
<p>Berikut kami buatkan ringkasan qadha dan fidyah Ramadhan.</p>
<p> </p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="208"><strong>Orang yang boleh meninggalkan puasa</strong></td>
<td width="208"><strong>Qadha</strong></td>
<td width="208"><strong>Fidyah</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="208">Sakit yang ada harapan sembuh</td>
<td width="208">√</td>
<td width="208">X</td>
</tr>
<tr>
<td width="208">Sakit yang tidak ada harapan sembuh</td>
<td width="208">X</td>
<td width="208">√</td>
</tr>
<tr>
<td width="208">Lansia yang tidak kuat lagi puasa</td>
<td width="208">X</td>
<td width="208">√</td>
</tr>
<tr>
<td width="208">Musafir karena safar yang mubah (ketika fajar Shubuh sudah meninggalkan batas kota)</td>
<td width="208">√</td>
<td width="208">X</td>
</tr>
<tr>
<td width="208"><strong>Wanita hamil dan menyusui:</strong></td>
<td width="208"><strong> </strong></td>
<td width="208"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="208">A.    Jika khawatir akan dirinya sendiri</td>
<td width="208">√</td>
<td width="208">X</td>
</tr>
<tr>
<td width="208">B.    Jika khawatir akan dirinya dan bayinya</td>
<td width="208">√</td>
<td width="208">X</td>
</tr>
<tr>
<td width="208">C.     Jika khawatir akan bayinya saja</td>
<td width="208">√</td>
<td width="208">√</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p> </p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="312"><strong>Pelanggaran Berat</strong></td>
<td width="312"><strong>Hukuman</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="312">Karena jimak/ bersetubuh di siang hari Ramadhan</td>
<td width="312">1.     Berdosa
<p>2.     Puasanya batal</p>
<p>3.     Qadha’ puasa</p>
<p>4.     Bayar kafarat besar</p>
<p>5.     Wajib imsak (menahan diri dari pembatal hingga tenggelam matahari)</p>
<p>6.     Kena hukuman ta’zir (dari penguasa)</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Referensi tabel di atas:</strong></p>
<ol>
<li>Al-Imta’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fi Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Hamid. Penerbit Darul Manar.</li>
<li>Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah. Cetakan pertama, Tahun 1439 H. As-Sayyid Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri. Penerbit Dar Al-Minhaj.</li>
</ol>
<p>*Fidyah itu memberi makan kepada orang miskin, setiap harinya satu mud (6 ons beras).</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/1140-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Cara Bayar Fidyah</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<h3><strong><span style="font-size: 14pt;">Dalil pendukung</span></strong></h3>
<p>Dalil tentang pensyariatan qadha dan fidyah adalah firman Allah Ta’ala,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ</span></p>
<p>“(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184).</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/8145-tafsir-ayat-puasa-3-tentang-qadha-puasa.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Dalil pendukung qadha’ puasa</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<p>Fidyah kemudian berlaku untuk yang tidak bisa berpuasa secara permanen berdasarkan riwayat Ibnu ‘Abbas.</p>
<p>Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> mengatakan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا ، فَلْيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا</span></p>
<p>“(Yang dimaksud dalam ayat tersebut) adalah untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin.” (HR. Bukhari, no. 4505).</p>
<p> </p>
<p>Sedangkan yang masih kuat puasa, tetap diwajibkan berpuasa berdasarkan ayat,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</span></p>
<p>“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/8231-tafsir-ayat-puasa-5-puasa-menjadi-wajib.html" target="_blank" rel="noopener">Keringanan Tidak Puasa untuk Orang Sakit Hingga Qadha’</a></span></span></strong></p>
<p> </p>
<p>Adapun wanita hamil dan menyusui diharuskan qadha’ karena dimisalkan dengan orang sakit.</p>
<ul>
<li><strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/7700-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui-apakah-wajib-qadha.html" target="_blank" rel="noopener">Dalil bahwa Wanita Hamil dan Menyusui Tetap Ada Qadha’</a></span></strong></li>
<li><strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/429-puasanya-wanita-haidh-dan-menyusui.html" target="_blank" rel="noopener">Puasa Wanita Hamil dan Menyusui</a></span></strong></li>
</ul>
<p> </p>
<p><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-33109 size-full" src="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2022/04/Ketentuan-Qadha-dan-Fidyah-Puasa-Ramadhan-Rumaysho-scaled.jpg" alt="Ketentuan Qadha dan Fidyah Puasa Ramadhan" width="1440" height="2560" srcset="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2022/04/Ketentuan-Qadha-dan-Fidyah-Puasa-Ramadhan-Rumaysho-scaled.jpg 1440w, https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2022/04/Ketentuan-Qadha-dan-Fidyah-Puasa-Ramadhan-Rumaysho-111x197.jpg 111w, https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2022/04/Ketentuan-Qadha-dan-Fidyah-Puasa-Ramadhan-Rumaysho-231x411.jpg 231w, https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2022/04/Ketentuan-Qadha-dan-Fidyah-Puasa-Ramadhan-Rumaysho-768x1365.jpg 768w, https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2022/04/Ketentuan-Qadha-dan-Fidyah-Puasa-Ramadhan-Rumaysho-864x1536.jpg 864w, https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2022/04/Ketentuan-Qadha-dan-Fidyah-Puasa-Ramadhan-Rumaysho-1152x2048.jpg 1152w" sizes="(max-width: 1440px) 100vw, 1440px"></p>
<p> </p>
<p>–</p>
<p>Ahad sore, 1 Ramadhan 1443 H, 3 April 2022</p>
<p>Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p><strong>Artikel<a href="http://www.rumaysho.com"> Rumaysho.Com</a></strong></p>
 