
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian orang sangat mudah melontarkan <a href="https://muslim.or.id/6540-kendalikan-lisan.html">kata-kata kotor, kata-kata yang buruk,</a> dan bisa jadi menyakitkan orang lain yang mendengarnya. Ucapan kotor itu seolah-olah sudah menjadi tabiat dan karakternya, sehingga mudah terucap dan sulit dihilangkan. Sangat mudah baginya untuk mengeluarkan cacian dan makian kepada orang lain. Selain itu, ucapan kotor tersebut semakin parah ketika dia berselisih dengan kawannya, atau terlibat dalam perdebatan dan pertengkaran. Kepada saudaraku dengan karakter dan tabiat semacam ini, semoga tulisan singkat ini dapat menjadi bahan renungan kita bersama.</span></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Allah Ta’ala Tidak Menyukai Perkataan yang Buruk</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 114)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan “bisikan-bisikan mereka” adalah ucapan (perkataan) manusia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala juga berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (dizalimi). Allah itu Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 148)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksudnya, Allah Ta’ala tidak menyukai perkataan yang jelek, perkataan yang menyakiti (orang lain), kecuali bagi orang yang dizalimi. Bagi orang yang dizalimi, diperbolehkan untuk mendoakan jelek orang yang menzalimi, atau menyebutkan keburukan orang zalim tersebut.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/33499-tidak-boleh-membenarkan-ucapan-jin-pada-orang-yang-disihir-atau-kerasukan.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Boleh Membenarkan Ucapan Jin pada Orang yang Disihir atau Kerasukan</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لا يحب الله أن يدعوَ أحدٌ على أحد، إلا أن يكون مظلومًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maksudnya, Allah tidak menyukai seseorang berdoa jelek untuk orang lain, kecuali jika dia dizalimi.” </span><b>[1]</b></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Setiap Ucapan Manusia Dicatat Malaikat</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, Allah Ta’ala memperingatkan bahwa terdapat <a href="https://muslim.or.id/25445-mengenal-alam-malaikat-1.html">malaikat</a> yang mencatat setiap ucapan manusia, yang baik maupun yang buruk. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” </span><b>(QS. Qaaf [50]: 18)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau berkata, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Suatu ketika ada tiga orang berkumpul di samping Ka’bah: dua orang dari suku Quraisy dan satu orang dari Tsaqif atau yang dua orang dari Tsaqif dan satu orang dari Quraisy. Perut mereka besar, namun hati mereka sedikit memiliki ilmu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu salah seorang dari mereka berkata, “Apakah menurut kalian Allah mendengar apa yang kita katakan?” Orang yang lain berkata, “Jika kita berbicara dengan keras, Dia mendengarnya dan jika kita berkata dengan pelan, Dia tidak mendengarnya.” Sedangkan yang lainnya lagi berkata, “Jika Dia mendengar ketika kita bicara keras, pasti Dia juga mendengar ketika kita bicara pelan.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلاَ أَبْصَارُكُمْ وَلاَ جُلُودُكُمْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu kepadamu.” (QS. Fushshilat [41]: 22).” </span><b>(HR. Bukhari no. 4817 dan Muslim no. 2775)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/29313-ucapan-selamat-tahun-baru-imlek-tidak-terkait-akidah-bolehkah.html" data-darkreader-inline-color="">Ucapan Selamat Tahun Baru Imlek Tidak Terkait Akidah, Bolehkah?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 28px;">Jangan Ganggu Orang Lain dengan Lisanmu</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau bertanya kepada Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">“Wahai Rasulullah! Siapakah kaum muslimin yang paling baik?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjawab,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ، وَيَدِهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seorang muslim yang tidak mengganggu orang lain dengan lisan atau tangannya.” </span><b>(HR. Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengganggu dengan lisan, bisa jadi dengan perkataan yang menyakitkan, atau yang lainnya (misalnya, mengejek dengan menjulurkan lidah). Dan disebutkan “tangan” dalam hadits di atas karena mayoritas gangguan kepada orang lain itu disebabkan oleh tangan. Sehingga hal ini tidak menihilkan gangguan melalui anggota tubuh yang lain, misalnya kaki atau yang lainnya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/28578-ucapan-selamat-pada-momen-momen-bahagia.html" data-darkreader-inline-color="">Ucapan Selamat Pada Momen-Momen Bahagia</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Terjerumus Dalam Neraka Karena Satu Ucapan</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam banyak hadits, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">memperingatkan bahwa bisa jadi ada di antara kita yang mengucapkan satu kalimat, dan menurut kita ucapan itu adalah ucapan yang remeh. Namun dengan sebab kalimat itu, Allah Ta’ala menjerumuskan kita ke dalam neraka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terlempar ke neraka sejauh antara jarak ke timur.” </span><b>(HR. Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 2988)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat Muslim disebutkan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.” </span><b>(HR. Muslim no. 2988)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah, suatu kalimat yang dia tidak mempedulikannya (memperhatikannya), namun dengannya Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh, seorang hamba akan mengucapkan sebuah kalimat yang dimurkai oleh Allah, suatu kalimat yang dia tidak meperdulikannya (memperhatikannya), namun dengannya Allah melemparkannya ke dalam neraka.” </span><b>(HR. Bukhari no. 6478 dan Muslim no. 2988)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/23959-benarkah-tidak-ada-dalil-yang-melarang-ucapan-selamat-natal.html" data-darkreader-inline-color="">Benarkah Tidak Ada Dalil Yang Melarang Ucapan Selamat Natal?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ اللَّهِ، لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا، فَيَهْوِي بِهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ سَبْعِينَ خَرِيفًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bisa jadi seseorang mengatakan satu kalimat yang dimurkai Allah, suatu kalimat yang menurutnya tidak apa-apa. Akan tetapi, dengan sebab kalimat itu dia jatuh ke neraka selama tujuh puluh tahun.” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 2314 dan Ibnu Majah no. 3970, shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ، فَيَكْتُبُ اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bisa jadi salah seorang dari kalian mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Allah ridha, dia tidak mengira kalimat itu sampai seperti itu, lalu karenanya Allah mencatat keridhaan untuknya hingga hari dia bertemu dengan-Nya. Dan bisa jadi salah seorang di antara kalian mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Allah murka, dia tidak mengira kalimat itu sampai seperti itu, lalu Allah mencatat kemurkaan-Nya untuk orang itu hingga saat ia bertemu dengan-Nya.” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 2319, shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Betapa banyak di antara kita yang meremehkan peringatan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ini. Kita mengucapkan satu kalimat tanpa dipikirkan secara mendalam terlebih dahulu, atau kita membuat satu kalimat status atau komentar di media sosial, lalu kalimat itu berbuah penyesalan. Yaitu ketika kalimat itu menyakitkan orang lain, atau kelompok tertentu, dan sebagainya. Sehingga benarlah bahwa keselamatan itu dengan menjaga lisan dan tulisan.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/21972-hukum-ucapan-selamat-memasuki-bulan-ramadhan.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Ucapan “Selamat Memasuki Bulan Ramadhan”</a></span></strong></li>
<li><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/21278-menanggapi-ucapan-anda-sok-paling-benar.html" data-darkreader-inline-color="">Menanggapi Ucapan “Anda Sok Paling Benar”</a></span></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 17 Dzulhijjah 1440/18 Agustus 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 14pt;"><b>Catatan Kaki</b></span></h2>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir-</span></i><span style="font-weight: 400;">nya (9: 344).</span></p>
 