
<p><strong>Hidup kaya tidak tercela</strong></p>
<p>Masya Allah, “Sudah kaya, taat beragama, rajin beribadah, berinfak  pun tidak pernah putus.” Demikianlah kira-kira pujian terhadap orang  yang memiliki banyak harta, berakhlak baik, dan taat menjalankan  perintah agama.</p>
<p>Bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi harta kekayaan yang  dimilikinya? Haruskah dia kaya atau biasa-biasa saja? Ataukah menerima  apa adanya?</p>
<p>Harta kekayaan merupakan nikmat Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> yang harus disyukuri. Kaya di dunia bukan satu hal yang tercela. Namun,  yang menimbulkan cela adalah perilaku orang yang berduit yang rakus dan  tamak terhadap harta. Dalam rangka menumpuk harta, mereka tak  segan-segan menggunakan cara yang tidak halal. Setelah berhasil  meraihnya, mereka tidak menunaikan haknya, bakhil, membelanjakan harta  bukan pada tempatnya, atau bahkan sombong karenanya, sehingga Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> berfirman (yang artinya), ”<em>Sesungguhnya,  manusia diciptakan bersifat berkeluh-kesah lagi kikir. Apabila ia  ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia  amat kikir</em>.” (Q.S. Al-Ma’arij:19–21)</p>
<p>Agar sukses dan bahagia di dunia dan akhirat, Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> mengarahkan para hamba-Nya agar berdoa, sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “<em>Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka</em>.” (Q.S. Al-Baqarah:201)</p>
<p>Imam Khazin <em>rahimahullah</em> menegaskan dalam tafsirnya bahwa Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> membagi umat manusia yang berdoa menjadi dua. <em>Pertama</em>,  kelompok yang hanya berdoa untuk kepentingan dunia. Mereka ini adalah  orang-orang kafir, karena mereka tidak menyakini hari kebangkitan dan  akhirat. Sementara, kelompok lain (kedua), yaitu orang-orang mukmin yang  menggabungkan dalam doa mereka antara kepentingan dunia dan akhirat.  Dengan alasan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah yang selalu  kekurangan, tidak sanggup hidup sengsara dan terlunta-lunta. [1]</p>
<p>Para pendahulu kita, <em>as-salafush shalih</em> dari kalangan shahabat maupun tabi’in telah memberi teladan cara meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Zubair bin Awwam <em>radhiallahu ‘anhu</em>,  misalnya, memiliki empat istri. Meski sepertiga hartanya telah  diwasiatkan, tetapi masing-masing istrinya masih mendapatkan bagian  sebesar satu juta dua ratus dinar. Jumlah harta kekayaan beliau <em>radhiallahu ‘anhu</em> seluruhnya adalah lima puluh juta dua ratus ribu (dinar). [2]</p>
<p>Imam Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> berkomentar, ”Ini menjadi  bantahan terhadap orang-orang zuhud yang tidak berilmu yang tidak suka  mengumpulkan harta kekayaan.” [3]</p>
<p>Oleh karena itu, Islam tidak membiarkan seorang muslim merasa  kebingungan dalam berusaha mencari nafkah. Bahkan, Islam telah  memberikan solusi tuntas dan mengajarkan etika mulia agar mereka  mencapai kesuksesan ketika mengais rezeki, sehingga pintu kemakmuran dan  keberkahan akan terbuka.</p>
<p><strong>Istiqamah dengan harta</strong></p>
<p>Kekayaan kadang membuat manusia lupa kepada Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> yang telah memberi mereka harta. Ini menyebabkan kufur nikmat.</p>
<blockquote>
<p><strong>Jika kekayaan membuat seseorang tetap istiqamah dan taat beragama, harta itu akan mendatangkan manfaat yang sangat banyak.</strong></p>
</blockquote>
<p>Misalnya, dengan hidup berkecukupan maka menutut ilmu menjadi mudah,  beribadah menjadi lancar, bersosialisasi menjadi gampang, bergaul  semakin indah, berdakwah semakin sukses, berumah tangga semakin stabil,  dan beramal saleh semakin tangguh. Oleh karena itu, harta di tangan  seorang mukmin tidak akan berubah menjadi monster perusak kehidupan dan  tatanan sosial serta penghancur kebahagiaan keluarga dan pilar-pilar  rumah tangga. Sebaliknya, harta di tangan seorang muslim bisa berfungsi  sebagai sarana penyeimbang dalam beribadah dan perekat hubungan dengan  makhluk.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Harta terbaik adalah yang dimiliki laki-laki yang saleh</em>.” [4]</p>
<p>Bahkan, harta tersebut akan menjadi sebuah energi yang memancarkan  masa depan cerah dan sebuah kekuatan yang mengandng berbagai macam  keutamaan dan kemuliaan dunia dan akhirat. Harta juga bisa menjadi  penggerak roda dakwah dan jihad di jalan Allah.</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> berfirman (yang artinya), “<em>Dan  mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak  yatim, dan tawanan. ‘Sesungguhnya, kami memberi makanan kepadamu  hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki  balasan dri kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.’</em>” (Q.S. Al-Insan:8–9)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga memberi pujian  kepada seorang muslim yang dermawan dan membelanjakan hartanya dalam  kebaikan. Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Umar <em>radhiallahu ‘anhuma</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Dinar terbaik yang dibelanjakan oleh seseorang lelaki adalah  dinar seseorang yang dibelanjakan untuk nafkah keluarganya.” [5]</p>
<p>Dengan harta yang halal dan bersih, para generasi salaf berlomba dan  berpacu untuk mengejar pahala dan meraih surga. Seperti yang terjadi  pada kehidupan Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang bersaing secara “sehat” dalam berinfak, di jalan Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>, dengan Abu Bakar <em>radhiallahu ‘anhu</em>.</p>
<p>Umar bin Khaththab <em>radhiallahu ‘anhu</em> bercerita, “<em>Suatu  hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami agar  bersedekah, dan ketika itu, saya sedang memiliki banyak harta. Saya  mengatakan, ’Hari ini, saya akan mampu mengungguli Abu Bakar.’ Kemudian,  saya pun datang dengan membawa separuh hartaku untuk disedekahkan.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Apa yang kamu  tinggalkan untuk keluargamu?’ Saya menjawab, ’Saya tinggalkan sejumlah  itu untuk keluargaku.’ Lalu, Abu Bakar datang membawa semua kekayaannya.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Wahai Abu Bakar,  apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu? Ia menjawab, ’Saya tinggalkan  Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.’ Lalu, aku berkata, ’Saya tidak akan  bisa mengunggulimu selamanya.’</em>” [6]</p>
<p><strong>Kenapa rela hidup terhina?</strong></p>
<p>Islam sangat mencela pemalas dan membatasi ruang gerak peminta-minta  serta mengunci rapat semua bentuk ketergantungan hidup pada orang lain,  karena tindakan tersebut akan menimbulkan berbagai macam keburukan dan  kemunduran dalam kehidupan. Alquran juga memuji orang yang bersabar dan  menahan diri dengan tidak meminta uluran tangan orang lain dalam  memenuhi kebutuhan hidup. Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> berfirman (yang artinya), “<em>(Berinfaklah)  kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah;  mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka  bahwa mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu  kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya; mereka tidak meminta kepada  orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan  (di jalan Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui</em>.” (Q.S. Al-Baqarah:273)</p>
<p>Imam Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> berkata, ”Tidaklah ada seseorang yang malas bekerja melainkan ia berada dalam dua keburukan. <em>Pertama</em>,  menelantarkan keluarga dan meninggalkan kewajiban dengan berkedok  tawakal, sehingga hidupnya menjadi batu sandungan orang lain dan  keluarganya berada dalam kesusahan. <em>Kedua</em>, demikian itu suatu  kehinaan yang tidak menimpa kecuali orang yang hina dan gelandangan,  sebab orang yang bermartabat tidak akan rela kehilangan harga diri hanya  karena kemalasan dengan dalih tawakal yang sarat dengan hiasan  kebodohan. Bisa jadi, orang tidak memiliki harta masih tetap punya  peluang dan kesempatan untuk berusaha.” [7]</p>
<p>Bahkan, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberi jaminan surga bagi orang yang mampu memelihara diri dengan tidak meminta-minta, sebagaimana sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam hadis dari Tsauban <em>radhiallahu ‘anhu</em>, “<em>Barang  siapa yang bisa menjaminku untuk tidak meminta-minta suatu kebutuhan  apa pun kepada seseorang maka aku akan menjaminnya dengan surga</em>.” [8]</p>
<p>Seorang muslim harus berusaha hidup berkecukupan, memerangi  kemalasan, bersemangat dalam mencari nafkah, berdedikasi dalam menutupi  kebutuhan, dan rajin bekerja demi memelihara masa depan anak agar mampu  hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain. Penyebabnya, pemalas  yang menjadi beban orang dan pengemis yang menjual harga diri merupakan  manusia paling tercela dan sangat dibenci Islam, seperti yang telah  ditegaskan dalam sebuah hadis dari Abdullah Ibnu Umar <em>radhiallahu ‘anhuma</em> bahwasanya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<strong><em>Tidaklah  sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang di antara kalian  kecuali ia bertemu dengan Allah sementara di wajahnya tidak ada secuil  daging pun</em></strong>.” [9]</p>
<p><em>Bersambung, insya Allah ….</em></p>
<p>Catatan kaki:<br> [1] Lihat tafsir <em>Lubabut Ta’wil</em>, Imam Al-Khazin, 1:124.<br> [2] H.R. Imam Al-Bukhari dalam <em>Shahih</em>-nya, no. 3129 dan Abu Nu’aim dalam <em>Hilyah</em>, hlm. 286.<br> [3] <em>Fathul Bari</em>, Ibnu Hajar, 6:262.<br> [4] H.R. Ahmad dalam <em>Musnad</em> dengan sanad <em>hasan</em>, juz 4, hadis no. 197 dan 202.<br> [5] H.R. Muslim, 2:574 (994).<br> [6] H.R. Tirmidzi, no. 3675; Al-Hakim dalam <em>Al-Mustadrak</em>, 1:414. Beliau <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Sahih.”<br> [7] <em>Talbisul Iblis</em>, Ibnul Jauzi, hlm. 303.<br> [8] H.R. Abu Daud. Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata bahwa sanadnya sahih.<br> [9] H.R. Al-Bukhari, Muslim, dan An-Nasa’i dalam <em>Sunan</em>-nya.</p>
<p><strong>Sumber</strong>: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 12, thn. XIV, Jumadil Ula 1432 H/April 2011 M.<br> <strong>Artikel www.ibnuabbaskendari.wordpress.com</strong><br> <strong>Dipublikasikan ulang oleh <a href="http://www.pengusahamuslim.com">www.PengusahaMuslim.com</a>, disertai penyuntingan bahasa.</strong></p>
 