
<p>Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) pernah diajukan pertanyaan prihal menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an untuk mayit.</p>
<p><strong>Pertanyaan</strong>: <em>Apakah pahala membaca Al Qur’an dan bentuk peribadahan lainnya sampai kepada mayit (orang yang sudah meninggal dunia), baik dari anak maupun selainnya?</em></p>
<p><strong>Jawaban</strong>: Tidak ada dalil -setahu kami- yang menunjukkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> membaca Al Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada si mayit dari kerabat atau selainnya . Seandainya pahalanya memang sampai kepada kerabat atau orang lain yang sudah mati, tentu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>akan bersemangat untuk melakukannya. Tentu pula beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>akan menjelaskan hal ini pada umatnya, supaya umatnya yang masih hidup memberi kemanfaatan kepada orang yang sudah mati. Padahal beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap orang yang beriman sangat menaruh kasihan dan menyayangi mereka.</p>
<p>Para Khulafaur Rosyidin, orang-orang sesudah mereka dan sahabat lainnya –radhiyallahu ‘anhum- yang  mengikuti petunjuk beliau tidaklah kami ketahui bahwa salah seorang dari mereka menghadiahkan pahala membaca Al Qur’an kepada selainnya. Seutama-utama kebaikan adalah dengan mengikuti petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga petunjuk Khulafaur Rosyidin serta petunjuk sahabat radhiyallahu ‘anhum lainnya. Sejelek-jelek perkara adalah dengan mengikuti perkara yang diada-adakan (baca: bid’ah). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><span style="color: #0000ff;">وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</span></span></p>
<p><em>“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap <a href="https://rumaysho.com/180-ketahuilah-dampak-buruk-bidah-dan-jauhilah.html">bid’ah adalah sesat</a>.</em>” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih</em><em> wa Dho’if Sunan Abu Daud </em>dan <em>Shohih</em><em> wa Dho’if Sunan Tirmidzi</em>)</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><span style="color: #0000ff;">مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</span></span></p>
<p>“<em>Barangsiapa</em><em> membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.</em>” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)</p>
<p>Oleh karena itu, <span style="text-decoration: underline;">tidaklah boleh</span> membaca Al Qur’an untuk si mayit, pahala bacaan Al Qur’an ini juga tidak akan sampai kepada si mayit, bahkan perbuatan semacam ini termasuk <span style="text-decoration: underline;">bid’ah (yang tercela)</span>.</p>
<p>Adapun bentuk pendekatan diri pada Allah yang lainnya, jika terdapat dalil shohih yang menunjukkan sampainya pahala amalan tersebut kepada si mayit, maka wajib kita terima. Seperti <span style="text-decoration: underline;">sedekah </span>yang diniatkan dari si mayit, <span style="text-decoration: underline;">do’a kepadanya</span>, dan <span style="text-decoration: underline;">menghajikannya</span>. Sedangkan amalan yang tidak ada dalil bahwa pahala amalan tersebut sampai pada si mayit, maka amalan tersebut tidaklah disyari’atkan sampai ditemukan dalil.</p>
<p>Oleh karena itu, -sekali lagi- tidak boleh membaca Al Qur’an dan pahalanya ditujukan kepada si mayit. <span style="text-decoration: underline;">Pahala bacaan tersebut tidak akan sampai kepadanya, menurut pendapat yang paling kuat</span>. Bahkan perbuatan semacam ini termasuk <span style="text-decoration: underline;">bid’ah yang tercela</span>.</p>
<p>Hanya Allah-lah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, juga kepada pengikut dan para sahabatnya.</p>
<p><em>Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’</em></p>
<p>Anggota : Abdullah bin Ghodyan<br>
Wakil Ketua : Abdur Rozaq ‘Afifi<br>
Ketua : Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz</p>
[Fatwa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Iftah (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi) no. 2232, pertanyaan ketiga]
<p> </p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/13136-keutamaan-surat-yasin-untuk-orang-yang-akan-mati.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Surat Yasin untuk Orang yang Akan Mati</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/3156-kirim-pahala-al-fatihah.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Kirim Pahala Al Fatihah</strong></span></a></li>
</ul>
<p>***</p>
<p>Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel https://rumaysho.com</p>
 