
<p>Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p>حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعَبْدُ  بْنُ حُمَيْدٍ وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ  مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ قَتَادَةَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ  مَالِكٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُحْشَرُ  الْكَافِرُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَلَيْسَ الَّذِي  أَمْشَاهُ عَلَى رِجْلَيْهِ فِي الدُّنْيَا قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُ  عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ<br>
قَالَ قَتَادَةُ بَلَى وَعِزَّةِ رَبِّنَا</p>
<p>Zuhair bin Harb menuturkan kepada saya, demikian juga Abdu bin  Humaid, sedangkan lafaznya adalah milik Zuhair, mereka berdua berkata;  Yunus bin Muhammad menuturkan kepada kami. Dia berkata; Syaiban  menuturkan kepada kami dari Qatadah. Dia berkata; Anas bin Malik  menuturkan kepada kami bahwa ada seorang lelaki yang bertanya, “Wahai  Rasulullah, bagaimana cara orang kafir itu dibangkitkan dan dikumpulkan  pada hari kiamat nanti berjalan di atas wajahnya?”. Maka beliau  menjawab, “Bukankah Dzat yang telah membuatnya berjalan di atas kedua  kakinya ketika hidup di dunia berkuasa pula untuk membuatnya berjalan di  atas wajahnya pada hari kiamat kelak?”. Qatadah berkata, “Demi  kemuliaan Rabb kita, sungguh benar Allah Maha kuasa untuk melakukannya.”  (HR. Muslim dalam Kitab Shifat al-Qiyamah wa al-Jannah wa an-Naar)</p>
<p>Hadits yang mulia ini menunjukkan kepada kita berbagai pelajaran penting, di antaranya :</p>
<ol>
<li> Iman kepada hari akhirat</li>
<li>Bagaimana pun senangnya orang kafir di dunia maka di akhirat mereka akan sengsara</li>
<li>Hadits ini menunjukkan sopan santun seorang murid kepada gurunya,  sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat tersebut dengan memanggil Nabi  dengan sebutan Rasulullah bukan dengan langsung menyebut namanya. Maka  demikian pula hendaknya seorang murid memanggil gurunya dengan sebutan  ‘Ustadz’ atau yang semacamnya dan tidak dengan langsung menyebut namanya</li>
<li>Hadits ini menunjukkan kemahakuasaan Allah ta’ala</li>
<li>Hadits ini menunjukkan adanya hari kebangkitan dan pembalasan amal.  Barangsiapa yang melakukan kebaikan di dunia dengan iman dan amal salih  maka akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat, sedangkan orang yang hidup  di dunia dengan kakfiran dan kedurhakaan maka di akhirat dia akan  sengsara</li>
<li>Wajibnya mengimani perkara gaib</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa  sallam benar-benar seorang manusia yang mendapatkan wahyu dari Allah  ta’ala</li>
<li>Hadits ini merupakan mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  dimana beliau mengabarkan kepada kita sesuatu yang belum terjadi di  dunia ini</li>
<li>Di dalamnya terkandung penetapan sifat qudrah/berkuasa bagi Allah ta’ala</li>
<li>Di dalamnya juga terkandung kewajiban untuk membenarkan firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam</li>
<li>Bolehnya bersumpah untuk menegaskan sesuatu tanpa diminta</li>
<li>Bolehnya bersumpah dengan salah satu sifat Allah yang disandarkan kepada-Nya</li>
<li>Penetapan sifat ‘Izzah bagi Allah</li>
<li>Penetapan sifat rububiyah Allah</li>
<li>Bolehnya menyebut Allah dengan ‘Rabb kita’</li>
<li>Hadits ini menunjukkan besarnya pengagungan kaum salaf kepada hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</li>
<li>Hadits ini menunjukkan wajibnya menundukkan akal kepada wahyu</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa akal manusia itu terbatas dan bertingkat-tingkat</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa akal yang sehat akan senantiasa tunduk kepada wahyu bukan malah menentangnya.</li>
<li>Orang kafir akan dibangkitkan dalam keadaan terbalik, kepalanya  berada di bawah dan dia berjalan di atasnya untuk menuju pengadilan  Allah ta’ala (lihat QS. al-Furqan : 34). Wallahu a’lam</li>
</ol>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p>Artikel <a href="https://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
 