tanah lapang agar nanti lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.”</span><span style="font-weight: 400;">8</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu apakah mengerjakan dengan jama’ah merupakan syarat shalat gerhana? Perhatikan penjelasan menarik berikut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, ”Shalat gerhana secara jama’ah bukanlah syarat. Jika seseorang berada di rumah, dia juga boleh melaksanakan shalat gerhana di rumah. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalatlah”.</span><span style="font-weight: 400;">9</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits ini, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam tidak mengatakan, ”(Jika kalian melihatnya), shalatlah kalian di masjid.” Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa shalat gerhana diperintahkan untuk dikerjakan walaupun seseorang melakukan shalat tersebut sendirian. Namun, tidak diragukan lagi bahwa menunaikan shalat tersebut secara berjama’ah tentu saja lebih utama (afdhol). Bahkan lebih utama jika shalat tersebut dilaksanakan di masjid karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan shalat tersebut di masjid dan mengajak para sahabat untuk melaksanakannya di masjid. Ingatlah, dengan banyaknya jama’ah akan lebih menambah kekhusu’an. Dan banyaknya jama’ah juga adalah sebab terijabahnya (terkabulnya) do’a.”</span><span style="font-weight: 400;">10</span></p>
<p><b>Ketiga</b><span style="font-weight: 400;">: wanita juga boleh shalat gerhana bersama kaum pria</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَتَيْتُ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – زَوْجَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ ، وَإِذَا هِىَ قَائِمَةٌ تُصَلِّى فَقُلْتُ مَا لِلنَّاسِ فَأَشَارَتْ بِيَدِهَا إِلَى السَّمَاءِ ، وَقَالَتْ سُبْحَانَ اللَّهِ . فَقُلْتُ آيَةٌ فَأَشَارَتْ أَىْ نَعَمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: “Kenapa orang-orang ini?” Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah)”. Saya bertanya: “Tanda (gerhana)?” Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.”</span><span style="font-weight: 400;">11</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukhari membawakan hadits ini pada bab:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">صَلاَةِ النِّسَاءِ مَعَ الرِّجَالِ فِى الْكُسُوفِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Shalat wanita bersama kaum pria ketika terjadi gerhana matahari.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hajar mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَشَارَ بِهَذِهِ التَّرْجَمَة إِلَى رَدّ قَوْل مَنْ مَنَعَ ذَلِكَ وَقَالَ : يُصَلِّينَ فُرَادَى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Judul bab ini adalah sebagai sanggahan untuk orang-orang yang melarang wanita tidak boleh shalat gerhana bersama kaum pria, mereka hanya diperbolehkan shalat sendiri.”</span><span style="font-weight: 400;">12</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesimpulannya, wanita boleh ikut serta melakukan shalat gerhana bersama kaum pria di masjid. Namun, jika ditakutkan keluarnya wanita tersebut akan membawa fitnah (menggoda kaum pria), maka sebaiknya mereka shalat sendiri di rumah.</span><span style="font-weight: 400;">13</span></p>
<p><b>Keempat</b><span style="font-weight: 400;">: menyeru jama’ah dengan panggilan ’ash sholatu jaami’ah’ dan tidak ada adzan maupun iqomah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أنَّ الشَّمس خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَبَعَثَ مُنَادياً يُنَادِي: الصلاَةَ جَامِعَة، فَاجتَمَعُوا. وَتَقَدَّمَ فَكَبرَّ وَصلَّى أربَعَ رَكَعَاتٍ في ركعَتَين وَأربعَ سَجَدَاتٍ.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.”</span><span style="font-weight: 400;">14</span><span style="font-weight: 400;"> Dalam hadits ini tidak diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dan iqomah. Jadi, adzan dan iqomah tidak ada dalam shalat gerhana.</span></p>
<p><b>Kelima</b><span style="font-weight: 400;">: berkhutbah setelah shalat gerhana</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disunnahkah setelah shalat gerhana untuk berkhutbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Ishaq, dan banyak sahabat</span><span style="font-weight: 400;">15</span><span style="font-weight: 400;">. Hal ini berdasarkan hadits:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">عَنْ عَائِشةَ رَضي الله عَنْهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشمسُ عَلَى عَهدِ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم. فَقَامَ فَصَلَّى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم بالنَّاس فَأطَالَ القِيَام، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأطَالَ القيَامَ وَهو دُونَ القِيَام الأوَّلِ، ثم رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكوعَ وهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُم سَجَدَ فَأطَالَ السُّجُودَ، ثم فَعَلَ في الركعَةِ الأخْرَى مِثْل مَا فَعَل في الركْعَةِ الأولى، ثُمَّ انصرَفَ وَقَدْ انجَلتِ الشَّمْسُ، فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">” إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا”.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">ثم قال: ” يَا أمةَ مُحمَّد ” : والله مَا مِنْ أحَد أغَْيَرُ مِنَ الله سُبْحَانَهُ من أن يَزْنَي عَبْدُهُ أوْ تَزني أمَتُهُ. يَا أمةَ مُحَمد، وَالله لو تَعْلمُونَ مَا أعلم لضَحكْتُمْ قَليلاً وَلَبَكَيتم كثِيراً “.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah itu beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi selanjutnya bersabda,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”</span><span style="font-weight: 400;">16</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Khutbah yang dilakukan adalah </span><span style="font-weight: 400;">sekali sebagaimana shalat ’ied, bukan dua kali khutbah</span><span style="font-weight: 400;">. Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Imam Asy Syafi’i.</span><span style="font-weight: 400;">17</span></p>
<h2><b>Tata Cara Shalat Gerhana</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua raka’at dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun, para ulama berselisih mengenai tata caranya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada yang mengatakan bahwa shalat gerhana dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada sekali ruku’, dua kali sujud. Ada juga yang berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada dua kali ruku’, dua kali sujud. Pendapat yang terakhir inilah yang lebih kuat sebagaimana yang dipilih oleh mayoritas ulama.</span><span style="font-weight: 400;">18</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini berdasarkan hadits-hadits tegas yang telah kami sebutkan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.”</span><span style="font-weight: 400;">19</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.”</span><span style="font-weight: 400;">20</span></p>
<p><b>Ringkasnya</b><span style="font-weight: 400;">, tata cara shalat gerhana -sama seperti shalat biasa dan bacaannya pun sama-, urutannya sebagai berikut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[1] Berniat di dalam hati dan tidak dilafadzkan karena melafadzkan niat termasuk perkara yang tidak ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam juga tidak pernah mengajarkannya lafadz niat pada shalat tertentu kepada para sahabatnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[2] Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[3] Membaca do’a istiftah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaherkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">جَهَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjaherkan bacaannya ketika shalat gerhana.” (HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[4] Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[5] Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ’SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD’</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[6] Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[7] Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[8] Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[9] Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[10] Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[11] Tasyahud.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[12] Salam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[13] Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak. </span><span style="font-weight: 400;">21</span></p>
<h2><b>Nasehat Terakhir</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Saudaraku, takutlah dengan fenomena alami ini. Sikap yang tepat ketika fenomena gerhana ini adalah takut, khawatir akan terjadi hari kiamat. Bukan kebiasaan orang seperti kebiasaan orang sekarang ini yang hanya ingin menyaksikan peristiwa gerhana dengan membuat album kenangan fenomena tersebut, tanpa mau mengindahkan tuntunan dan ajakan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika itu. Siapa tahu peristiwa ini adalah tanda datangnya bencana atau adzab, atau tanda semakin dekatnya hari kiamat. Lihatlah yang dilakukan oleh Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى زَمَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَامَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ فَقَامَ يُصَلِّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ مَا رَأَيْتُهُ يَفْعَلُهُ فِى صَلاَةٍ قَطُّ ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الآيَاتِ الَّتِى يُرْسِلُ اللَّهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menuturkan, ”Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda,”Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya. Gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Akan tetapi Allah menjadikan demikian untuk menakuti hamba-hamba-Nya. Jika kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan memohon ampun kepada Allah.”</span><span style="font-weight: 400;">22</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An Nawawi rahimahullah menjelaskan mengenai maksud kenapa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam takut, khawatir terjadi hari kiamat. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan beberapa alasan, di antaranya:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gerhana tersebut merupakan tanda yang muncul sebelum tanda-tanda kiamat seperti terbitnya matahari dari barat atau keluarnya Dajjal. Atau mungkin gerhana tersebut merupakan sebagian tanda kiamat. </span><span style="font-weight: 400;">23</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hendaknya seorang mukmin merasa takut kepada Allah, khawatir akan tertimpa adzab-Nya. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam saja sangat takut ketika itu, padahal kita semua tahu bersama bahwa beliau shallallahu ’alaihi wa sallam adalah hamba yang paling dicintai Allah. Lalu mengapa kita hanya melewati fenomena semacam ini dengan perasaan biasa saja, mungkin hanya diisi dengan perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia, bahkan mungkin diisi dengan berbuat maksiat. </span><i><span style="font-weight: 400;">Na’udzu billahi min dzalik.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian penjelasan ringkas kami mengenai shalat gerhana . Semoga bermanfaat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel Rumaysho.com</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wisma MTI, Pogung Kidul,</span><a href="http://ypia.or.id"> <span style="font-weight: 400;">sekretariat YPIA</span></a><span style="font-weight: 400;">, 14 Muharram 1431 H</span></p>
<p> </p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/13145-shalat-gerhana-bulan-penumbra-adakah.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Shalat Gerhana Bulan Penumbra, Adakah?</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/13042-gerhana-itu-ada-yang-mengatur.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Gerhana itu Ada yang Mengatur</strong></span></a></li>
</ul>
<p> </p>
<p><b>Footnote:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">1 Sumber bacaan: detik.com</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">2 HR. Bukhari no. 1047</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">3 HR. Bukhari no. 1060 dan Muslim no. 904</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">4 HR. Bukhari no. 1047</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">5 HR. Bukhari no. 1044</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">6 HR. Bukhari no. 1050</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">7 Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/343</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">8 Fathul Bari, 4/10</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">9 HR. Bukhari no. 1043</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">10 Syarhul Mumthi’, 2/430</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">11 HR. Bukhari no. 1053</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">12 Fathul Bari, 4/6</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">13 Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/345</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">14 HR. Muslim no. 901</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">15 Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/435</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">16 HR. Bukhari, no. 1044</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">17 Lihat Syarhul Mumthi’, 2/433</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">18 Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/435-437</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">19 HR. Muslim no. 901</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">20 HR. Bukhari, no. 1044</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">21 Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 349-356, Darul Fikr dan Shohih Fiqih Sunnah, 1/438</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">22 HR. Muslim no. 912</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">23 Syarh Muslim, 3/322</span></p>
 