
<p>Saudariku tercinta, tak terasa kita telah memasuki penghujung bulan Ramadhan. Oleh karenanya, kami sajikan sedikit pembahasan mengenai keistimewaan 10 hari terakhir Ramadhan beserta amalan yang dapat kita lakukan di hari-hari tersebut. Harapannya, tulisan ini dapat memotivasi saya pribadi dan saudari-saudariku semua untuk bersemangat dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita karena sesungguhnya amal itu tergantung dengan penutupnya.</p>
<p><strong>Keistimewaan 10 Hari Terakhir Ramadhan</strong></p>
<p>Keistimewaan terbesar yang terdapat pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah <em>lailatul qadar</em>. <em>Lailatul qadar </em>merupakan malam diturunkannya Alquran. Malam tersebut istimewa karena ia lebih baik dibandingkan 1000 bulan sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (۲) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (۳) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ((٥</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al</em><em>q</em><em>uran) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Para </em><em>m</em><em>alaikat dan </em><em>a</em><em>r-Ruh (Jibril) turun dengan izin Rabb-nya untuk mengurus setiap urusan. Keselamatan pada malam itu hingga terbit fajar</em>.” (QS. Al-Qadr : 1-5)</p>
<p>Oleh karena itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>lebih bersemangat untuk beribadah ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan dalam rangka mencari <em>lailatul qadar.</em> ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>berkata,</p>
<p style="text-align: right;">كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)</p>
<p>Beliau pun juga memotivasi umatnya untuk mencari <em>lailatul qadar </em>terutama di malam-malam yang ganjil, sebagaimana sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: right;">تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ</p>
<p>“<em>Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan</em>.” (HR. Al-Bukhari no. 2017)</p>
<p><strong>Amalan di 10 Hari Terakhir Ramadhan</strong></p>
<p>Beberapa amalan yang dapat dilakukan untuk mengisi 10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>
<strong><em>I’tikaf </em></strong><strong>di Masjid</strong>
</li>
</ol>
<p><em>I’tikaf </em>adalah berdiam diri di masjid dengan melakukan ketaatan kepada Allah. Ketika seseorang melakukan <em>i’tikaf </em>maka ia mendekatkan diri kepada Allah <em>Ta’ala</em>, menahan jiwanya untuk bersabar dalam ibadah, memutus hubungan dengan  makhluk untuk berkomunikasi dengan <em>Khaliq</em><em>–</em>nya, mengosongkan hati dari kesibukan dunia yang menghalanginya dari mengingat Allah <em>Ta’ala</em> dan sibuk beribadah dengan melakukan dzikir, membaca Alquran, shalat, berdoa, bertaubat, dan beristigfar.</p>
<p><em>I’tikaf </em>dianjurkan setiap waktu, tetapi lebih ditekankan ketika masuk bulan Ramadhan. Dahulu Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam </em>melakukan <em>i’tikaf </em>di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan sebagaimana hadits dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ber</em><em>-i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri beliau ber</em><em>-i’tikaf setelah itu.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)</p>
<p>Dari hadits tersebut, dapat kita simpulkan bahwa seorang wanita juga dianjurkan untuk melakukan <em>i’tikaf </em>karena dahulu para istri Nabi tetap melakukan <em>i’tikaf </em>sepeninggal beliau.</p>
<ol start="2">
<li><strong><em>Qiyamul Lail</em></strong></li>
</ol>
<p>Di antara amalan yang istimewa di 10 hari terakhir Ramadhan adalah bersungguh-sungguh dalam shalat malam, memperlama shalat dengan memperpanjang berdiri, ruku’, dan sujud. Demikian pula memperbanyak bacaan Alquran dan membangunkan keluarga dan anak-anak untuk bergabung melaksanakan shalat malam. Rasulullah <em>shallall</em><em>ahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang berdiri (untuk mengerjakan shalat) pada lailatul qadr karena keimanan dan hal mengharap pahala, akan diampuni untuknya segala dosanya yang telah berlalu.” (HR. </em><em>Al-Bukhari no. 1901)</em></p>
<ol start="3">
<li>
<strong>Membaca Al</strong><strong>q</strong><strong>uran</strong>
</li>
</ol>
<p>Hendaknya seseorang bersemangat untuk <em>tilawah </em>Alquran karena Ramadhan merupakan waktu turunnya Alquran. Demikian pula karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menyetorkan bacaan Alquran kepada Jibril ketika Ramadhan, sebagaimana hadits dari Fathimah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أنّ جبريل عليه السلام كان يعارضه القرآن كل عام مرةً وأنّه عارضه في عام وفاته مرتي</strong>ن</p>
<p>‘<em>Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam</em> <em>biasanya menyetorkan Al</em><em>q</em><em>uran</em> <em>dengan Rasulullah sekali dalam setiap tahun. Akan tetapi, ia menyetorkan Al</em><em>q</em><em>uran</em> <em>dua kali di tahun wafatnya Rasulullah.</em>’ (HR. Muslim no. 2450)</p>
<ol start="4">
<li><strong><em>Shadaqah</em></strong></li>
</ol>
<p>Di antara amalan yang dianjurkan ketika bulan Ramadhan adalah ber-<em>shadaqah</em>. Dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>beliau berkata,</p>
<p style="text-align: right;">كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ النَّاسِ بِالْخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ، إِنَّ جِبْرِيْلَ َعَلْيْهِ السَّلَام ُكَانَ يَلْقَاهُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ فِيْ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخُ فَيعْرضُ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيْهِ جِبْرِيْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْمُرْسَلَةِ</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan manusia paling dermawan dengan kebaikan dan beliau lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan. Sesungguhnya Jibril menemui beliau setiap tahun di bulan Ramadhan hingga berlalulah bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetorkan bacaan Al</em><em>q</em><em>uran kepada Jibril. Apabila beliau berjumpa dengan Jibril, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dengan kebajikan melebihi angin yang berhembus.</em>” (HR. Al-Bukhari no. 3220)</p>
<ol start="5">
<li><strong>Memperbanyak Doa</strong></li>
</ol>
<p>Hendaknya seseorang banyak berdoa di 10 hari terakhir Ramadhan karena jika doanya bertepatan dengan malam <em>lailatul qadar</em> maka doanya akan terkabul. Demikian pula, hendaknya seseorang berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em>,</em> sebagaimana hadits dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> ketika bertanya tentang doa yang diucapkan ketika <em>lailatul qadar</em>,</p>
<p style="text-align: right;">قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى</p>
<p>“Berdoalah: <em>Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni</em> (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. At-Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850, At Tirmidzi berkata: “Hasan shahih”)</p>
<ol start="6">
<li><strong>Bertaubat dan Istigfar</strong></li>
</ol>
<p>Di antara amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan di bulan Ramadhan adalah memperbanyak taubat dan istigfar karena bulan Ramadhan adalah bulan ampunan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman dalan hadits <em>qudsi</em>,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَادَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ فِيْكَ وَلاَأُبَالِىْ يَاابْنَ آدَمَ لَؤْ بَلَغَتْ ذُنُوْ بُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِيْ يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً</strong></p>
<p>“<em>Wahai bani Adam, sesungguhnya selama engkau masih berdoa dan berharap kepada-Ku maka Aku akan mengampuni semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak akan peduli. Wahai bani Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan seukuran bumi kemudian engkau datang menjumpai-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik atau menyekutukan-Ku dengan apapun juga maka sungguh Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan seukuran bumi juga</em>.” (HR. At-Tirmidzi no. 3540, dihasankan al-Albani dalam <em>Shahih </em><em>at</em><em>-Targhib</em>, no. 1616)</p>
<p><strong>Lantas, Bagaimana Jika Haid?</strong></p>
<p>Haid merupakan kodrat seorang wanita, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>kepada ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَاقْضِي مَا يَقْضِي الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ</p>
<p><em>“Haid merupakan keadaan yang Allah tetapkan untuk anak perempuan Adam.” </em>(HR.Al- Bukhari 294, Muslim 1211, dan yang lainnya)</p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya seorang muslimah bersabar dalam menerima ketetapan dari Allah tersebut. Meskipun, ia tidak boleh melakukan puasa dan shalat, tetapi wanita yang haid dapat melakukan ibadah-ibadah lain yang tak kalah besar pahalanya. Di antaranya adalah berdzikir, sedekah, memperbanyak doa, membaca Alquran tanpa menyentuhnya, memperbanyak taubat, dan istigfar.</p>
<p><strong>Waspadai Pencuri Ramadhan!</strong></p>
<p>10 hari terakhir Ramadhan merupakan waktu yang sangat rawan terutama bagi seorang wanita. Di antara aktivitas yang semestinya diwaspadai oleh seorang muslimah adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Sibuk Memasak di Dapur</li>
</ol>
<p>Menjelang lebaran, umumnya wanita banyak pergi ke pasar dan berkutat di dapur untuk membuat kue dan menyiapkan hidangan untuk lebaran. Hal ini menyebabkan mereka lalai dari beribadah. Hendaknya seorang muslimah menyadari keistimewaan 10 hari terakhir Ramadhan sehingga ia tidak menghabiskan banyak waktu di pasar dan di dapur.</p>
<ol start="2">
<li>Mengejar Diskon Lebaran</li>
</ol>
<p>Menjelang lebaran, banyak took, dan <em>mall</em> yang menawarkan potongan harga besar-besaran. Hal ini mendorong mayoritas kaum muslimin untuk berbondong-bondong belanja baju lebaran. Akibatnya, toko dan <em>mall</em> menjadi sangat ramai sebaliknya masjid menjadi sangat sepi. Sangat disayangkan ketika kaum muslimin lebih tergiur dengan diskon lebaran dibandingkan diskon pahala. Muslimah yang berakal tentu akan memilih untuk meraup pahala Ramadhan sehingga ia tidak akan sibuk memikirkan baju lebaran.</p>
<ol start="3">
<li>Menghabiskan Waktu di Jalan</li>
</ol>
<p>Di antara tradisi menjelang lebaran adalah mudik ke kampung halaman. Hendaknya seorang muslimah memilih waktu yang tepat dan transportasi yang efisien sehingga dapat menghemat waktu dan tidak berlama-lama di perjalanan. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar seorang muslimah tetap dapat beribadah secara maksimal di 10 hari terakhir bulan Ramadhan sekaligus dapat menyambung tali silaturahim dengan keluarga.</p>
<p>Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memberikan kita taufik untuk mengoptimalkan 10 hari Ramadhan dan menerima amal ibadah yang kita lakukan. <em>A</em><em>a</em><em>mi</em><em>i</em><em>n.</em></p>
<p>Referensi:</p>
<p><em>Ithaf Ahlil Iman bi Durus Syahri Ramadhan. </em>Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah al-Fauzan. <em>Darul ‘Ashimah</em>. Saudi.</p>
<p>Penerjemah: Deni Putri K</p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 