
<h2><span style="font-size: 21pt;">Kebaikan di dunia adalah dengan mempelajari ilmu agama dan mengamalkannya</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Manusia secara umum tentu sangat menginginkan kebaikan dalam hidupnya. Tidaklah mungkin seseorang menginginkan keburukan menimpa kehidupannya. Setiap orang tentu mengharapkan kebaikan untuk hidupnya di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak. Kita pun senantiasa berdoa siang dan malam demi kebaikan hidup ini, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">”Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka.” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, tidakkah kita tahu, bahwa kebaikan dunia itu ada di dalam ilmu syar’i? Ketika menafsirkan firman Allah <em>Ta’ala,</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">”Ya Rabb kami, berilah kami </span></i><b><i>kebaikan di dunia.</i></b><i><span style="font-weight: 400;">” </span></i><b>(QS. Al-Baqarah [2]: 201)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Hasan </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, </span><i><span style="font-weight: 400;">”yaitu </span></i><b><i>ilmu dan ibadah”. </i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">”Dan kebaikan di akhirat.” </span></i><b>(QS. Al-Baqarah [2]: 201)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, </span><i><span style="font-weight: 400;">”yaitu </span></i><b><i>surga</i></b><i><span style="font-weight: 400;">”. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah tafsir yang paling baik, karena </span><b>kebaikan yang paling tinggi adalah ilmu (syar’i) yang bermanfaat dan amal yang shalih</b><span style="font-weight: 400;">. </span><b>(</b><b><i>Al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, </i></b><b>hal. 141)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44670-empat-nasihat-untuk-penuntut-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">Inilah 4 Nasihat untuk Penuntut Ilmu</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan perlu diketahui, jika kita menuntut ilmu agama, maka itu adalah tanda bahwa Allah <em>Ta’ala</em> menghendaki kebaikan untuk diri kita. Baik kebaikan di dunia ini maupun kebaikan di akhirat kelak. Karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ يُرِدْ اللَّه بِهِ خَيْرًا يُفَقِّههُ فِي الدِّين</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah</span></i><b><i> maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.</i></b><i><span style="font-weight: 400;">” </span></i><b>(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah puncak kebaikan yang seharusnya menjadi dambaan setiap orang. Oleh karena itu, berjalanlah menuntut ilmu agama, sehingga kita dapat mendapatkan kebaikan itu.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45502-urgensi-memahami-ilmu-ushul-fiqh-dan-qawaid-fiqhiyyah.html" data-darkreader-inline-color="">Pentingnya Memahami Ilmu Ushul Fiqh dan Qawa’id Fiqhiyyah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Ilmu agama adalah sumber kebahagiaan</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita semua pasti menginginkan kebahagiaan. Dan kita tentu akan berbuat apa saja demi meraih kebahagiaan itu, meskipun harus dengan mengorbankan apa saja, termasuk mengeluarkan harta dalam jumlah yang sangat banyak. Tentu kita akan sangat bersedih jika hidup kita tidak bahagia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, </span><b><i>”apakah kebahagiaan yang hakiki itu?” </i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Qayyim Al-Jauziyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan jiwa, ruh, dan hati. </span></i><b><i>Kebahagiaan itu tidak lain adalah kebahagiaan ilmu (agama) yang bermanfaat dan buah-buahnya.</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> Karena sesungguhnya itulah kebahagiaan yang abadi dalam seluruh keadaan. Kebahagiaan ilmulah yang menemani seorang hamba dalam seluruh perjalanan hidupnya di tiga negeri: negeri dunia, negeri barzakh (alam kubur), dan negeri akhirat.”</span></i> <b>(</b><b><i>Al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, </i></b><b>hal. 110-111)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ عَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالاً وَعِلْماً فَهُوَ يَتَّقِى فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ حَقَّهُ – قَالَ – فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ – قَالَ – وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عِلْماً وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً – قَالَ – فَهُوَ يَقُولُ لَوْ كَانَ لِى مَالٌ عَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ – قَالَ – فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ – قَالَ – وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْماً فَهُوَ يَخْبِطُ فِى مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لاَ يَتَّقِى فِيهِ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلاَ يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقَّهُ فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ – قَالَ – وَعَبْدٌ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالاً وَلاَ عِلْماً فَهُوَ يَقُولُ لَوْ كَانَ لِى مَالٌ لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ – قَالَ – هِىَ نِيَّتُهُ فَوِزْرُهُمَا فِيهِ سَوَاءٌ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Sesungguhnya dunia itu hanya diberikan kepada empat kelompok. </span><b>(Kelompok pertama),</b><span style="font-weight: 400;"> yaitu seorang hamba yang diberi rizki oleh Allah berupa harta dan ilmu. Dia bertakwa kepada Allah dengan hartanya, menyambung tali silaturahim, dan mengetahui hak-hak Allah di dalamnya. Inilah kedudukan yang paling baik di sisi Allah. </span><b>(Kelompok kedua), </b><span style="font-weight: 400;">yaitu yang diberi ilmu oleh Allah namun tidak diberi harta. Dia berkata, ’Jika aku memiliki harta maka aku akan beramal seperti amalnya Fulan’. Maka dengan niatnya itu, dia sama dengan kelompok pertama dari sisi pahalanya. </span><b>(Kelompok ketiga),</b><span style="font-weight: 400;"> yaitu yang diberi harta oleh Allah namun tidak diberi ilmu. Dia seenaknya saja memanfaatkan hartanya, tidak bertakwa kepada Allah dengan hartanya, tidak menyambung tali silaturahim, dan tidak mengetahui hak-hak Allah di dalamnya. Ini adalah kelompok yang paling buruk di sisi Allah. </span><b>(Kelompok keempat)</b><span style="font-weight: 400;"> yaitu yang tidak diberi harta dan ilmu. Dia berkata, ’Seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalnya Fulan’. Maka dengan niatnya itu, dia sama dengan kelompok ketiga dari sisi dosanya.” </span><b>(HR. Ahmad no. 18060. Dinilai </b><b><i>shahih </i></b><b>oleh Syaikh Syu’aib Arnauth dalam </b><b><i>ta’liq </i></b><b>beliau terhadap Musnad Ahmad.)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/35690-60-adab-dalam-menuntut-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">60 Adab Dalam Menuntut Ilmu</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Qayyim Al-Jauziyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengomentari hadits ini, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi penduduk dunia ke dalam empat kelompok.</span></i></p>
<p><b><i>Kelompok pertama, </i></b><i><span style="font-weight: 400;">kelompok terbaik di antara mereka. </span></i><b><i>Yaitu yang diberi harta dan ilmu.</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> Dia berbuat baik kepada masyarakat dan kepada dirinya sendiri dengan ilmu dan hartanya.</span></i></p>
<p><b><i>Kelompok kedua,</i></b> <b><i>kelompok yang diberi ilmu namun tidak diberi harta.</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> Pahala kelompok pertama dan ke dua itu sama karena niatnya. Jika tidak, maka kelompok pertama yang berinfak dan bersedekah, berada di atas kelompok ke dua karena infak dan sedekahnya. Orang yang berilmu namun tidak memiliki harta, maka sama pahalanya dengan kelompok pertama dengan niatnya yang sungguh-sungguh dan ditindaklanjuti dengan apa yang mampu dilakukannya, yaitu mengucapkan niatnya.</span></i></p>
<p><b><i>Kelompok ketiga, kelompok yang diberi harta namun tidak diberi ilmu.</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> Kelompok ini adalah kelompok yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah. Karena hartanya adalah sarana menuju kehancurannya. Jika dia tidak mempunyai harta, maka itu lebih baik baginya. Dia diberi sesuatu yang bisa dijadikan sebagai bekal menuju surga, namun justru dia gunakan sebagai bekal menuju neraka.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/29935-penyebab-tidak-berkahnya-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">Penyebab Tidak Berkahnya Ilmu</a></strong></p>
<p><b><i>Kelompok keempat, yang tidak diberi harta maupun ilmu.</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> Dia berniat bemaksiat kepada Allah jika diberi harta. Maka kedudukannya lebih rendah daripada orang kaya yang bodoh. Dosanya sama karena niatnya yang sungguh-sungguh dan ditindaklanjuti dengan apa yang mampu dilakukannya, yaitu ucapan.</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Maka Nabi membagi kebahagiaan ke dalam 2 kelompok. Beliau </span></i><b><i>menjadikan ilmu dan amal sebagai sebab untuk meraihnya</i></b><i><span style="font-weight: 400;">. Beliau juga membagi kecelakaan ke dalam 2 kelompok dan menjadikan kebodohan beserta akibat-akibatnya sebagai penyebab kecelakaannya.</span></i></p>
<p><b><i>Maka seluruh kebahagiaan kembali kepada ilmu dan konsekuensinya.</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> Dan seluruh kecelakaan kembalinya kepada kebodohan dan buahnya.” </span></i><b>(</b><b><i>Al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, </i></b><b>hal. 253)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em> pun </span><b>memerintahkan kita untuk bergembira dan berbahagia dengan karunia dan rahmat-Nya yang telah Dia berikan kepada manusia, berupa ilmu dan amal shalih. </b><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">juga mengabarkan bahwa keduanya itu lebih baik dari apa yang telah kita kumpulkan. Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Katakanlah, ’Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’” </span><b>(QS. Yunus [10]: 58)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/22868-mengapa-tidak-merasakan-ketentraman-hati-di-majelis-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">Mengapa Tidak Merasakan Ketentraman Hati Di Majelis Ilmu?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdurrahman As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">“karunia Allah” </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam ayat di atas adalah </span><b>Al-Qur’an</b><span style="font-weight: 400;">, yang merupakan nikmat dan karunia Allah yang paling besar serta keutamaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">“rahmat-Nya” </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah </span><b>agama dan keimanan</b><span style="font-weight: 400;">. </span><b>Dan keduanya itu lebih baik dari apa yang kita kumpulkan berupa perhiasan dunia dan kenikmatannya. (</b><b><i>Taisiir Karimir Rahmaan, </i></b><b>hal. 367)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Qur’an dan iman ini tidak lain dan tidak bukan adalah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Ibnul Qayyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, </span><i><span style="font-weight: 400;">”</span></i><b><i>Iman dan Al-Qur’an, keduanya adalah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> Keduanya adalah petunjuk dan agama yang benar serta ilmu dan amal yang paling utama.” </span></i><b>(</b><b><i>Al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, </i></b><b>hal. 29)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah <em>Ta’ala,</em> inilah kebahagiaan yang akan membuat kita selalu tersenyum gembira. Tentu kita semua menginginkan untuk meraih kebahagiaan itu, yaitu kebahagiaan mempelajari ilmu agama dan mengamalkannya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/20724-kiat-mengobati-futur-dan-malas-menuntut-ilmu-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Kiat Mengobati Futur Dan Malas Menuntut Ilmu Agama</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/9063-tahapan-dalam-menuntut-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">Tahapan Dalam Menuntut Ilmu</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 15 Sya’ban 1440/21April 2019</span></p>
<p><b>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
 