
<p><strong>Ketika membahas hukum salam-salaman setelah shalat, ada sebagian orang yang berpendapat salam-salaman setelah shalat bukan bid’ah dengan argumen : </strong></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“kalau salam-salaman setelah shalat ditanya apa dalilnya, sekarang kita tanya apa dalilnya membuka handphone (HP) setelah shalat? karena orang yang membid’ahkan salam-salaman setelah shalat juga terkadang membuka HP setelah shalat”</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel ini tidak bahas tentang hukum salam-salaman setelah shalat, juga tidak membahas hukum membuka HP setelah shalat, namun membahas argumen di atas yang keliru dalam memahami konsep bid’ah.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/20491-hukum-salam-salaman-setelah-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Salam-Salaman Setelah Shalat</a></strong></p>
<h2><b>Qiyas ma’al fariq</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu berbeda antara orang yang salam-salaman setelah shalat dengan orang yang membuka HP setelah shalat. Ini disebut dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">qiyas ma’al fariq</span></i><span style="font-weight: 400;">, menganalogikan dua hal yang berbeda.</span></p>
<p><b>Perbedaan pertama</b><span style="font-weight: 400;">: salam-salaman setelah shalat dianggap sebagian ritual yang dikaitkan dengan shalat, membuka HP setelah shalat tidak dianggap demikian</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diantara kaidah dalam mengenal bid’ah adalah : </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إذا ترك الرسول صلى الله عليه وسلم فعل العبادة من العبادات مع كون موجب سببها المقتضي لها قائما ثابتا والمانع لها منتفيا فإن فعلها بدعة </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak melakukan suatu ibadah padahal motivasi untuk melakukannya ada, dan penghalangnya tidak ada, maka melakukan ibadah tersebut adalah bid’ah” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Qawa’id Ma’rifatil Bida’</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Syaikh Muhammad bin Husain Al Jizani, hal. 75).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini masuk dalam keumuman hadits :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga hadits:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, tidak ternukil riwayat yang shahih bahwa beliau menjadikan salam-salaman sebagai ritual yang dilakukan setelah shalat. Padahal salam-salaman itu baik, motivasinya ada. Dan tidak ada penghalangnya, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dan para sahabat mampu melakukannya. Maka tidak keliru jika ada sebagian ulama yang menganggapnya sebagai bid’ah.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/45084-menjelaskan-bidah-bukan-berarti-memvonis-neraka.html" data-darkreader-inline-color="">Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis Neraka</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun orang yang membuka HP setelah selesai shalat, tidak menganggap hal tersebut sebagai suatu ritual yang dilakukan setelah shalat. Namun umumnya mereka lakukan itu karena ada keperluan tertentu dan sifatnya insidental, tidak terus-menerus dilakukan.</span></p>
<p><b>Perbedaan kedua</b><span style="font-weight: 400;">: andaikan salam-salaman setelah shalat dianggap sebagai perkara muamalah (bukan ibadah), maka perkara muamalah bisa menjadi bid’ah jika niatnya untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">taqarrub </span></i><span style="font-weight: 400;">(mendekatkan diri pada Allah; cari pahala). Sedangkan orang yang membuka HP, tidak ada niatan untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">taqarrub</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diantara kaidah lain dalam mengenal bid’ah adalah : </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">كل تقرب إلى الله بفعل شيئ من العادات أو المعاملات من وجه لم يعتبره الشارع فهو بدعة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Setiap bentuk taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan suatu perkara adat (non ibadah) atau muamalah dengan cara yang tidak dituntunkan syari’at maka perbuatan tersebut adalah bid’ah” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Qawa’id Ma’rifatil Bida’</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 106).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contohnya, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melarang </span><i><span style="font-weight: 400;">tabattul</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu sengaja tidak menikah untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">taqarrub</span></i><span style="font-weight: 400;"> kepada Allah, seperti para rahib dan pendeta. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahuanhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">رَدَّ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى عُثْمَانَ بنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ، ولو أذِنَ له لَاخْتَصَيْنَا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang Utsman bin Mazh’un untuk melakukan tabattul. Andaikan tabattul dibolehkan, sungguh kami akan melakukan kebiri”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no.5073, Muslim no. 1402).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal menikah atau tidak menikah itu perkara muamalah. Namun ketika tidak menikah diniatkan untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">taqarrub</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka menjadi bid’ah. Demikian juga para ulama memberi contoh : </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Memakai pakaian </span><i><span style="font-weight: 400;">shuf</span></i><span style="font-weight: 400;"> (wol) dalam rangka </span><i><span style="font-weight: 400;">taqarrub</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* </span><i><span style="font-weight: 400;">Taqarrub </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada Allah dengan cara puasa berbicara</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* </span><i><span style="font-weight: 400;">Taqarrub </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada Allah dengan cara tidak makan makanan tertentu</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Berjemur di tengah terik matahari ketika puasa, dengan anggapan pahalanya lebih besar</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">dll.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka perkara muamalah atau non ibadah, bisa menjadi bid’ah jika dilakukan untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">taqarrub </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada Allah, jika tidak ada tuntunannya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/26145-sisi-lain-amalan-bidah-yang-sering-dilupakan.html" data-darkreader-inline-color="">Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering Dilupakan</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga salam-salaman setelah shalat jika dianggap muamalah, namun jika dianggap ini lebih mendekatkan diri kepada Allah, lebih afdhal, berpahala, padahal tidak ada tuntunannya maka tidak keliru jika ada ulama yang menganggapnya bid’ah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan, orang yang membuka HP setelah selesai shalat, tidak ada yang melakukannya dalam rangka </span><i><span style="font-weight: 400;">taqarrub</span></i><span style="font-weight: 400;">, atau menganggap kegiatan membuka HP itu berpahala atau lebih afdhal. Murni kegiatan muamalah yang hukumnya mubah saja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka dari sini jelaslah kekeliruan argumen orang yang menyamakan salam-salaman setelah shalat dengan membuka HP. </span><i><span style="font-weight: 400;">Walhamdulillah</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<ul>
<li>
<h2><b>Mengkhususkan yang umum</b></h2>
</li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Masalah salam-salaman setelah shalat juga termasuk dalam bahasan </span><i><span style="font-weight: 400;">taqyidul ibadah al muthlaq</span></i><span style="font-weight: 400;">, mengkhususkan ibadah yang sifatnya mutlak (umum). Diantara kaidah mengenal bid’ah adalah:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">كل عبادة مطلقة ثبتت في الشرع بدليل عام, فإن تقييد إطلاق هذه العبادة بزمان أو مكان معين أو نحوها بحيث يوهم هذا التقييد أنه مقصود شرعا من غير أن يدل الدليل العام على هذا التقييد فهو بدعة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Setiap ibadah yang sifatnya mutlak (umum) yang dilandasi oleh dalil yang umum, jika dikhususkan pada suatu waktu atau suatu tempat tertentu atau semisalnya, sehingga disangka bahwa ibadah tersebut memang disyariatkan pada waktu atau tempat tersebut, tanpa adanya dalil yang mengkhususkannya, maka ibadah tersebut adalah bid’ah” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Qawa’id Ma’rifatil Bida’</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 113).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contohnya ibadah puasa sunnah secara dianjurkan secara mutlak, baik puasa Daud atau puasa tiga hari dalam satu bulan. Namun ketika ada orang yang mengkhususkan puasa setiap hari Rabu, atau puasa khusus tanggal 7 atau tanggal 8 setiap bulan, padahal tidak ada dalilnya, tidak ragu lagi ini adalah sebuah kebid’ahan. Demikian juga, shalat sunnah dianjurkan secara mutlak. Namun mengkhususkan shalat sunnah sekian rakaat di hari tertentu, atau pada malam tertentu tanpa dalil, ini adalah kebid’ahan (lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Qawa’id Ma’rifatil Bida’</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 115).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka demikian juga, bersalaman memang dianjurkan dalam agama. Dari Al Barra’ bin ‘Azib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَاَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, melainkan dosa keduanya sudah diampuni sebelum mereka berpisah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Abu Dawud no. 5.212 dan at-Tirmidzi no. 2.727, dishahihkan oleh al-Albani).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun anjuran bersalaman ini sifatnya mutlak dilakukan dimanapun dan kapanpun ketika bertemu sesama Muslim, tidak dikaitkan dengan waktu atau tempat tertentu. Ketika dikhususkan pelaksanaannya setelah shalat, sehingga orang-orang mengira bahwa memang dianjurkan salam-salaman ketika itu, padahal tidak ada dalil yang mengkhususkannya, maka tidak keliru jika ada ulama yang menganggapnya bid’ah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan kasus  </span><i><span style="font-weight: 400;">taqyidul ibadah al muthlaq </span></i><span style="font-weight: 400;">juga tidak terjadi pada perbuatan membuka HP setelah shalat, karena telah kita bahas bahwa orang yang membuka HP setelah shalat tidak menganggapnya sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">taqarrub </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada Allah atau ibadah.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/23085-11-amalan-bidah-di-bulan-muharram.html" data-darkreader-inline-color="">11 Amalan Bid’ah di Bulan Muharram</a></strong></p>
<h2><b>Bersalaman setelah shalat karena baru ketemu</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbeda kasusnya, jika bersalaman setelah shalat murni karena memang baru ketemu setelah shalat. Atau sudah ketemu sebelum shalat namun belum sempat salaman. Karena memang bersalaman itu disunnahkan kepada orang ketika bertemu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Mula Ali Al Qari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (wafat 1014H ) mengatakan, “Jika seseorang masuk masjid dan orang-orang sudah shalat atau sudah akan segera dimulai, maka setelah shalat selesai andaikan mau bersalaman itu dibolehkan. Namun dengan syarat, memberikan salam terlebih dahulu sebelum salaman. Maka yang seperti ini barulah termasuk bentuk salaman yang disunnahkan tanpa keraguan” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Mirqatul Mafatih</span></i><span style="font-weight: 400;">, 7/2963).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun tentu saja ini tidak terjadi setiap saat dan setiap waktu, sehingga tidak mungkin alasan ini digunakan sebagai legitimasi untuk mendukung amalan salam-salaman setelah shalat.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/21916-sebab-sebab-menyebarnya-bidah.html" data-darkreader-inline-color="">Sebab-Sebab Menyebarnya Bid’ah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/19295-larangan-terhadap-bidah-dalam-al-quran.html" data-darkreader-inline-color="">Larangan Terhadap Bid’ah Dalam Al Qur’an</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahul muwaffiq.</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">***</span></i></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color="">Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
 