
<p>Bagaimana jika ada yang meninggal di masa <em>fatrah</em> (masa kosong di antara dua nabi) seperti orang tua nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p> </p>
<p>Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa ada seseorang yang bertanya,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ أَبِي؟</p>
<p>“Wahai Rasulullah di mana tempat kembali bapakku?”</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">فِي النَّارِ</p>
<p>“<em>Di neraka.</em>”</p>
<p>Ketika orang tersebut berpaling, Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memanggilnya lantas berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار</p>
<p>“<em>Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka</em>.” (HR. Muslim, no. 203)</p>
<p> </p>
<p>Dari hadits di atas kita bisa mengambil beberapa faedah yang kami sarikan dari penjelasan Imam Nawawi:</p>
<p>1- Siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia berada di neraka dan tak bermanfaat hubungan keluarga dekat.</p>
<p>2- Dalam hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa siapa yang mati pada masa <em>fatrah </em>(masa kosong di antara dua nabi) dan saat itu ada kebiasaan orang-orang Arab menyembah berhala, maka ia dihukumi sebagai penduduk neraka. Bukan berarti di masa itu mereka tidak mendapatkan dakwah. Bahkan dakwah dari Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya sudah ada.</p>
<p>3- Ini menunjukkan cara bergaul Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang sangat baik. Kalau orang tua Nabi Muhammad sendiri dinyatakan di neraka dan itu memang terasa berat bagi beliau. Orang tua dari orang yang bertanya pun demikian. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengungkapkan “ayahku dan ayahmu di neraka” menunjukkan bahwa beliau merasa senasib dengannya dalam musibah.</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah </em>membawakan judul bab untuk hadits di atas “Bab: Penjelasan mengenai orang yang di atas kekafiran tempatnya di neraka. Syafa’at dan hubungan kerabat dekat tidaklah bermanfaat untuknya.”</p>
<p>Demikian faedah dari seorang ulama besar Syafi’iyah yaitu Imam Nawawi <em>rahimahullah </em>yang moga bermanfaat untuk kita dalam memahami hadits di atas.</p>
<p> </p>
<p><em>Allahumma zidnaa ‘ilmaa, ya Allah tambahkanlah pada kami ilmu.</em></p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #0000ff;">Referensi:</span></h4>
<p><em>Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim</em>. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 3: 70.</p>
<p> </p>
<p><a href="http://darushsholihin.com/">@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul</a>, 27 Syawal 1437 H</p>
<p>Oleh: <a href="http://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p><a href="http://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a>, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam</p>
 