
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/59456-nasehat-bagi-yang-sulit-jodoh-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""> Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)</a></span></strong></p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>5. Orang tua itu terkadang perlu dilobi!</strong></span></h2>
<p>Betapa banyak pemuda-pemudi yang sudah siap menikah namun terhambat orang tuanya yang menetapkan kriteria-kriteria yang memberatkan:</p>
<ul>
<li>harus lulus dulu,</li>
<li>harus satu suku,</li>
<li>harus dekat-dekat saja,</li>
<li>harus PNS,</li>
<li>harus kaya, dan lain-lain.</li>
</ul>
<p>Maka ketahuilah, orang tua tidak bisa memaksakan semua kehendaknya dalam masalah pernikahan anaknya. Dalam pemilihan calon, wajib atas rida dari anaknya. Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu’anhu</em>, Nabi s<em>hallallahu’alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ</span></p>
<p>“Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana persetujuan seorang perawan?.” Nabi bersabda “Dengan diamnya ketika ditanya.” <strong>(HR. Bukhari no.6970, Muslim no.1419)</strong>.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maknanya, pernikahan tidak sah hingga mempelai wanita diminta persetujuan lisannya. Berdasarkan sabda Nabi [حتى تُستأمرَ] menunjukkan tidak sahnya pernikahan hingga ia setuju secara lisan. Namun dalam hadis ini bukan berarti tidak disyaratkan adanya wali dalam pernikahan, bahkan justru terdapat isyarat bahwa disyaratkan adanya wali.” <strong>(<em>Fathul Baari</em>, 9/192)</strong>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/58298-ketika-wanita-muslimah-menikah-dengan-lelaki-non-muslim.html" data-darkreader-inline-color="">Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non Muslim</a></strong></p>
<p>Dan tidak semua kriteria-kriteria dari orang tua harus kita taati. Jika itu kriteria yang melanggar syariat atau membahayakan si anaknya, maka tidak wajib ditaati. Dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu’anhu</em>, Rasulullah s<em>hallallahu’alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ</span></p>
<p>”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang makruf.” <strong>(HR Bukhari no. 7257, Muslim no. 1840)</strong>.</p>
<p>Perkara yang makruf didefinisikan oleh As Sa’di,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه</span></p>
<p>“<em>Al-ma’ruf</em> artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat.” <strong>(<em>Tafsir As Sa’di</em>, 1/194-196)</strong>.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menyatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ويلزم الإنسان طاعة والديه في غير المعصية ، وإن كانا فاسقين … وهذا فيما فيه منفعة لهما ولا ضرر عليه … ؛ لسقوط الفرائض بالضرر . وتحرم الطاعة في المعصية ، ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق</span></p>
<p>“Seseorang wajib taat kepada orang tuanya selama bukan dalam perkara maksiat. Walaupun kedua orang tuanya fasik… ini dalam perkara-perkara yang bermanfaat bagi orang tua dan <strong>tidak membahayakan diri si anak</strong>. Karena semua kewajiban itu gugur jika menimbulkan bahaya. Dan ketaatan itu haram jika dalam perkara maksiat. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada <em>Al-Khaliq</em> (Allah).” <strong>(<em>Al Akhbar Al ‘Alamiyyah min Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah</em>, hal. 170)</strong>.</p>
<p>Namun kriteria-kriteria dari orang tua yang memberatkan tersebut, sebisa mungkin dilobi. Caranya:</p>
<ul>
<li>berikan nasehat yang baik pada orang tua,</li>
<li>gunakan bahasa yang sopan dan lemah lembut,</li>
<li>cari waktu yang tepat,</li>
<li>beri hadiah,</li>
<li>tunjukkan anda sudah punya rencana matang untuk berumah tangga,</li>
<li>coba berkali-kali, dan</li>
<li>minta hidayah dari Allah untuk orang tua.</li>
</ul>
<p>Adapun kriteria-kriteria dari orang tua yang baik dan tidak memberatkan, maka hendaknya ditaati.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/57936-masuk-islam-haruskah-mengulang-akad-nikah.html" data-darkreader-inline-color="">Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong> 6. Minta bantuan perantara yang shaleh dan dipercaya</strong></span></h2>
<p>Jika sulit menemukan calon pasangan, maka mintalah bantuan kepada orang lain yang dipercaya untuk mencarikan calon pasangan yang baik. Perantara tersebut bisa:</p>
<ul>
<li>ustazmu atau ustazahmu,</li>
<li>temanmu yang shaleh dan dipercaya,</li>
<li>karib kerabatmu yang bisa dipercaya,</li>
<li>saudara atau keluarga dari calon pasangan, yang bisa dipercaya, dan lain-lain.</li>
</ul>
<p>Sebagaimana pernikahan Rasulullah s<em>hallallahu’alaihi wa sallam </em>dengan Khadijah yang diperantarai oleh Nafisah binti Muniyyah dan paman-paman Rasulullah <strong>(<em>Rahiqul Makhtum</em>, Syekh Shafiyurahman Al Mubarakfuri, hal 13-15, Asy Syamilah)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>7. Berdoa dan istikharah</strong></span></h2>
<p>Jangan lalai untuk terus memperbanyak doa kepada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan jodoh manusia. Dan kesulitan atau kemudahan, itu semua atas kehendak Allah. Dan hanya Allah yang dapat mengangkat semua kesulitan. Allah <em>ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ</span></p>
<p><em>“jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri.”</em> <strong>(QS. Al An’am: 17)</strong>.</p>
<p>Allah <em>ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ</span></p>
<p>“<em>Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.</em>” <strong>(QS. An Nahl: 53)</strong>.</p>
<p>Maka berdoalah kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah akan kabulkan. Allah <em>ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ</span></p>
<p><em>“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”</em> <strong>(QS. Ghafir: 60)</strong>.</p>
<p>Ketika sudah ada calon pasangan yang diharapkan, dianjurkan salat <em>istikharah,</em> atau berdoa <em>istikharah</em> walaupun tanpa salat.</p>
<p>Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,“Boleh, dianjurkan untuk melakukan <em>istikharah</em> walaupun tanpa salat <em>istikharah.</em> Jika ia sedang haid atau ia dalam perkara yang butuh segera dilakukan, hendaknya ia <em>istikharah</em> (yaitu, membaca doa <em>istikharah)</em> tanpa melakukan salat. Ini tidak mengapa.” <strong>(<em>Fatawa Nurun ‘alad Darbi </em>no. 20949)</strong>.</p>
<p>Semoga yang sampai sekarang masih sulit jodohnya, segera Allah mudahkan, dan semoga Allah beri taufik untuk mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57637-janji-allah-akan-menolong-orang-yang-menikah-untuk-menjaga-kehormatan.html" data-darkreader-inline-color="">Janji Allah Akan Menolong Orang yang Menikah Untuk Menjaga Kehormatan</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/54747-apakah-mengadakan-walimatul-urs-wajib.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Wajib Mengadakan Walimatul Urs Ketika Menikah?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><em>Wallahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi.</em></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color="">Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 