
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Siapa Orang yang Merugi Itu?</strong></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang sudah beramal namun tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari amalannya tersebut, maka ia orang yang merugi. Dan ada orang yang paling merugi lagi, yaitu orang yang tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari amalannya namun ia tidak menyadarinya. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al Kahfi: 103-104).</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/50472-lebih-fokus-dan-perhatian-pada-kualitas-amalan-daripada-memperbanyak-amalan.html" data-darkreader-inline-color="">Lebih Fokus Dan Perhatian Pada Kualitas Amalan Daripada Memperbanyak Amalan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Penjelasan Para Ulama</strong></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Mari kita lihat penjelasan para ulama tentang siapakah mereka orang-orang yang merugi tersebut?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Baghawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">واختلفوا فيهم : قال ابن عباس وسعد بن أبي وقاص : هم اليهود والنصارى . وقيل : هم الرهبان</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Para ulama berbeda pendapat tentang siapa orang yang merugi dalam ayat ini. Ibnu Abbas dan Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan: mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sebagian mufassirin mengatakan: mereka adalah ruhban (pendeta Nasrani)” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al Bagahwi</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ath Thabari membawakan sebuah riwayat dari Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">عن عليّ بن أبي طالب، أنه سئل عن قوله (قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأَخْسَرِينَ أَعْمَالا) قال: هم كفرة أهل الكتاب ، كان أوائلهم على حقّ، فأشركوا بربهم، وابتدعوا في دينهم، الذي يجتهدون في الباطل، ويحسبون أنهم على حقّ، ويجتهدون في الضلالة، ويحسبون أنهم على هدى، فضلّ سعيهم في الحياة الدنيا، وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Ali bin Abi Thalib, ketika ia ditanya tentang firman Allah ta’ala (yang artinya) “</span><i><span style="font-weight: 400;">Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”. </span></i><span style="font-weight: 400;">Beliau menjawab: mereka adalah orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab. Awalnya mereka di atas kebenaran, lalu mereka berbuat syirik terhadap Rabb mereka. Dan mereka membuat kebid’ahan-kebid’ahan, yang mereka lakukan dengan sungguh-sungguh dalam kebatilan. Dan mereka menganggap amalan mereka itu benar. Sehingga mereka pun bersungguh-sungguh dalam kesesatan dan menganggap diri mereka di atas petunjuk. Maka sesatlah mereka dalam kehidupan dunia dan mereka mengira diri mereka sedang melakukan kebaikan” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Ath Thabari</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka orang yang paling merugi amalannya adalah orang-orang yang kufur kepada Allah, diantaranya orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena mereka berbuat syirik kepada Allah namun mereka menganggap diri mereka sedang melakukan kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam kelanjutan ayat:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat” (QS. Al Kahfi: 105).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Imam Al Qurthubi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قال ابن عباس : ( يريد كفار أهل مكة ) . وقال علي : ( هم الخوارج أهل حروراء . وقال مرة : هم الرهبان أصحاب الصوامع )</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ibnu Abbas berkata: yang dimaksud ayat ini adalah orang-orang kafir Mekkah. Ali (bin Abi Thalib) berkata: yang dimaksud ayat ini adalah khawarij penduduk Harura. Dalam kesempatan yang lain, Ali berkata: mereka adalah para pendeta yang tinggal di shuma’ah (tempat ibadah)” (Tafsir Al Qurthubi).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ath Thabari membawakan sebuah riwayat lain dari Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">عن أبي الطفيل، قال: سأل عبد الله بن الكوّاء عليا عن قوله (قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأَخْسَرِينَ أَعْمَالا) قال: أنتم يا أهل حَروراء.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dari Abu Ath Thufail, ia berkata: Abdullah bin Al Kawwa’ bertanya kepada Ali tentang firman Allah ta’ala (yang artinya) “</span><i><span style="font-weight: 400;">Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Ali menjawab: itu adalah kalian wahai penduduk Harura’ (Khawarij)” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Ath Thabari</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka diantara orang yang paling merugi adalah ahlul bid’ah, termasuk di dalamnya kaum Khawarij.  Karena tidak ada pelaku kebid’ahan, kecuali ia mengira sedang melakukan kebaikan dengan kebid’ahanya tersebut. Oleh karena itu Sufyan Ats Tsauri rahimahullah sampai mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إن البدعة أحب إلى إبليس من المعصية لأن البدعة لا يُتاب منها والمعصية يُتاب منها</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kebid’ahan itu lebih dicintai oleh iblis dari pada maksiat, karena pelaku bid’ah sulit bertaubat sedangkan pelaku maksiat mudah bertaubat” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Syarhus Sunnah Al Baghawi</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1/216).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya”</span></i><span style="font-weight: 400;">  (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Dishahihkan oleh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih At Targhib wa At Tarhib</span></i><span style="font-weight: 400;"> no. 54)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan semua orang yang amalannya batil dan tidak sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam baik berupa kekufuran, kesyirikan dan kebid’ahan, maka pelakunya adalah orang-orang yang merugi. Amalannya tidak diridhai oleh Allah dan tidak diterima oleh Allah. Dijelaskan Al Imam Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فقال ” الذين ضل سعيهم ” في الحياة الدنيا ” أي عملوا أعمالا باطلة على غير شريعة مشروعة مرضية مقبولة ” وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا ” أي يعتقدون أنهم على شيء وأنهم مقبولون محبوبون .</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Firman Allah [orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini] maksudnya orang-orang yang mengamalkan amalan-amalan yang batil, tidak sesuai syariat yang diridhai dan diterima oleh Allah. [sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya] maksudnya mereka berkeyakinan bahwa mereka berada di atas kebaikan dan meyakini amalan mereka diterima dan dicintai Allah” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Ibnu Katsir</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ol>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43838-apakah-besar-kecil-pahala-suatu-amalan-tergantung-dari-niatnya.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Besar Kecil Pahala Suatu Amalan Tergantung dari Niatnya?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/40693-kaidah-menampakkan-dan-menyembunyikan-amalan-sunnah.html" data-darkreader-inline-color="">Kaidah Menampakkan Dan Menyembunyikan Amalan Sunnah</a></strong></li>
</ol>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah lindungi kita dari kekufuran, kesyirikan dan kebid’ahan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu waliyyut taufik was saddaad</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color=""> Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></p>
 