
<p><strong>MENUMBUHKAN OPTIMISME PADA ANAK</strong></p>
<p>Oleh<br>
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin</p>
<p>Anak-anak kaum muslimin perlu dilatih memiliki optimisme yang tinggi dan benar. Optimisme yang dibangun berdasarkan <em>rajâˈ</em> (sikap berharap), <em>raghbah</em> (semangat meraih cita-cita) dan tawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla.</p>
<p><em>Rajâˈ</em>, <em>raghbah</em> dan tawakkal merupakan ibadah<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a> yang amat penting bagi kehidupan manusia untuk meraih pahala dan meraih cita-cita.</p>
<p>Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang <em>rajâˈ</em> yang membuktikan bahwa ia termasuk ibadah:</p>
<p><strong>فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا</strong></p>
<p><em>Maka barangsiapa yang <strong>mengharap</strong> berjumpa dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengamalkan amal shalihdan tidak mempersekutukan dengan siapapun dalam beribadah kepada Rabb-nya.</em> [Al-Kahfi/18:110]</p>
<p>Juga firman-Nya:</p>
<p><strong>أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ</strong><strong> ۚ</strong><strong> وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ</strong></p>
<p><em>Mereka mengharap rahmat Allâh, dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.</em> [Al-Baqarah/2:218]</p>
<p>Juga firman-Nya:</p>
<p><strong>أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ</strong><strong> ۚ</strong><strong> إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا</strong></p>
<p><em>Orang-orang yang mereka seru (yang mereka jadikan tumpuan doa) itu, mereka sendiri justeru mencari jalan (wasîlah) langsung menuju Rabb mereka; (berlomba) siapakah di antara mereka yang lebih dekat kepada Allâh, mengharap rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. </em><em>Sesungguhnya azab Rabb-mu itu adalah perkara yang harus ditakuti.</em> [Al-Isrâ/17:57]</p>
<p>Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam <em>Madârij as-Sâlikîn</em> menjelaskan: Mencari jalan <em>(wasîlah)</em> menuju Allâh artinya mencari kedekatan diri kepada Allâh dengan melakukan peribadatan kepada-Nya dan memberikan kecintaan kepada-Nya. Pada ayat ini Allâh menyebutkan tiga pilar keimanan penting yang menjadi tumpuan, yaitu : cinta, takut dan harapan (<em>rajâˈ</em> ).<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Demikian pula<em> raghbah</em>, ia juga merupakan ibadah yang penting. Allâh Subhanahu wa Ta’ala antara lain berfirman :</p>
<p><strong>إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا</strong><strong> ۖ</strong><strong> وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ</strong></p>
<p><em>Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan (semangat) berharap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.</em> [Al-Anbiyâ/21:90]</p>
<p>Apalagi tawakkal, jelas ia merupakan ibadah yang teramat penting, karena tawakkal merupakan tolok ukur keimanan seseorang. Allâh Subhanahu wa Ta’ala antara lain berfirman :</p>
<p><strong>وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</strong></p>
<p><em>Dan hanya kepada Allâh sajalah hendaknya engkau bertawakkal, apabila kamu benar-benar beriman.</em> [Al-Mâˈidah/5 : 23]</p>
<p>Pembinaan bagi tumbuhnya sikap <em>rajâˈ, raghbah</em> dan tawakkal, amat sangat penting ditanamkan pada diri anak-anak semenjak dini supaya semangat dan optimisme mereka kelak terbentuk secara utuh dalam rangka meraih cita-cita masa depan terbaik, yaitu cita-cita ridha Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan kebahagiaan hidup di akhirat. Anak-anak yang diharapkan menjadi generasi pantang putus asa.</p>
<p><strong><em>Rajâˈ</em></strong>, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan harapan, hakikatnya adalah sesuatu yang mendorong dan memotivasi hati menuju hal yang disukainya, yaitu mendapat ridha Allâh dan kebahagiaan di negeri akhirat. Atau pengertian-pengertian yang senada.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a> Intinya<em> rajâˈ </em>adalah sikap berharap yang mendorong hati untuk bersemangat dalam meraih cita-cita.</p>
<p>Dan <em>rajâˈ </em>ini, asasnya adalah <em><u>h</u>usnu zhan </em>(berbaik sangka) terhadap Allâh dan terhadap kasih sayang-Nya, sehingga memangkas habis rasa putus asa. Karenanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memberi peringatan kepada umatnya:</p>
<p><strong>عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلَاثٍ، يَقُولُ: «لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ. رواه مسلم </strong><strong> </strong></p>
<p>Dari Jâbir  Radhiyallahu anhu, ia mengatakan: Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tiga hari sebelum beliau wafat, bersabda: <em>Janganlah seseorang di antara kalian mati kecuali ia dalam keadaan ber<u>h</u>usnu zhan (berbaik sangka) kepada Allâh.</em>[HR. Muslim]<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>Menurut penjelasan Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah , sebenarnya <em>rajâˈ</em> atau harapan, terdiri dari tiga macam. Dua terpuji, dan satu tercela.</p>
<p>Dua yang terpuji adalah: <strong><em>Pertama</em></strong><em>, rajâˈ</em> (harapan) nya seseorang yang berbuat ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla berdasarkan cahaya ilmu dari Allâh. Maka ia adalah orang yang mengharapkan pahala dari Allâh Azza wa Jalla . <strong><em>Kedua</em></strong><em>, </em>harapan seseorang yang berbuat dosa kemudian bertaubat, maka ia adalah orang mengharapkan ampunan, maaf, kebaikan, kemurahan dan santunan Allâh Azza wa Jalla .</p>
<p>Sedangkan<em> rajâˈ</em> yang tercela adalah, seseorang yang terus menerus meninggalkan ketaatan dan terus menerus berbuat kesalahan, namun ia berharap kasih sayang dan rahmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala , tanpa mau berusaha. Ini adalah fatamorgana, angan-angan kosong dan harapan dusta.<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></p>
<p>Itulah <em>rajâˈ</em>.</p>
<p><strong>Adapun</strong> <strong><em>raghbah</em></strong> (semangat meraih cita-cita), hakikatnya mirip dengan<em> rajâˈ</em>. Bedanya,<em> rajâˈ</em>adalah bentuk harapan besarnya, sedangkan<em> raghbah</em> adalah bentuk usahanya. Dengan demikian,<em> raghbah </em>sejatinya merupakan buah dari<em> rajâˈ</em>. Apabila seseorang punya harapan terhadap sesuatu, maka ia akan bersemangat melakukan usaha untuk mendapatkannya. Hubungan antara <em>raghbah</em> dengan<em> rajâˈ, </em>laksana hubungan antara <em>lari</em> dan takut. Orang yang mengharapkan sesuatu niscaya akan berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Demikian pula orang yang takut, maka ia akan lari dari apa yang ditakutinya.<a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<p>Artinya, suatu harapan tidak akan disebut harapan yang sebenarnya kalau tidak ditindak lanjuti dengan tindakan nyata. Dan optimisme yang baik <em>In syâˈAllâh</em> akan terbentuk melalui pembinaan yang benar tentang <em>rajâˈ</em> dan <em>raghbah</em>. Dan hal ini akan menjadi sempurna dengan tawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla .</p>
<p>Pembinaan kearah itu adalah dengan memberikan penjelasan akan janji-janji Allâh Azza wa Jalla bagi orang-orang yang bertaqwa dan meberikan penjelasan akan ancaman-ancaman-Nya bagi orang-orang yang durhaka, melalui proses pengajaran dan pendidikan berkesinambungan secara bertahap berdasarkan al-Qurˈân dan Sunnah.</p>
<p><em>Wallâhu a’lam</em></p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> <em>Syar<u>h</u>u al-</em><em>Ushûl ats-Tsalâtsah, </em>Syaikh Mu<u>h</u>ammad bin Shâli<u>h</u> al-‘Utsaimîn rahimahullah , <em>Dâr al-‘Aqîdah</em>, cet. I, 1425 H/2004, hal. 47<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> <em>Madârij as-Sâlikîn</em> Imam Ibnu al-Qayyim, <em>Dâr I<u>h</u>yâˈi at-Turâts al-‘Arabi,</em> cet. II, th. 1421 H/2001 M, II/27<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Lihat beberapa pengertian yang kemukakan oleh Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam<em> Madârij as-Sâlikîn</em>, op.cit. II/27<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> <em>Sha<u>h</u>î<u>h</u> Muslim bi Syar<u>h</u>i an-Nawawi,</em> Khalîl Maˈmûn Syî<u>h</u>â XVII/206, no. 7160<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> Lihat penjelasan Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam<em> Madârij as-Sâlikîn</em>, op.cit. II/28, dengan beberapa perubahan redaksional.<br>
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> Ibid. II/42</p>
 