
<p><em>Alhamdulillah, shalawat </em>dan salam semoga senantiasa dimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</p>
<p>Bersama berjalannya waktu, kesadaran umat Islam akan pentingnya  kembali kepada pangkuan agama mereka semakin terasa kuat dan membulat.  Demikianlah dinamika kehidupan umat Islam sepanjang sejarah. Pasang  surut ini selaras dengan pasang surut iman dan ketakwaan mereka.</p>
<p>Sebagaimana yang Anda rasakan, dalam beberapa kesempatan dan keadaan,  Anda merasakan iman Anda bertambah, dan di lain kesempatan, Anda merasa  iman Anda menurun dan mungkin juga loyo.</p>
<p style="text-align: right;">عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله  عليه وسلم : (إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِى جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا  يَخْلَقُ الثَّوْبُ الْخَلِقُ فَاسْأَلُوا الله أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ  فِى قُلُوبِكُم)  .رواه الطبراني والحاكم</p>
<p><em>Sahabat Abdullah bin Amer bin Al-‘Ash –semoga Allah meridhai  keduanya-, mengisahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Sungguh, iman itu dapat usang sebagaimana pakaian dapat  menjadi usang. Karenanya mohonlah selalu kepada Allah agar memperbaharui  iman yang ada dalam jiwamu.”</em> Riwayat Ath-Thabrani dan Al-Hakim.</p>
<p>Sejarah perjalanan umat Islam di negeri kita adalah salah satu  buktinya. Seruan untuk menjadikan syariat Islam sebagai asas kehidupan  dalam segala aspeknya terus bergemuruh dan menguat. Tidak heran bila  saat ini segala yang berembel-embel islam atau syariat diminati dan  bahkan laku dijual ke masyarakat. Dimulai dari partai Islam, sekolah  Islam, dan lain sebagainya.</p>
<p>Di antara sektor yang menggeliat dengan kuat ialah sektor  perekonomian. Karenanya, sudah menjadi pemandangan lumrah bagi Anda  perbankan syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah dan lain  sebagainya. Sebagaimana Anda juga sering mendengar berbagai istilah yang  biasa digunakan oleh para ulama ahli fikih, semisal: <em>mudharabah, ijarah, syarikah, riba, istishna’</em> dan lain sebagainya.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Perjuangan Menerapkan Ekonomi Syariah</strong></span></p>
<p>Upaya dan perjuangan anak manusia di setiap masa, pastilah pantas  untuk dikritisi, dengan demikian kesempurnaan dan keberhasilan segera  dapat diwujudkan. Sikap kritis bertujuan untuk meneruskan keberhasilan  dan memangkas kekurangan dan kesalahan.</p>
<p style="text-align: right;">(كُلُّ ابنِ آدَمَ خَطَّاءُ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ. (رواه أحمد والترمذي وابن ماجة وصححه الحاكم</p>
<p>“<em>Setiap anak Adam sering melakukan kesalahan, dan sebaik-baik  orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat (kembali kepada  kebenaran)</em>.” Riwayat Ahmad, At-Tirmizy, Ibnu Majah, dan oleh Al-Albani dinyatakan sebagai hadits hasan.</p>
<p>Sudah sepantasnya bila kita sebagai umat Islam senantiasa  bersama-sama mengkritisi perjuangan kita dalam menerapkan syariat Allat  <em>Ta’ala</em> yang kita cintai.</p>
<p>Melalaui tulisan sederhana ini saya berusaha memberikan andil dalam  meluruskan dan mengoreksi upaya penerapan syariat Islam dalam  perekonomian umat. Menurut pengamatan saya terhadap fakta perkembangan  ekonomi syariah yang berjalan di masyarakat, terdapat beberapa hal yang  menjadikan penerapan ekonomi syariah berjalan di tempat.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kritikan Pertama: Dominasi Sektor Keuangan</strong></span></p>
<p>Saudaraku! Bila Anda bertanya kepada masyarakat luas tentang: Apa  yang pertama kali terbayang di benak Anda setiap kali mendengar kata:  ekonomi syariah?</p>
<p>Maka, biasanya yang terbetik pertama kali di benak kebanyakan dari  mereka tentang ekonomi Islam ialah perbankan Islam, asuransi Islam, dan  kalaupun melebar, ya tidak jauh-jauh dari seputar masalah zakat, wakaf  dan yang semisal.</p>
<p>Tidak heran bila berbagai praktisi ekonomi syariat membuat pernyataan  bahwa kadar ekonomi syariat di negeri kita hanya berkisar pada hitungan  2 % dari total ekonomi nasional. Perhitungan ini hanyalah berdasarkan  pada jumlah dana masyarakat yang dikelola oleh perbankan syariat. Mereka  melupakan berbagai praktik ekonomi syariat di pasar tradisional,  pertanian, industri dan lainnya.</p>
<p>Gambaran sempit tentang ekonomi Islam yang ada di benak kebanyakan  umat Islam ini, mungkin salah satu alasan yang menjadikan perhatian para  praktisi ekonomi Islam saat ini hanya berkutat pada dunia perbankan  atau sektor finansial.</p>
<p>Padahal sejatinya ekonomi Islam bukan hanya sektor finansial, akan  tetapi juga mencakup sektor industri, perdagangan dan berbagai sektor  riil lainnya. Dan bila Anda renungkan, niscaya Anda dapatkan bahwa  sektor finansial senantiasa bergantung pada sektor-sektor riil. Bila  demikian adanya, berbagai perjuangan dan upaya yang dicurahkan hanya  akan menemui jalan buntu. Sebab, sektor keuangan seringnya tidak dan  bahkan kadang kala tidak dibenarkan untuk terjun langsung ke sektor riil  atau bisnis praktis yang dapat menghasilkan keuntungan halal.</p>
<p>Hal ini dikarenakan uang yang merupakan faktor utama sektor  finansial, adalah alat untuk menjalankan roda ekonomi dan bukan sebagai  objek perekonomian. Objek sejati perekonomian ialah barang atau jasa,  yang selanjutnya dinilai dengan uang, dan bukan uang dinilai dengan  uang.</p>
<p>Bila uang yang notabene adalah alat transaksi dan niaga dijadikan  sebagai objek utama niaga, maka yang terjadi adalah riba, berbagai  tindak spekulasi dan berbagai kekacaun.</p>
<p>Tidak heran bila berbagai kalangan mengkhawatirkan terjadinya over  likuidasi pada sektor keuangan syariat yang ada. Di mana dana pihak  ketiga mengalir begitu deras, akan tetapi sektor keuangan syariat tidak  kuasa menyalurkannya kepada sektor riil. (Majalah MODAL edisi 19/II-MEI  2004, hal 25.)</p>
<p>Kekhawatiran ini cukup mendasar, sebab keuntungan yang didapat oleh  kebanyakan sektor keuangan syariat saat hanyalah melalui penyaluran  dana, dan bukan dari hasil niaga nyata.</p>
<p>Bila demikian, sudah sepantasnya saatnya para praktisi ekonomi Islam  untuk memusatkan perhatian dan perjuangan mereka pada sektor industri,  perniagaan praktis dan yang semisial. Dengan demikian, mereka  benar-benar menghasilkan keuntungan dari perniagaan nyata dan bukan dari  mempertukarkan uang dengan uang?</p>
<p>Artikel <a href="http://PengusahaMuslim.com" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com</a></p>
 