
<h2><strong>Menyesal Yang Terpuji</strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Abdullah bin Mas’ud mengatakan, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْئٍ نَدْمِي عَلَى يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ فِيْهِ أَجَلِيْ وَلَمْ يَزِدْ فِيْهِ عَمَلِيْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku tidak pernah memiliki penyesalan yang demikian mendalam dibandingkan dengan penyesalanku akan berlalunya satu hari yang amalku tidak bertambah pada hari itu padahal ajalku semakin berkurang.” (Qimah az-Zaman inda al-Ulama hlm 47, Dar al-Basyair al-Islamiyyah)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Waktu adalah modal pokok seorang muslim untuk bisa mengumpulkan bekal  menghadap Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berlalunya waktu tanpa ada hal bermanfaat yang dilakukan seorang muslim adalah sebuah musibah besar. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Musibah besar karena terbuangnya waktu itu layak untuk disesali dengan penyesalan yang mendalam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nilai penting waktu hanya disadari oleh seorang yang pandai memanfaatkan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang muslim seharusnya adalah seorang yang dermawan dengan hartanya namun demikian pelit dengan waktunya</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang yang pelit dengan waktunya akan mengurangi gaul dan ngobrol yang tidak bermanfaat baik di dunia nyata maupun di dunia maya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang pelit dengan waktunya itu cenderung menyendiri agar bisa lebih produktif menghasilkan karya-karya yang bermanfaat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar bisa menjadi manusia yang produktif menghasilkan karya-karya yang membuahkan pahala jariyah. Aamiin. </span></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.</strong></p>
 