
<h1><b>Wanita yang Diceraikan Suaminya, Siapa yang Menafkahi?</b></h1>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Setahu saya nafkah adalah kewajiban bagi suami, sedangkan istri tidak wajib mencari nafkah. Lalu bagaimana jika ada seorang istri yang diceraikan suaminya, siapa yang menafkahi wanita tersebut? Terima kasih atas jawabannya.</span></i></p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang wanita yang diceraikan suaminya, jika talaknya talak satu atau talak dua, dan masih dalam masa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘iddah</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka statusnya masih suami-istri sehingga wajib dinafkahi oleh suaminya. Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">والْمُطَـلَّقَـتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَـلَـثَـةَ قُرُوْءٍۗ …</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan dirinya sampai tiga kali quru’”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Qs. al-Baqarah: 228).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Baghawi menjelaskan dalam tafsirnya:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">أي يعتددن بترك الزينة والطيب والنقلة على فراق أزواجهن</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maksud ayat ini adalah: mereka (para wanita) wajib menjalani masa iddah dengan tidak bersolek, tidak menggunakan parfum, dan tidak pergi dari rumah suaminya ketika dicerai oleh suaminya”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">juga berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jangan kalian (para suami) mengeluarkan istri-istri kalian (yang telah ditalak) dari rumah kalian, dan mereka (para wanita) tidak boleh keluar dari rumah suaminya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. ath-Thalaq: 1).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ulama ijma’ (sepakat) akan hal ini. Imam asy-Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لم أعلَمْ مُخالِفًا من أهلِ العِلمِ في أنَّ المُطَلَّقةَ التي يَملِكُ زَوجُها رَجعَتَها في معاني الأزواجِ؛ في أنَّ عليه نفقَتَها وسُكناها</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak saya ketahui adanya khilaf di antara ulama bahwa wanita yang ditalak yang masih bisa dirujuk oleh suami, mereka statusnya masih suami-istri. Sehingga wajib diberi nafkah dan tempat tinggal” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Umm</span></i><span style="font-weight: 400;">, 5/253).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun istri yang ditalak tiga atau ditinggal mati suaminya, maka kewajiban nafkahnya kembali kepada ayah dari si wanita tersebut. Jika memang wanita tersebut tidak punya penghasilan dan dalam keadaan miskin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadis dari Suraqah bin Malik </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">يا سُراقةُ، ألَا أدُلُّكَ على أعظَمِ الصَّدَقةِ أو من أعظَمِ الصَّدَقةِ؟ قال: بَلى يا رسول اللهِ، قال: ابنَتُكَ مَردودةٌ إليكَ، ليس لها كاسبٌ غيرُكَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Wahai Suraqah, maukah aku kabarkan kepadamu sedekah yang paling agung?” Suraqah berkata: “Tentu wahai Rasulullah”. Rasulullah bersabda: “(engkau nafkahi) anak perempuanmu yang dikembalikan kepadamu, yang ia tidak memiliki penghasilan kecuali darimu”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Ibnu Majah no.3667, dishahihkan Syu’aib al-Arnauth dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Takhrij Musnad Ahmad</span></i><span style="font-weight: 400;"> no.17586).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">At-Thibi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan hadis ini:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">هي التي تطلق وترد إلى بيت أبيها</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maksudnya wanita yang ditalak dan dikembalikan ke rumah ayahnya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Kasyif ‘an Haqaiq as-Sunan</span></i><span style="font-weight: 400;">, 10/3197).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena pada dasarnya nafkah anak perempuan adalah kewajiban ayahnya. Ketika anak perempuan ini menikah, maka kewajiban tersebut berpindah kepada suaminya. Namun ketika sudah ditinggal suaminya maka kewajibannya kembali kepada ayahnya lagi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan kewajiban ini jatuh bagi ayahnya sang wanita jika memenuhi semua syarat berikut ini:</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Sang ayah mampu untuk menafkahi.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Sang anak wanita dalam keadaan butuh nafkah atau miskin.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini yang dimaksud “</span><i><span style="font-weight: 400;">yang ia tidak memiliki penghasilan kecuali darimu</span></i><span style="font-weight: 400;">” dalam hadis. Jika dua syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada kewajiban bagi ayahnya untuk menafkahi. Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. al-Baqarah: 286).</span></p>
<p><b>Bagaimana jika ayahnya sudah tidak ada?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ayahnya sudah tiada atau tidak mampu menafkahi, maka kewajiban nafkahnya kembali kepada para kerabatnya. Seperti anaknya, kakeknya, kakak atau adiknya, pamannya, dan seterusnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ … (232) وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan jika kalian menceraikan istri kalian … Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan ahli waris pun berkewajiban demikian” (QS. al-Baqarah: 233).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ayat “dan ahli waris pun berkewajiban demikian”, beliau berkata:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">فدل على وجوب نفقة الأقارب المعسرين, على القريب الوارث الموسر</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ayat ini menunjukkan kerabat yang berkemampuan </span><b>WAJIB</b><span style="font-weight: 400;"> menafkahi kerabat yang kurang mampu” (Tafsir as-Sa’di).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga sebagaimana hadis dari Jabir bin Abdillah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu ’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">ابْدَأْ بنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فإنْ فَضَلَ شيءٌ فَلأَهْلِكَ، فإنْ فَضَلَ عن أَهْلِكَ شيءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ، فإنْ فَضَلَ عن ذِي قَرَابَتِكَ شيءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mulailah dari dirimu sendiri, berilah nafkah pada dirimu. Jika ada kelebihan, maka berilah nafkah pada keluargamu. Jika sudah menafkahi keluargamu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah kerabatmu. Jika sudah menafkahi kerabatmu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah yang terdekat dan seterusnya” (HR. Muslim no. 997).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadis ini menunjukkan wajibnya memberi nafkah kepada kerabat yang membutuhkan nafkah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Andaikan tidak ada dari kalangan kerabat yang mampu menafkahi atau mereka tidak mau menafkahi, maka hendaknya wanita ini bersabar, tawakal, dan memohon pertolongan kepada Allah, serta berusaha untuk mencari penghidupan sesuai yang Allah mudahkan untuknya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan wanita yang demikian, jika dalam kondisi miskin, maka berhak untuk menerima harta zakat dari kaum Muslimin. Dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِينِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوِ القَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang yang bekerja menyalurkan harta zakat kepada para janda dan orang miskin, sebagaimana orang yang berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang tahajud di malam hari dan puasa di siang hari“ (HR. Bukhari no.5353 dan Muslim no.2982).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun juga kami menyarankan kepada para janda yang demikian kondisinya agar mempertimbangkan untuk menikah lagi. Karena menikah itu menjalankan ibadah dan sunnah Nabi.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam.</span></i></p>
<p><span style="font-size: inherit;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh Ustadz </span><span style="font-weight: 400;">Yulian Purnama, S.Kom.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong>:</li>
</ul>
<p>BANK SYARIAH INDONESIA<br>
7086882242<br>
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK<br>
Kode BSI: 451</p>
 