
<p class="arab" align="right">قَالَ  رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً  لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ  فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي  نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ  يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya.  Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?” </em>Lalu orang menerka-nerka pepohonan  wadhi. Abdullah Berkata: <em>“Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah  pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.”</em> Kemudian mereka berkata: <em>“Wahai  Rasulullah beri tahukanlah kami pohon apa itu?”</em> Lalu beliau menjawab: <em>“ia adalah pohon kurma.”</em></p>
<p><!--more--></p>
<p><strong>Takhrij</strong></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam  shahihnya kitab Al Ilmu, bab <em>Qaulul Muhadits Hadatsanaa</em> no. 61 (1/145-<em>Fathul  Baariiy</em>) dan Muslim dalam shahihnya kitab <em>Sifatul Munafiqin</em> bab <em>Mitslul  Mukmin Matsalun Nakhlah</em> no. 7029 (17/151- <em>Syarah Nawawiy</em>)</p>
<p><strong>Syarah Mufradat (Kosakata)  Hadits</strong></p>
<p>1. <a class="arab">إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ  شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ</a><strong> </strong>: Terdapat persamaan dan penyerupaan seorang muslim dengan pohon yang  tidak gugur daunnya, yaitu pohon kurma.</p>
<p>2. <a class="arab"> فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي </a>: Akal pikiran mereka menerawang kepada  pepohonan di wadhi. Setiap orang menafsirkannya dengan salah satu jenis pepohonan  tersebut, namun lupa dengan pohon kurma. (<em>Syarah Shohih Muslim</em>, 17/152  dan lihat juga <em>Fathul Baariiy</em> 1/146)</p>
<p>3. <a class="arab">الْبَوَادِي</a> : bentuk jamak dari Badiyah yang bermakna dataran  luas yang ada padanya tumbuhan dan air. (Lihat <em>Mu’jamul Waasith,</em> 1/45)</p>
<p>4.  <a class="arab">قَالَ عَبْدُ اللَّهِ</a> : Abdullah ini adalah  Abdullah bin Umar, sahabat yang meriwayatkan hadits ini dari Rasulullah.</p>
<p>5. <a class="arab">فَاسْتَحْيَيْتُ</a> : sebab malu beliau, karena paling kecil dari  para sahabat yang hadir waktu itu, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Bukhari  di kitab <em>Al Ath’imah</em>: “Aku adalah orang kesepuluh dan aku yang  paling kecil.”</p>
<p>6. <a class="arab">هِيَ النَّخْلَة</a>: pohon  kurma. Tentulah pohon ini memiliki keistimewaan sehingga dijadikan sebagai  permisalan bagi seorang muslim. Tidak hanya ini saja bahkan Allah memberikan  permisalan kalimat thoyibah dengan pohon ini dalam firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">أَلَمْ  تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ  أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ  بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ  يَتَذَكَّرُونَ</p>
<p><em>“Tidakkah  kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik  seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,  pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah  membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” </em>(QS.  Ibrahim 24-25)</p>
<p>Ibnu Hajar berkata: “Imam Bukhari telah  membawakan hadits ini juga dalam tafsir firman Allah:</p>
<p class="arab" align="right">أَلَمْ  تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً</p>
<p>Sebagai isyarat dari beliau bahwa yang dimaksud  dengan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Memang telah ada riwayat yang  tegas dari hadits yang dikeluarkan oleh Al Bazaar dari jalan periwayatan Musa  bin ‘Uqbah dari Naafi’ dari Ibnu Umar, beliau menyatakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> membaca ayat ini dan bersabda: “Apakah kalian tahu  pohon apakah itu?” Ibnu Umar menyatakan: “Jelas itu adalah pohon  kurma, namun usiaku yang kecil menahanku untuk berbicara.” Lalu Rasulullah  berkata: <em>“ia adalah pohon Kurma.”</em> (<em>Fathul Baariiy,</em> 1/146)</p>
<p>Dengan demikian, Pohon yang baik di sini  ditafsirkan dengan pohon kurma dan ini adalah pendapat banyak ulama salaf, di  antaranya: Ibnu Abbas, Mujahid, Masruq, Ikrimah, Ad Dhohaak, Qatadah dan Ibnu  Zaid. (Lihat makalah Syaikh Abdirrozzaaq Al ‘Abaad dalam <em>Majalah Al Jaami’ah  Al Islamiyah</em> edisi 107 tahun 29, 1418-1419 hal 205). Pendapat ini dikuatkan  oleh hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibbaan dari jalan periwayatan Abdul Aziz  bin Muslim dari Abdullah bin Dinaar dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda:</p>
<p class="arab" align="right">مَنْ  يُخْبِرُنِيْ عَنْ شَجَرَةٍ مِثْلُهَا مِثْلُ الْمُؤْمِنِ أَصْلُهَا ثَابِتٌ  وَفَرْعُهَا فِيْ السَّمَاءِ</p>
<p><em> “Siapakah  yang dapat menyebutkan kepadaku satu pohon yang menyerupai seorang mukmin,  pokok batangnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit?”.</em> (Dibawakan Ibnu Hajar  dalam <em>Fathul Baariy</em> 1/147)<em> </em></p>
<p>Semua ini menunjukkan pohon kurma memiliki  keutamaan, ketinggian dan keistimewaan. Semua ini telah ditunjukkan dalam ayat  di atas. Namun cukuplah dengan dijadikan sebagai permisalan seorang muslim  menunjukkan ketinggian dan keistimewaannya.</p>
<p><strong>Syarah Hadits</strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam  hadits ini memberikan permisalan dan menyerupakan seorang muslim dengan pohon  kurma. Tentunya hal ini menunjukkan adanya sisi kesamaan antara keduanya.  Memang mengenal dan mengetahui sisi kesamaan ini perlu mendapat perhatian yang  cukup, apalagi Allah telah menjelaskan hal ini agar manusia selalu ingat  kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">أَلَمْ  تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ  أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ  بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ  يَتَذَكَّرُونَ</p>
<p><em>“Tidakkah  kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang  baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke  langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.  Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu  ingat.” </em>(QS. Ibrahim: 24-25)</p>
<p>Di antara sisi kesamaan muslim dengan pohon kurma  adalah (sisi kesamaan ini diambil dan disadur dari makalah yang berjudul <em>Taammulaat  Fi Mumatsalatul Mukmin Bin Nahlah</em>, tulisan Syeikh DR. Abdurrozaq bin Abdil  Muhsin Al ‘Abbaad dalam majalah Al Jaami’ah Al Islamiyah  edisi 107 tahun 29, 1418-1419 hal 209-221.  dengan penambahan dan pengurangan):</p>
<p>1. Pohon kurma mesti memiliki  akar, pangkal batang, cabang, daun dan buah, demikian juga pohon keimanan,  memiliki pokok, cabang dan buah. Pokok imam adalah rukun iman yang enam dan cabangnya  adalah amalan saleh dan aneka ragam ketaatan dan ibadah. Sedangkan buahnya  adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang didapatkan seorang mukmin di dunia  dan akhirat.</p>
<p>Imam Ahmad berkata: “perumpamaan iman  seperti pohon, karena pokoknya adalah syahadatain, batang dan daunnya demikian  juga. Sedangkan buahnya adalah sikap wara’ (hati-hati). Tidak ada kebaikan pada  pohon yang tidak berbuah dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak punya  sifat wara.'” (<em>As-Sunnah</em> karya Abdullah bin Ahmad, 1/316)</p>
<p>Imam Al Baghawiy menyatakan: “Hikmah dari  penyerupaan iman dengan pohon adalah pepohonan tidak dikatakan sebagai pohon  (yang baik) kecuali memiliki tiga hal. Memiliki akar yang kuat, batang yang  kokoh dan cabang yang tinggi. Demikian juga iman, tidak sempurna iman kecuali  dengan tiga hal, yaitu pembenaran hati, ucapan lisan dan amalan anggota tubuh.”  (<em>Tafsir Al Baghowi</em>, 3/33)</p>
<p>Demikian juga Ibnul Qayyim mengomentari hal ini  dalam pernyataan beliau: “Ikhlas dan Tauhid adalah satu pohon di hati,  cabangnya adalah amalan dan buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan  nikmat yang abadi di akhirat. Sebagaimana buah-buahan surga tidak terputus dan  tidak tercegah mengambilnya, maka buah tauhid dan ikhlas di dunia pun demikian.  Adapun kesyirikan, dusta dan riya adalah satu pohon di hati, buahnya di dunia  perasaan takut, sedih, duka, kesempitan dan kegelapan hati dan buahnya di  akhirat buah zaqqum dan adzab yang abadi. Kedua pohon ini telah dijelaskan  Allah dalam surat Ibrahim.” (<em>Al Fawaa’id</em> hal. 214-215)</p>
<p>2. Pohon kurma tidak akan bertahan hidup kecuali  dengan disiram dan dipelihara. Disiram dengan air, jika tidak maka akan kering  dan jika ditebang maka mati. Demikian juga seorang mukmin tidak dapat hidup  yang hakiki dan istiqomah kecuali dengan siraman wahyu. Oleh karena itulah  Allah menamakan wahyu dengan ruh dalam firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">وَكَذَلِكَ  أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَاكُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ  وَلاَ اْلإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَآءُ مِنْ  عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ</p>
<p><em>“Dan  demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh/ wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami.  Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula  mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang  Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.  Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” </em>(QS.  Asy-Syuuro: 52)</p>
<p>dan firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">يُنَزِّلُ  الْمَلاَئِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ  أَنذِرُوا أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاتَّقُونِ</p>
<p><em>“Dia  menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada  siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: ‘Peringatkanlah  olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka  hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.” </em>(QS. Al-Anfaal: 2)</p>
<p>Karena  kehidupan hakiki bagi hati tidak ada tanpa wahyu. Sehingga tanpa wahyu manusia  dikatakan mayit walaupun bergerak di antara manusia. Allah <em>ta’ala </em>berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">أَوَمَنْ  كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ  كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ  مَاكاَنُوا يَعْمَلُونَ</p>
<p><em>“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami  hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu  dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang  yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar  dari padanya.” </em>(QS. Al-An-‘aam:122)</p>
<p>Di  sini jelas sekali sisi persamaannya. Pohon kurma hanya hidup dengan disiram air  dan hati seorang mukmin hanya hidup dengan siraman wahyu.</p>
<p>3. Pohon kurma sangat kokoh, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">أَلَمْ  تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ  أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ  بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ  يَتَذَكَّرُونَ</p>
<p><em>“Tidakkah  kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik  seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,  pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah  membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” </em>(QS.  Ibrahim 24-25)<em> </em></p>
<p>Demikian juga iman jika telah mengakar di dalam hati, maka menjadi sangat  kokoh dan tidak goyah sedikitpun, seperti kokohnya gunung yang besar menjulang.  Imam Al Auzaa’iy ditanya tentang iman,  apakah bertambah? Beliau menjawab: “Ya, sampai membesar seperti gunung.”  Ditanya lagi, apakah berkurang? Beliau menjawab: “Ya, sampai tidak sisa  sedikit pun.” (Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam <em>Syarah Ushul I’tiqad</em> 5/959)</p>
<p>Demikian juga imam Ahmad bin Hambal ditanya  tentang hal yang serupa dan menjawab: “Bertambah sampai mencapai lebih  tinggi dari langit yang tujuh dan berkurang sampai menjadi paling rendah dari  bumi yang ketujuh”. (dibawakan oleh Abu Ya’la dalam <em>Thobaqatul  Hanabilah</em>, 1/259)</p>
<p>4. Pohon kurma tidak dapat tumbuh di sembarang  tanah, bahkan hanya tumbuh di tanah tertentu yang subur saja. Pohon kurma di  sebagian tempat tidak tumbuh sama sekali, di sebagian lainnya tumbuh namun tak  berbuah dan di sebagian lain tumbuh berbuah tapi sedikit buahnya. Sehingga  tidak semua tanah cocok untuk pohon kurma. Demikian juga iman, ia tidak kokoh  pada semua hati. Dia hanya akan kokoh pada hati orang yang Allah berikan  hidayah dan lapang dada menerimanya. Sehingga pantaslah bila Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" align="right">مَثَلُ  مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ  الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ  فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ  أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا  وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا  تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ  اللَّهِ وَنَفَعَهُ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ  رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ</p>
<p><em>“Permisalan  petunjuk dan ilmu yang aku dapatkan dari Allah adalah seperti permisalan air  hujan yang deras menimpa bumi. Ada di antara tanah bumi itu Naqiyah, menerima  air lalu menumbuhkan rumput dan tumbuhan yang banyak. Ada juga ajaadib,  menampung air lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia. Mereka minum,  mengambil dan bercocok tanam. Air hujan ini juga menimpa sejenis tanah lain  yaitu Qii’aan yang tidak menerima air dan tidak menumbuhkan rerumputan.  Demikian itulah permisalan orang yang berilmu (faqih) dalam agama dan mengambil  manfaat darinya. Ia mengetahui dan mengajarkannya dan permisalan orang yang  tidak menganggapnya sama sekali dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku  bawa.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>4. Pohon kurma tidak dapat bercampur dengan  tumbuhan pengganggu dan tumbuhan asing yang bukan jenisnya. Mereka ini dapat  mengganggu dan melemahkan pertumbuhannya serta mengganggunya dalam menyerap  air. Oleh karena itu diperlukan perawatan khusus dan selektif dari pemiliknya.  Demikian juga seorang mukmin, mesti mendapatkan hal-hal yang dapat melemahkan  iman dan keyakinannya. Juga mendapatkan perkara yang dapat mendesak iman dari  hatinya. Oleh karena itu diperlukan introspeksi (muhasabah) dalam setiap waktu  dan bersungguh-sungguh menjaganya. Juga berusaha selalu menghilangkan segala  sesuatu yang mengotorinya, seperti was-was, mengikuti hawa nafsunya dan  lain-lainnya. Allah berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">وَالَّذِينَ  جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ  الْمُحْسِنِينَ</p>
<p><em>“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami,  benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan  sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” </em>(QS. Ankabut: 69)</p>
<p>Pohon kurma  memberikan hasilnya setiap waktu, sebagaimana firman Allah :</p>
<p class="arab" align="right">تُؤْتِي  أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا</p>
<p><em>“Pohon  itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Rabbnya.” </em>(QS. Ibrahim: 24-25)</p>
<p>Buah  pohon ini dimakan waktu siang dan malam, baik di musim dingin atau di musim  panas. Dinamakan dalam bentuk kurma (tamr) atau busr atau Ruthab (Busr adalah  kurma yang belum matang menjadi ruthab sedangkan Ruthob adalah kurma matang  yang masih belum meleleh atau mengeras). Demikian juga seorang mukmin amalan  mereka naik pada pagi dan sore hari. Rabi’ bin Anas menyatakan: “Makna firman Nya: <a class="arab">كُلَّ حِين</a> adalah setiap pagi dan sore  hari, karena buah kurma selalu dapat dimakan di waktu malam dan siang, baik  musim dingin atau panas, baik berupa kurma, busr atau ruthab, demikian juga  amalan seorang mukmin naik pada pagi dan sore harinya.” (Disampaikan oleh  Al Baghowiy dalam tafsirnya 3/33)</p>
<p>Ibnu  Jarir Ath Thobary menyatakan dalam tafsir ayat ini: “Pendapat yang rojih  menurutku adalah pendapat yang menyatakan, makna <a class="arab">كُلَّ حِين</a> dalam ayat ini adalah pagi dan sore, setiap saat, karena Allah menjadikan hasil  pohon ini setiap saat dari buahnya untuk perumpamaan amalan dan perkataan  seorang mukmin. Padahal sudah pasti amalan dan perkataan basik seorang mukmin  diangkat kepada Allah setiap hari, bukan setiap setahun atau setengah tahun  atau dua bulan sekali. Jika demikian, maka jelaslah kebenaran pendapat ini.  Jika ada yang bertanya: “Pohon kurma mana yang menghasilkan buah setiap  saat buah yang dimakan pada musim panas dan dingin? Jawabnya: adapun di musim  dingin, maka <em>Thol’</em> (mayang kurma) adalah buahnya dan di musim panas,  maka balkh, busr, Ruthob dan kurma adalah buahnya. Jadi semuanya adalah buahnya.”  (<em>Tafsir Thobary,</em> 8/210)</p>
<p>5. Pohon kurma memiliki barakah dalam semua  bagiannya. Semua bagiannya dapat dimanfaatkan. Demikian juga seorang mukmin,  sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" align="right">عَنْ  عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ  النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُلُوسٌ إِذَا أُتِيَ بِجُمَّارِ  نَخْلَةٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ  الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ الْمُسْلِمِ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَعْنِي  النَّخْلَةَ فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ هِيَ النَّخْلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثُمَّ  الْتَفَتُّ فَإِذَا أَنَا عَاشِرُ عَشَرَةٍ أَنَا أَحْدَثُهُمْ فَسَكَتُّ فَقَالَ  النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ النَّخْلَةُ</p>
<p>“Dari Abdullah bin umar beliau berkata: “Ketika  kamu duduk-duduk di sisi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tiba-tiba diberikan <em>jamaar</em> (jantung kurma). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> lalu berkata: ‘<em>Sesungguhnya terdapat satu pohon, barakahnya  seperti barakah seorang muslim’. Lalu aku menerka itu adalah pohon kurma lalu  ingin aku sampaikan dia adalah pohon kurma, wahai Rasulullah. Kemudian aku  menengok dan mendapatkan aku orang kesepuluh dan paling kecil, lalu aku diam.  Rasulullah berkata: ‘Ia adalah pohon kurma.'”</em> (diriwayatkan oleh  Bukhari dalam shohihnya, 3/444)<em> </em></p>
<p>Ibnu Hajar berkata: “Barokah  pohon kurma ada pada semua bagiannya, senantiasa ada dalam setiap keadaannya.  Dari mulai tumbuh sampai kering, dimakan semua jenis buahnya, kemudian setelah  itu seluruh bagian pohon ini dapat diambil manfaatnya sampai-sampai bijinya  digunakan sebagai makanan ternak. Demikian juga serabutnya dapat dijadikan  sebagai tali serta yang lainnyapun demikian. Hal ini sudah jelas. Demikian juga  barokah seorang muslim meliputi seluruh keadaannya. Juga manfaatnya terus  menerus ada untuknya dan untuk orang lain sampai setelah matinyapun.” (<em>Fathul Bari</em> 1/145-146)</p>
<p>-bersambung insya Allah-</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br>
Artikel www.muslim.or.id</p>
 