
<p>Seringkali karena kebodohan kita, kita menyempitkan makna ibadah hanya sebatas pada amalan-amalan lahiriyah seperti shalat, zakat, sedekah, atau naik haji. Sedikit sekali pengetahuan kita tentang adanya ibadah-ibadah hati yang juga dicintai oleh Allah <i>Ta’ala. </i>Seseorang pun bisa jatuh ke dalam perbuatan <i>syirik</i> karena dia tidak waspada dan lalai dalam mengawasi gerak-gerik hatinya, kemanakah hati itu condong. Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini kami ingin membahas salah satu bentuk ibadah hati, yaitu khusyu<i>k</i> kepada Allah.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Pujian Allah kepada Orang-Orang yang Khusyuk</b></span></h4>
<p>Allah <i>Ta’ala </i>berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ</p>
<p><i>”Sesungguhnya mereka itu senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan serta berdoa kepada kami dengan penuh “raghbah” dan “rahbah”. </i><b><i>Sedangkan mereka selalu khusyuk hanya kepada kami</i></b><i>” </i>(QS. Al-Anbiya’ : 90).</p>
<p>Di dalam ayat ini, Allah memuji hamba-hamba-Nya yang pilihan dari kalangan para Nabi dan Rasul yang Allah sebutkan dalam surat Al-Anbiya’. Karena mereka senantiasa berdoa kepada-Nya dengan diliputi perasaan <i>raghbah, rahbah, </i>dan <i>khusyuk. “Raghbah” </i>adalah bentuk khusus dari <i>raja’ </i>(berharap), yaitu mengharap memperoleh pahala di sisi-Nya. Sedangkan <i>“rahbah” </i>adalah bentuk khusus dari <i>khouf  </i>(rasa takut), yaitu rasa takut terhadap hukuman dan siksa dari Allah. Adapun yang dimaksud dengan <i>khusyu’ </i>adalah rasa tunduk dan merendahkan diri di hadapan keagungan Allah, sehingga dengannya seseorang pasrah kepada takdir-Nya dan kepada syari’at-Nya.</p>
<p>Pujian Allah kepada para Nabi dan Rasul yang <i>khusyuk </i>kepada-Nya menunjukkan bahwa Allah mencintai perbuatan <i>khusyuk </i>tersebut. <b>Sedangkan setiap perbuatan yang Allah cintai termasuk dalam  ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah.</b> Hal ini sebagaimana definisi ibadah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <i>rahimahullah </i>yaitu, ”Ibadah adalah sebuah istilah yang mencakup seluruh ucapan dan perbuatan yang dicintai Allah, baik yang bersifat lahir maupun batin. Contohnya <i>khauf</i> (rasa takut), <i>khasyah</i> (bentuk khusus dari <i>khauf</i>), tawakkal, shalat, zakat, puasa, dan syariat Islam yang lain”<i>. </i>Oleh karena itu, apabila khusyuk<i> </i>ini ditujukan kepada selain Allah, maka termasuk ke dalam ke<i>syirik</i>an.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Khusyu<i>k</i></b><b>nya Hati, Pandangan, dan Suara</b></span></h4>
<p>Khusyuk<i> </i>berkaitan dengan hati, pandangan, dan suara. Orang yang khusyuk<i> </i>di hadapan Allah berarti merendahkan suaranya, menundukkan pandangannya, dan hatinya tunduk kepada syari’at Allah. Allah <i>Ta’ala </i>berfirman,</p>
<p class="arab">أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ</p>
<p><i>”</i><b><i>Apakah belum datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk hati mereka khusyu’ (tunduk) </i></b><b> </b><b><i>mengingat Allah</i></b><i>, dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)” </i>(QS. Al-Hadid : 16).</p>
<p>Allah <i>Ta’ala </i>berfirman,</p>
<p class="arab">خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ</p>
<p><i>”Dalam keadaan mereka (orang-orang kafir) </i><b><i>menundukkan pandangannya</i></b><i> (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka” </i>(QS. Al-Ma’aarij : 44).</p>
<p>Allah <i>Ta’ala </i>juga berfirman,</p>
<p class="arab">يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا</p>
<p><i>”Pada hari itu (hari kiamat) manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok. </i><b><i>Dan merendahlah (khusyu’) semua suara kepada Dzat Yang Maha Pemurah.</i></b><i> Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja” </i>(QS. Thaha : 108).</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Khusyuk</b><b>nya Kaum Musyrikin</b></span></h4>
<p>Marilah kita menyempatkan diri sejenak melihat keadaan orang-orang <i>musyrik</i> di sisi sesembahan mereka. Misalnya keadaan para penyembah kubur wali, raja, atau orang shalih lainnya yang sering kita jumpai menjadi satu kompleks dengan masjid. Kita akan mendapatkan mereka berada dalam kekhusyukan yang (mungkin) tidak mereka tunjukkan ketika berada di masjid Allah yang tidak ada kuburnya. Ketika berada di sisi kubur sesembahannya, mereka benar-benar merasa berharap (<i>raghbah</i>), takut dan cemas (<i>rahbah</i>), serta khusyuk, sampai-sampai tubuhnya tenang, diam tidak bergerak. Bernafas pun harus tenang tidak menimbulkan suara.  Inilah bentuk nyata ketundukan dan pengagungan hati mereka kepada sesembahannya yang batil itu. Semuanya itu tidaklah pantas ditujukan kepada siapa pun kecuali hanya kepada Allah semata.</p>
<p>Padahal, yang mendapatkan pujian dan termasuk salah satu ciri orang yang beriman kepada Allah adalah seseorang yang khusyuk<i> </i>ketika menghadap beribadah Allah <i>Ta’ala </i>semata<i>, </i>misalnya menghadap Allah dalam shalatnya. Allah <i>Ta’ala </i>berfirman,</p>
<p class="arab">قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ</p>
<p><i>”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. </i><b><i>(Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya</i></b><i>” </i>(QS. Al-Mu’minuun : 1-2).</p>
<p>Khusyuk<i> </i>inilah yang merupakan ruh dan tujuan dari shalat. Adapun shalat yang tidak diserta rasa khusyuk<i> </i>dan tidak menghadirkan hatinya, meskipun tetap mendapatkan pahala, namun pahalanya akan berkurang sesuai dengan kurangnya rasa khusyuk<i> </i>dalam shalatnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang khusyu<i>k</i>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Disempurnakan pada pagi hari di lab EMC, 8 Rabiul Awwal 1436</p>
<p>Yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,</p>
<p><b>Penulis:</b> M. Saifudin Hakim</p>
<p> </p>
<h5><b>Referensi:</b></h5>
[1] <i>Hushuulul Ma’mul Syarh Tsalaatsatul Ushuul, </i>karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan
[2] <i>Syarh Kitab Tsalaatsatil Ushuul, </i>karya Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu-Syaikh
[3] <i>Taisir Karimir Rahmaan, </i>karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di
<p> </p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 