
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Syukur itu direalisasikan dengan keyakinan, ucapan dan perbuatan</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam kitabnya</span><i><span style="font-weight: 400;"> Majmu’ Al-Fatawa </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa syukur itu direalisasikan dengan keyakinan, ucapan dan perbuatan. Oleh karena itu Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(13)</span><i><span style="font-weight: 400;"> Beramallah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Saba’: 13).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat di atas menunjukkan bahwa diantara wujud syukur adalah beramal sholeh, maka tepatlah apa yang dikatakan oleh Abu Abdur Rahman </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah,</span></i></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">الصلاة شكر، والصيام شكر، وكل خير تعمله لله شكر</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Salat itu syukur, puasa itu syukur, dan seluruh kebaikan (amal saleh) yang dikerjakan dengan ikhlas untuk Allah semata itu adalah syukur” (Riwayat Ibnu Jarir).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, syukur itu adalah menggunakan nikmat Allah untuk mengenal-Nya dan beribadah kepada-Nya semata.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Metode Qur’ani ini adalah metode dakwah yang sangat menyentuh hati</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Metode dalam mengajak kepada kebaikan serta melarang dari maksiat dengan cara menyebutkan kenikmatan ini termasuk metode Qur`ani yang sangat bermanfa’at dan sangat menyentuh hati orang yang didakwahi, maka selayaknya seorang da’i menggunakan metode ini dalam dakwahnya. Syaikh Abdur Razzaq </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menyampaikan sebuah kisah, suatu saat, ada seseorang yang mendatangi seorang ulama dan menyampaikan bahwa dirinya ingin melakukan zina. Lalu sang ulama pun menasehatinya dengan menyampaikan kepadanya bahwa ia dipersilakan melakukan zina, tapi dengan syarat ia tidak boleh menggunakan nikmat Allah untuk berzina.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mungkinkah orang tersebut melakukan zina tanpa menggunakan kenikmatan dari Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">? Bukankah tangannya, kakinya, dan seluruh anggota badannya adalah nikmat dari-Nya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nasehat ini adalah sebuah nasehat brilian. Meskipun secara eksplisit sang ulama seolah memerintahkan untuk berzina, namun sebenarnya ulama tersebut melarang pemuda tadi dari zina dengan cara mengingatkan kenikmatan yang ada pada diri orang tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cara tersebut adalah suatu nasehat yang tepat, karena sudah menjadi kewajiban orang yang memperoleh nikmat untuk bersyukur kepada Sang Pemberi nikmat dengan menggunakan nikmat tersebut untuk ta’at kepada-Nya, bukan justru menggunakannya untuk membuat murka Sang Pemberi nikmat!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya kasus di atas ada sisi kesamaan dengan firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i></p>
<p style="text-align: right;">قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(56)</span><i><span style="font-weight: 400;"> Katakanlah: “Berdo’alah kepada mereka yang kamu anggap sebagai (tuhan-tuhan) selain Allah, maka (pastilah) mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula mampu memindahkannya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Israa`: 56).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkan kepada Nabi-Nya Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">untuk mengatakan kepada kaum musyrikin agar mereka berdo’a kepada tuhan-tuhan selain Allah dan memikirkan apakah tuhan-tuhan selain Allah tersebut mampu menghilangkan bahaya, penyakit, musibah dan selainnya dari diri mereka atau mampu memindahkannya dari mereka?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentulah tuhan-tuhan selain Allah itu tidak mampu sama sekali melakukan hal itu. Lalu apa alasan yang mendorong mereka untuk berdo’a kepada sesembahan selain Allah?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Secara eksplisit, ayat ini adalah perintah, namun sebenarnya adalah larangan dan pengingkaran terhadap perbuatan syirik dalam do’a yang mengandung penetapan bahwa satu-satunya sesembahan yang berhak disembah adalah Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">semata.</span></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 