
<p><b>Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal</b> <b>Memahami Tafsir Surat Ali Imron: 133-134</b><span style="font-weight: 400;"> Allah Taala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron [3] : 133-134)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat yang mulia ini Allah memerintahkan untuk bersegera dalam dua hal yaitu :</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[1] Meraih ampunan Allah [2] Meraih surga-Nya yang lebarnya selebar langit dan bumi. Apalagi panjangnya!! Surga ini Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa. –semoga Allah memudahkan kita untuk masuk di dalamnya-</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<h2>
<b>Memahami Takwa</b><span style="font-weight: 400;"> Apa pengertian takwa?</span>
</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Majmu’ Fatawa (XX/132) bahwa takwa bukanlah hanya meninggalkan maksiat (kejelekan) namun takwa -sebagaimana ditafsirkan oleh ulama-ulama dahulu dan belakangan- adalah melakukan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tholaq bin Habib rahimahullah mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ وَ أَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ عَذَابَ اللهِ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah, di atas cahaya dari Allah (yaitu di atas ilmu) dengan harapan untuk mendapatkan pahala dari Allah dan engkau menjauhi maksiat atas cahaya dari Allah (yaitu di atas ilmu) karena takut akan ’adzab Allah. (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 211)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara bentuk ketakwaan adalah </span><b>menjaga shalat lima waktu</b><span style="font-weight: 400;"> di mana Allah memerintahkan hal ini pada kita,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar atau Shubuh)” (QS. Al Baqarah [2] : 238)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan Allah melarang meninggalkan perkara agung ini karena inilah amalan yang pertama kali akan dihisab (diperhitungkan) di hari kiamat kelak di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ الصَّلَاةُ وَأَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba adalah </span><b>shalat</b><span style="font-weight: 400;">. Yang perkara pertama kali yang akan diputuskan adalah urusan darah.” (HR. An Nasa’i dan Ath Thobroni, dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 1748).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, janganlah menganggap remeh shalat ini dan janganlah meninggalkannya karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya di antara pembeda antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">yaitu yang menghalangi seseorang dari kekafiran adalah tidak meninggalkan shalat (yaitu melakukan shalat). Apabila seseorang meninggalkan shalat tidak lagi tersisa penghalang antara keislaman dan kesyirikan bahkan dia telah jatuh dalam dosa kekafiran. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لَا يَجْتَمِعُ الإِيْمَانَ وَالكُفْرَ فِي قَلْبِ امْرِىءٍ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak mungkin keimanan dan kekufuran itu bersatu dalam hati seseorang.” (Silsilah Ash Shohihah no. 1050).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Syafi’i dan Imam Malik mengatakan orang yang meninggalkan shalat adalah orang yag fasik dan dia akan dihukum sebagaimana </span><b>orang yang berzina</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qayyim dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Ash Sholatu wa Hukmu Tarikiha</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Kaum muslimin sepakat bahwa meninggalkan shalat yang wajib dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”</span></p>
<h2>
<b>Meraih Surga Melalui Amalan Takwa</b><span style="font-weight: 400;"> </span>
</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Surga ini Allah sediakan bagi orang yang bertakwa dan mereka ini adalah penghuninya. Amalan takwa adalah amalan yang mengatarkan padanya. Kemudian selanjutnya Allah mensifati orang yang bertakwa dan amalannya: </span><b>[1] { الذين ينفقون في السراء والضراء } = Gemar Berinfak</b><span style="font-weight: 400;"> Yaitu orang-orang yang banyak berinfak dalam keadaan susah maupun mudah, lapang atau sempit, senang maupun sulit, sehat ataupun sakit dan dalam segala kondisi. Jika dalam keadaan mudah dan kelebihan mereka berinfak, begitu juga dalam keadaan sempit (susah), mereka tetap berinfak walaupun sedikit. </span><b>[2] { والكاظمين الغيظ } = Menahan Amarah</b><span style="font-weight: 400;"> Orang yang bertakwa ini adalah orang yang menahan amarah. Apabila ada yang menyakitinya, maka normalnya manusia, dalam hatinya akan dongkol, dan akan membalas dengan kata-kata maupun perbuatan. Inilah kebiasaan orang ketika disakiti. Namun orang yang bertakwa yang akan dijanjikan memasuki surga Allah akan menahan hatinya dari amarah, berusaha untuk sabar walaupun telah disakiti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرُعة، وَلَكِنَّ الشَّدِيدَ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ. وقد رواه الشيخان من حديث مالك. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergelut. Namun, orang yang kuat adalah yang pandai menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">الغَضَبُ يَجْمَعُ الشَّرَّ كُلَّهُ. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kemarahan itu akan mengumpulkan seluruh kejelekan.” (HR. Ahmad. Dishohihkan Syaikh Al Albani dalam Shohih Targhib wa Tarhib)</span></p>
<p><b>[3] { والعافين عن الناس } = Memaafkan Orang Lain</b><span style="font-weight: 400;"> Termasuk dalam memaafkan orang lain adalah memberi maaf kepada semua orang yang telah menyakiti dengan perkataan dan perbuatan.</span></p>
<p><b>Memaafkan orang lain ini lebih utama dari menahan amarah</b><span style="font-weight: 400;"> karena memaafkan orang lain berarti tidak balas dendam terhadap orang yang telah menyakiti dan bermurah hati kepadanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah orang-orang yang menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela karena memaafkan hamba Allah sebagai rahmat (kasih sayang) kepada mereka, berbuat baik kepada mereka, dan tidak senang menyakiti mereka. </span><i><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah mengampuni orang-orang seperti ini.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Dan ingatlah balasannya adalah di sisi Allah yang Maha Mulia dan balasannya bukanlah di sisi hamba yang fakir yang tidak dapat memberikan apa-apa. Ingatlah firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> ”Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka </span><b>pahalanya adalah di sisi Allah</b><span style="font-weight: 400;">.” (QS. Asyura [42] : 40)</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">ثلاث أُقْسِمُ عليهن: ما نقص مال من صدقة، وما زاد الله عبدا بعفو إلا عِزا، ومن تواضع لله رفعه الله </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Tiga hal yang Allah bersumpah dengannya : [1] Harta tidaklah berkurang dengan shodaqoh, [2] Tidaklah Allah menambahkan kepada orang yang memberi maaf kecuali kemuliaan, [3] Barangsiapa yang tawadhu (rendah diri) karena Allah maka Allah akan meninggikan (derajatnya).” (HR. Tirmidzi, Lihat Tafsir Ibnu Katsir)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga kita selalu dibekali oleh Allah dengan sifat takwa. </span><i><span style="font-weight: 400;">Allahumma inna nasalukal huda wat tuqo wal afaf wal ghina.</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">Pangukan, Sleman, 16 Shofar 1430 H Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya Muhammad Abduh Tuasikal </span></i></p>
<p>www.rumaysho.com</p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca Juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/19608-rugi-jika-tidak-menghafal-doa-memohon-petunjuk-ketakwaan-afaf-dan-ghina.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Rugi Jika Tidak Menghafal Doa Memohon Petunjuk, Ketakwaan, ‘Afaf, dan Ghina</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/13252-pakaian-takwa-sebagai-bekal.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Pakaian Takwa Sebagai Bekal</strong></span></a></li>
</ul>
 