
<p><span style="font-weight: 400;">Allāh </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ālā </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(153)</span><i><span style="font-weight: 400;"> Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allāh agar kamu bertakwa  </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-An’aam: 153).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat ini, Allāh </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ālā </span></i><span style="font-weight: 400;">melarang kita mengikuti jalan-jalan selain jalan-Nya lalu Allāh </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ālā </span></i><span style="font-weight: 400;">menyebutkan</span> <span style="font-weight: 400;">akibat buruk mengikuti jalan-jalan selain jalan-Nya tersebut, yaitu jalan-jalan selain Allāh memisahkan seorang hamba dari jalan-Nya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diharapkan seorang yang beriman pada Allāh akan terdorong kuat menghindari keburukan yang dilarang dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Qur`ān Al-Kar</span></i><i>ī</i><i><span style="font-weight: 400;">m</span></i><span style="font-weight: 400;">, karena ia khawatir akibat buruk yang dibenci oleh Allāh </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ālā </span></i><span style="font-weight: 400;">mengenainya.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Penyebutan Kenikmatan</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Terkadang di dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Qur`ān</span></i><span style="font-weight: 400;">, Allāh </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ālā </span></i><span style="font-weight: 400;">menyeru orang-orang beriman untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan cara menyebutkan nikmat-Nya yang beraneka ragam dan anugerah-Nya yang banyak, sehingga mereka terdorong untuk bersyukur atas nikmat tersebut. Wujud rasa syukur itu adalah dengan cara menunaikan hak-hak keimanan dengan melakukan keta’atan kepada Sang Pemberi nikmat.</span> <span style="font-weight: 400;">Contohnya adalah firman Allāh </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ālā </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam surat An-Nahl: 18,</span></p>
<p style="text-align: right;">وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيم</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(18) </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allāh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allāh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. An-Nahl:18).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat yang agung ini terdapat penyebutan nikmat Allāh </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ālā </span></i><span style="font-weight: 400;">yang sangat banyak dan setelahnya dijelaskan tentang sifat Allāh </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ālā </span></i><span style="font-weight: 400;">Yang</span> <span style="font-weight: 400;">Maha Pengampun yang menuntut seorang hamba untuk</span> <span style="font-weight: 400;">bertaubat dan kembali mena’ati-Nya. Ini adalah bentuk syukur kepada-Nya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ahli Tafsir Ath-Thabari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span> <span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya Allāh benar-benar Maha Pengampun atas keteledoran kalian dalam mensyukuri sebagian nikmat tersebut jika kalian bertaubat dan kembali menta’ati-Nya dan mengikuti keridhoan-Nya. Dia pun Maha Menyayangi diri kalian (sehingga tidak) mengazab kalian dengan sebab keteledoran tersebut, setelah kalian kembali dan bertaubat kepada-Nya .</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allāh </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ālā </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(81) </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan Allāh menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allāh menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya) </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. An-Nahl:81).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat yang agung ini menunjukkan penyebutan nikmat Allāh </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ālā </span></i><span style="font-weight: 400;">dan disebutkan pula bahwa penyempurnaan nikmat-Nya tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya mengikhlaskan keta’atan untuk-Nya</span> <span style="font-weight: 400;">semata.</span> <span style="font-weight: 400;">Al-Baghawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa makna berserah diri kepada-Nya adalah Anda mengikhlaskan keta’atan untuk-Nya semata.</span></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
 