
<p><i>Alhamdulillah wash shalatu was salamu ala rasulillah wa ala alihi wa shahbih, amma ba’du, </i>Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di <i>rahimahullah </i>dalam <i>Manzhumah Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah</i>nya menuliskan</p>
<p class="arab">و إن تساوى عملان اجتمعا و فعل إحداهما فاستمعا</p>
<p><i>“Dan jika dua amal itu sejenis dan dilakukan salahsatunya saja (maka itu sudah cukup), camkanlah” </i></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Penjelasan Kaidah:</b></span></h4>
<p>Jika ada dua amal yang jenisnya sama, sedangkan salah satunya tidak harus dikerjakan secara tersendiri dan bisa digabungkan, maka boleh dikerjakan salah satu dari keduanya.</p>
<p><b>Contoh :</b></p>
<ul>
<li>Seseorang masuk Masjid dan shalat sunnah rawatib sebelum zuhur, maka itu sudah cukup mewakili shalat tahiyyatul masjid<i></i><i>.</i>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Seorang yang sedang <i>thawaf  umrah</i>, maka sudah bisa mewakili<i> thawaf qudum.</i>
</li>
</ul>
<p><b>Syarat berlakunya kaidah ini ada dua:</b></p>
<ol>
<li>Kedua amal tersebut harus sejenis, maka jika beda jenis tidak berlaku kaidah ini.</li>
<li>Salah satunya harus berstatus amal yang tidak harus dikerjakan secara tersendiri.</li>
</ol>
<p>Maka jika keduanya adalah amal yang harus dikerjakan masing-masing secara tersendiri, seperti shalat sunnah rawatib sebelum subuh dengan shalat subuh, maka tidak boleh saling mewakili dan tidak bisa digabungkan pelaksanaannya.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Penerapan Kaidah di atas Dalam Masalah:</b></span></h4>
<p>Bolehkah digabungkan niat zikir pagi dengan zikir sesudah shalat karena lafaz keduanya sama?</p>
<ul>
<li>Jika seseorang yang hendak melakukan zikir sesudah shalat, mengamalkan hadis ‘Uqbah bin ‘Amir <em>radhiallahu ‘anhu</em>,
<p class="arab">قال عقبة بن عامر: (أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أقرأ بالمعوذات دبر كل صلاة. وفي رواية بالمعوذتين).</p>
<p><i>“’Uqbah bin ‘Amir berkata, (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku membaca mu’awwidzat (Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nas) setiap selesai shalat. Dan dalam riwayat lainya hanya mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas)” </i>(HR. Abu Dawud,At-Tirmidzi,An-Nasa`i &amp; Ahmad,dishohihkan Al-Albani).</p>
</li>
<li>Di sisi yang lain, ia juga ingin mengamalkan hadis Abdullah bin Khubaib tentang zikir pagi. Dalam hadis tersebut,  Abdullah bin Khubaib <i>radhiallahu ‘anhu </i>bertanya,
<p class="arab">يا رسول الله ما أقول؟ قال: (قل هو الله أحد) والمعوذتين حين تمسي وحين تصبح، ثلاث مرات، تكفيك من كل شيء. رواه أبو داودوالترمذي، وحسنه الألباني.</p>
<p><i>“Wahai Rasulullah, apa yang aku ucapkan? Beliapun bersabda, qulhuwallahu ahad</i> dan <i>mu’awwidzatain, saat sore hari dan pagi hari sebanyak 3 kali, niscaya zikir itu mencukupimu dari segala sesuatu” (</i>HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani).</p>
</li>
<li>Lalu ia membaca 3 Surat tersebut masing-masing sebanyak 3 kali saja dengan meniatkan zikir ba’da shalat dan zikir pagi sekaligus, maka itu sudah cukup karena
<ol>
<li>kedua amal tersebut sejenis, yaitu sama-sama zikir.</li>
<li>zikir pagi dan sore termasuk amal yang tidak harus dikerjakan secara tersendiri.</li>
</ol>
</li>
</ul>
<p>Oleh karena itu Syaikh Bin Baz <i>rahimahullah </i>berkata di <i>Majmu’ Fatawanya:</i></p>
<p class="arab">أما بعد المغرب، والفجر فيقولها ثلاثًا، يقرأ هذه السور الثلاث ثلاثًا، {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} ثلاثًا، {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ} ثلاثًا، {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ} ثلاثًا بعد الفجر، والمغرب</p>
<p><i>“</i>Adapun setelah magrib dan subuh, maka ia mengucapkannya tiga kali, maksudnya membaca tiga surat ini tiga kali <i>Qulhuwallahu ahad</i> (Al-Ikhlas) tiga kali, <i>Qul a’uzu bi rabbil falaq </i>(Al-Falaq) tiga kali, <i>Qul a’uzu birabbinnas </i>(An-Nas) tiga kali sesudah shalat subuh dan magrib”.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Bagaimana jika diamalkan keduanya?</b></span></h4>
<p>Namun barangsiapa yang melakukan dua zikir tersebut secara sendiri-sendiri, sehingga dia baca tiga surat tersebut masing-masing sebanyak empat kali, maka lebih utama, karena lebih banyak zikir yang diucapkannya. <i>Wallahu a’lam</i>.</p>
<p> </p>
<h5>Referensi :</h5>
<ol>
<li>
<em>Syarh Manzhumah As-Sa’diyyah</em>, Syaikh Dr. Sa’d Ats-Tsitsri.</li>
<li>
<em>Al-Majmu’ah Al-Kalimat</em>,(Syarh Manzhumah As-Sa’diyyah), Syaikh As-Sa’di.</li>
<li>Islamqa.info/ar/60420</li>
<li>Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=133369</li>
<li>Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=280246</li>
<li>Fatwa.Islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=247942</li>
<li>Do’a &amp; Wirid,Ust. Yazid Jawwas.</li>
</ol>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 