
<p><iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/559335582&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu ‘alaikum</em>. Ustadz, bagaimana pandangan hukum Islam apabila harta warisan–sebelum dibagi ke ahli waris–disisakan dahulu untuk:<br>
1. upah haji badal orang tua yang sudah meninggal;<br>
2. komisi penjual tanah warisan 2,5% dari 800 juta;<br>
3. santunan anak yatim;<br>
4. infak/wakaf ke masjid;<br>
5. pengurusan surat ahli waris ke kelurahan?</p>
<p>Demikianlah pertanyaan saya. Semoga Ustadz dapat secepatnya menjawabnya. <em>Jazakumullah khairan katsiran</em>.</p>
<p><em>Akbar (shobri**@***.com) </em><br>
<!--more--><br>
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam.</em></p>
<p><strong>Sebelum harta warisan dibagi, ada beberapa hal yang harus diselesaikan, terkait pembiayaan berikut ini (<em>sesuai urutannya</em>):</strong></p>
<ol>
<li> Pengurusan jenazah.</li>
<li>Utang mayit yang berbentuk gadai/utang beragunan.</li>
<li>Utang non-agunan, baik utang kepada manusia atau utang kepada Allah <em>ta’ala</em> (seperti: membayar <em>kafarat</em> atau <em>fidyah</em>).</li>
<li>Wasiat yang membutuhkan dana dari harta mayit, berupa infak dalam wasiat, pembiayaan haji, pewasiatan harta kepada kawan atau kerabat, dan lain-lain.</li>
</ol>
<p>Tentang wasiat, tidak boleh melebihi sepertiga warisan, dan juga tidak boleh diberikan kepada ahli waris, karena mereka telah mendapat harta jatah warisannya, sehingga tidak adil jika mereka mendapat dua jatah; wasiat dan warisan.</p>
<p>Dari sisa harta di atas, selanjutnya dilakukan pembagian warisan sesuai syariat Islam.</p>
<p>Karena itu, dalam kasus yang Anda sampaikan, jika harta itu digunakan untuk biaya wasiat maka diperbolehkan, asalkan tidak melebihi sepertiga dari total harta.</p>
<blockquote><p>Akan tetapi, ini dilakukan setelah pelunasan utang, karena yang dimaksud dengan “<strong>harta mayit</strong>” adalah harta yang ditinggalkan setelah dipotong biaya pengurusan jenazah dan utang mayit.</p></blockquote>
<p>Adapun pengurusan surat maka itu bisa diambilkan dari harta warisan yang ada.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Nur Cholis, Lc. (Pengajar Ilmu Faraidh di Islamic Center Binbaz 2010). <strong><br>
<strong>Artikel <a href="https://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></strong></strong></p>
 