
<p>Di antara petunjuk dari Allah <em>Ta’ala</em> adalah dengan menyebutkan hamba-hamba-Nya yang beriman, keberuntungan dan kebahagiaan mereka, dan juga sarana-sarana yang bisa mewujudkan hal tersebut. Terkandung dalam petunjuk itu adalah agar kita termotivasi untuk memiliki sifat (karakter) sebagaimana sifat yang mereka miliki. Sifat pertama dan utama dari sifat-sifat tersebut adalah khusyuk dalam salat.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pengertian khusyuk</strong></span></h2>
<p>Khusyuk adalah menghadirkan hati ketika menghadap Allah <em>Ta’ala</em> dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sehingga hati, jiwa, dan gerakan anggota badan pun menjadi tenang, tidak berpaling memikirkan hal-hal lainnya, dan menjaga adab ketika menghadap Rabb-Nya. Dia merenungi semua ucapan (zikir dan doa) dan juga gerakan dalam salat, sejak awal hingga akhir salat. Dengan sebab itu, hilanglah was-was dan pikiran-pikiran yang tidak berguna selama mendirikan salat. Inilah ruh dan inti salat, dan juga menjadi tujuan dari ibadah salat. Inilah salat yang dicatat pahala untuk orang yang mendirikannya. Salat yang tidak diiringi dengan khusyuk dan juga disertai dengan hati yang lalai itu bagaikan jasad yang tidak memiliki ruh.</p>
<p>Terdapat berbagai keajaiban dari nama-nama dan sifat-sifat Allah <em>Ta’ala</em> (yang diucapkan atau dibaca ketika salat) yang apabila direnungkan bisa mewujudkan khusyuk dalam salat. Namun hal itu tidaklah bisa terwujud, kecuali bagi orang-orang yang hatinya mengetahui makna-makna yang terkandung dalam Alquran dan hatinya tersebut juga telah merasakan manisnya keimanan. Sehingga dia pun benar-benar mengetahui bahwa setiap nama dan sifat Allah <em>Ta’ala</em> dalam setiap bacaan salat itu sesuai dengan tempatnya masing-masing.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/45151-kiat-kiat-meraih-salat-khusyuk-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Kiat-Kiat Meraih salat Khusyuk (Bag. 1)</a></strong></span></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Renungan ketika takbir dan membaca doa istiftah</strong></span></h2>
<p>Ketika seseorang berdiri menghadap Allah <em>Ta’ala</em>, dia hadirkan dalam hatinya bahwa Allah <em>Ta’ala</em> adalah Dzat Yang Maha berdiri sendiri (<em>al-qayyuum</em>). Ketika dia mengucapkan takbir (<em>Allahu akbar</em>), dia mempersaksikan kebesaran dan keagungan Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Kemudian dia membaca doa istiftah berikut ini,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ</span></p>
<p>“Maha suci Engkau, ya Allah. Aku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau.”</p>
<p>Dia mempersaksikan dengan hatinya bahwa Allah <em>Ta’ala</em> adalah Rabb (Tuhan) yang tersucikan dari semua aib dan tidak memiliki sifat-sifat kekurangan. Allah <em>Ta’ala</em> berhak dipuji dengan semua pujian yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Dalam pujian untuk Allah <em>Ta’ala</em> terkandung sifat kesempurnaan untuk Allah <em>Ta’ala</em> dari semua sisi. Konsekuensinya, Allah <em>Ta’ala</em> itu tersucikan dari semua sifat cela (aib) dan kekurangan.</p>
<p><strong>“<em>Nama-Mu penuh keberkahan</em>”</strong>; tidaklah nama Allah <em>Ta’ala</em> disebut untuk sesuatu yang jumlahnya sedikit, kecuali Allah <em>Ta’ala</em> akan memperbanyak jumlahnya. Tidaklah nama Allah <em>Ta’ala</em> disebut untuk kebaikan, kecuali Allah <em>Ta’ala</em> akan menambah dan memberikan keberkahan pada perkara tersebut. Tidaklah nama Allah <em>Ta’ala</em> disebut untuk suatu penyakit, kecuali Allah <em>Ta’ala</em> akan menghilangkannya. Tidaklah nama Allah <em>Ta’ala</em> disebut kecuali setan akan terusir dengan hina dina.</p>
<p><strong>“<em>Maha tinggi Engkau</em>”</strong>; Allah Maha tinggi dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Allah Maha tinggi sehingga tidak mungkin menerima sekutu dalam kerajaan-Nya, dalam <em>rububiyyah</em>, <em>uluhiyyah</em>, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/27291-hadirkan-perasaan-ini-ketika-sholat-membantu-anda-lebih-khusyuk.html" data-darkreader-inline-color="">Hadirkan Perasaan Ini Ketika Sholat, Membantu Anda Lebih Khusyuk</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Renungan ketika membaca doa taawuz </strong></span></h2>
<p>Ketika seorang hamba mengucapkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</span></p>
<p>“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”; dia memohon perlindungan dengan kekuatan Allah <em>Ta’ala</em>, dia bersandar dengan daya dan kekuatan Allah <em>Ta’ala</em> agar terhindar dari kejahatan musuh (setan) yang berusaha untuk mengganggu dan menjauhkan dirinya dari ibadah dan mendekatkan diri kepada Rabbnya.</p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>Renungan ketika membaca surat Al-Fatihah</strong></span></h3>
<p>Ketika seorang hamba mengucapkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</span></p>
<p>“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">حَمِدَنِي عَبْدِي</span></p>
<p>“Hamba-Ku memujiku.”</p>
<p>Ketika seorang hamba mengucapkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</span></p>
<p>“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي</span></p>
<p>“Hamba-Ku menyanjungku.” (Sanjungan yaitu pujian yang berulang-ulang, pent.)</p>
<p>Ketika seorang hamba mengucapkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ</span></p>
<p>“Yang menguasai hari pembalasan”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَجَّدَنِي عَبْدِي</span></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman, “Hamba-Ku memuliakanku.”</p>
<p>Betapa lezat kenikmatan yang dirasakan oleh hatinya, kesejukan (kedamaian) yang dirasakan oleh matanya, dan juga kebahagiaan yang dirasakan oleh jiwanya, dengan perkataan Rabbnya,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">عَبْدِي</span></p>
<p>“Hamba-Ku”, sebanyak tiga kali <strong>(HR. Muslim no. 395)</strong>.</p>
<p>Demi Allah, seandainya dalam hati manusia itu tidak ada kabut syahwat dan gelapnya jiwa, tentu hati tersebut akan terliputi dengan kebahagiaan dan kegembiraan ketika Rabbnya mengatakan kepadanya dengan perkataan-perkataan seperti tersebut dalam hadis di atas.</p>
<p>Kemudian hatinya pun berusaha untuk menghadirkan tiga nama Allah <em>Ta’ala</em>, yang merupakan inti dari <em>asmaaul husnaa, </em>yaitu nama “Allah” (الله); “Ar-Rabb” (الرب); dan nama “Ar-Rahman” (الرحمن).</p>
<p>Ketika menyebut nama “Allah” (الله), dia mempersaksikan bahwa Allah <em>Ta’ala</em> adalah Dzat yang berhak untuk diibadahi. Ibadah tersebut tidaklah layak ditujukan kepada selain Allah <em>Ta’ala</em>. Semua makhluk tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ</span></p>
<p>“<em>Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka</em>” <strong>(QS. Al-Isra’ [17]: 44)</strong>.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ</span></p>
<p>“<em>Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya tunduk hanya kepada-Nya</em>” <strong>(QS. Ar-Ruum [30]: 26)</strong>.</p>
<p>Ketika menyebut “<em>Rabbul ‘alamiin</em>” (رَبِّ الْعَالَمِينَ), dia mempersaksikan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha berdiri sendiri, tidak membutuhkan satu pun makhluk, bahkan semua makhluk butuh kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Allah <em>Ta’ala</em> tinggi di atas <em>‘arsy</em>-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> satu-satunya Dzat yang mengurusi dan memelihara makhluk-Nya. Semua urusan ada di tangan-Nya. Semua pengaturan dan pemeliharaan tersebut berasal dari Allah <em>Ta’ala</em>, melalui perantaraan malaikat yang bertugas untuk memberi atau mencegah (rizki), menundukkan atau memuliakan, menghidupkan atau mematikan, memberikan kekuasaan atau menimpakan kehinaan, mengangkat semua kesulitan (musibah), dan mengabulkan doa orang-orang yang membutuhkan.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ</span></p>
<p>“<em>Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan</em>” <strong>(QS. Ar-Rahman [55]: 29)</strong>.</p>
<p>Ketika menyebut nama “<em>Ar-Rahman</em>” (الرحمن), dia mempersaksikan bahwa Allah <em>Ta’ala</em> adalah Dzat yang telah berbuat baik kepadanya dengan memberikan berbagai macam nikmat dan kebaikan. Ilmu dan rahmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Nikmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> meliputi makhluk dengan segala nikmat dan keutamaan-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> <em>istiwa’</em> di atas <em>‘arsy</em> dengan rahmat-Nya, Allah <em>Ta’ala</em> menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya, menurunkan kitab-kitab dengan rahmat-Nya, mengutus rasul dengan rahmat-Nya, membuat aturan syariat dengan rahmat-Nya, menciptakan surga dan neraka juga dengan rahmat-Nya.</p>
<p>Renungkanlah bahwa dalam perintah, larangan, dan wasiat-Nya terdapat kasih sayang yang sempurna dan kenikmatan yang banyak. Rahmat (kasih sayang) adalah sebab yang menghubungkan Allah <em>Ta’ala</em> dengan hamba-Nya. Sebaliknya, <em>‘ubudiyyah</em> (ibadah) adalah sebab dan sarana yang mengantarkan seorang hamba kepada Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Dan termasuk rahmat-Nya yang bersifat khusus adalah rahmat-Nya sehingga dia bisa berdiri (salat) menghadap Rabbnya. Allah <em>Ta’ala</em> menjadikan dirinya sebagai hamba yang bisa mendekatkan diri dan bermunajat kepada-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> memberikan nikmat tersebut kepada dirinya dan tidak kepada yang lainnya. Dia juga bisa menghadirkan hatinya untuk menghadap Allah <em>Ta’ala</em> dan berpaling dari selain Allah <em>Ta’ala</em>. Itu semua termasuk perwujudan kasih sayang Allah <em>Ta’ala</em> kepada dirinya.</p>
<p>Lalu dia pun membaca,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ</span></p>
<p>“<em>Yang menguasai hari pembalasan</em>” <strong>(QS. Al-Fatihah [1]: 4)</strong>.</p>
<p>Ketika seseorang mengucapkan ayat tersebut, dia bersaksi tentang kemuliaan Allah <em>Ta’ala</em> sebagai Raja yang <em>haq.</em> Dia bersaksi bahwa Allah adalah Raja yang Maha kuasa. Makhluk benar-benar tunduk kepada-Nya dan segala macam kekuatan tunduk pula kepada keperkasaan-Nya. Dia bersaksi di dalam hatinya bahwa Allah adalah Raja yang Maha mengawasi yang ber-<em>istiwa’</em> di atas <em>‘arsy</em>.  Raja dan penguasa yang <em>haq</em> dan sempurna, pasti adalah Dzat yang maha hidup, maha berdiri sendiri, maha mendengar, maha melihat, dan maha memelihara.</p>
<p>Kemudian sampailah dia dengan ayat,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</span></p>
<p>“<em>Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan</em>” <strong>(QS. Al-Fatihah [1]: 5)</strong>.</p>
<p>Dalam ayat ini, terkandung tujuan yang paling utama dan juga sarana yang paling agung untuk meraih tujuan paling mulia tersebut. Tujuan paling utama dalam hidup ini adalah untuk menegakkan <em>‘ubudiyyah</em> kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Sedangkan sarana terbesar untuk bisa menegakkan <em>‘ubudiyyah</em> tersebut adalah adanya pertolongan dari Allah <em>Ta’ala</em>. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah <em>Ta’ala</em> semata. Tidak ada yang memberikan pertolongan untuk beribadah kepada-Nya kecuali Allah <em>Ta’ala</em> saja.</p>
<p>Kalimat ini mengandung dua macam tauhid, yaitu tauhid <em>rububiyyah</em> dan tauhid <em>uluhiyyah</em>. <em>‘Ubudiyyah</em> tersebut dikandung oleh nama Allah <em>Ta’ala</em> “<em>Ar-Rabb</em>” dan “<em>Allah</em>”. Allah <em>Ta’ala</em> diibadahi karena memiliki hak <em>uluhiyyah</em>, dan Allah <em>Ta’ala</em> dimintai pertolongan karena sifat <em>rububiyyah</em>-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> memberikan hidayah (petunjuk) ke jalan yang lurus dengan sebab rahmat-Nya. Oleh karena itu, di awal surat disebutkan nama “<em>Allah</em>”, “<em>Ar-Rabb</em>”, dan “<em>Ar-Rahman</em>” yang ini bersesuaian dengan permintaan untuk bisa beribadah kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta hidayah kepada-Nya.</p>
<p>Dia-lah satu-satunya Dzat yang memiliki kekuasaan untuk memberikan itu semuanya. Tidak ada yang bisa membantunya untuk beribadah kepada Allah kecuali Allah <em>Ta’ala</em>, dan tidak ada yang bisa memberikan hidayah kecuali Allah <em>Ta’ala</em> saja.</p>
<p>Kemudian seseorang mengucapkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ</span></p>
<p>“<em>Tunjukilah kami jalan yang lurus</em>” <strong>(QS. Al-Fatihah [1]: 6)</strong>.</p>
<p>Hatinya hadir dan menunjukkan bahwa dia sangat butuh dan urgen (mendesak) untuk meminta hidayah tersebut. Seakan-akan tidak ada perkara lain yang lebih dia butuhkan melebihi permintaan hidayah tersebut. Hidayah itu dibutuhkan oleh setiap jiwa dalam setiap kesempatan. Apa yang kita minta dalam doa tersebut tidaklah terwujud kecuali kita mendapatkan hidayah untuk bisa meniti jalan yang lurus menuju Allah <em>Ta’ala</em>. Kita mendapatkan taufik untuk mewujudkan hidayah tersebut sesuai dengan yang dicintai dan diridhai oleh Allah <em>Ta’ala</em>, dan juga menjaganya dari hal-hal yang bisa merusaknya.</p>
<p>Kemudian jelaslah bahwa orang-orang yang mendapatkan hidayah tersebut adalah orang-orang yang memang mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah <em>Ta’ala</em>. Bukan orang-orang yang dimurkai (غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ), yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran (<em>al-haq</em>) namun tidak mau mengikuti kebenaran tersebut. Bukan pula orang-orang yang sesat (وَلاَ الضَّالِّينَ), yaitu orang-orang yang beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> tanpa dasar ilmu. Dua kelompok tersebut sama-sama berserikat dalam hal berkata tentang Allah, tentang ciptaan, perintah, nama, dan sifat-Nya namun tanpa ilmu. Adapun jalan orang-orang yang mendapatkan nikmat tersebut berbeda dengan dua kelompok tersebut, baik dari sisi ilmu dan amal.</p>
<p>Ketika dia selesai dari pujian, doa, dan juga tauhid yang terkandung dalam surat Al-Fatihah, disyariatkan baginya untuk mengucapkan “<em>aamiin</em>”, sebagai penutup dan juga diiringi oleh malaikat yang ada di langit. Ucapan “<em>aamiin</em>” ini merupakan perhiasan salat, sebagaimana mengangkat dua tangan juga merupakan perhiasan salat, dan juga bentuk mengikuti sunah, mengagungkan perintah Allah, dan juga sebagai syiar berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/25380-bersedekap-di-dada-dan-menundukkan-pandangan-ketika-salat-cermin-kekhusyukan.html" data-darkreader-inline-color="">Bersedekap Di Dada Dan Menundukkan Pandangan Ketika salat Cermin Kekhusyukan</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/59904-salat-menjadi-kesenangan-hati-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">salat Menjadi Kesenangan Hati</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>@Rumah Kasongan, 4 Jumadil akhir 1442/ 17 Januari 2021</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD</span></a></strong></p>
<p><strong>Artikel: <a href="https://muslim.or.id/"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>Disarikan dari kitab <strong><em>Ta’zhiim Ash-Shalaat </em></strong>hal. 89-94, karya Syekh  ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr <em>hafidzahullahu Ta’ala, </em>cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.</p>
 