
<h2><b>Menggabung Kurban dan Akikah?</b></h2>
<p><em><b>Pertanyaan:</b></em></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Assalamualaikum</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Afwan ustadz, saya ingin bertanya, “apakah boleh menggabungkan dua niat ibadah kurban(1.untuk aqiqah 2.untuk kurban idhul adha)?</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Karna setau saya keduanya ibadah sunnah”</span></i></p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menggabung dua niat dalam satu ibadah, diistilahkan para ulama dengan “</span><i><span style="font-weight: 400;">At-Tasyrik Fin Niyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">“. Ketentuan menggabung niat-niat ibadah, pernah kami bahas di sini:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menggabung Puasa Syawal dan Qodo’ Puasa </span><a href="https://thehumairo.com/2150-bayar-puasa-sekalian-puasa-syawal-boleh.html"><span style="font-weight: 400;">https://thehumairo.com/2150-bayar-puasa-sekalian-puasa-syawal-boleh.html</span></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentang boleh tidaknya menggabungkan kurban dan akikah, ada dua pendapat ulama dalam masalah ini:</span></p>
<p><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">, tidak boleh dan tidak sah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat ini dipegang oleh Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, dan salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasannya adalah:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Status kedua ibadah ini maqsudah li dzatiha (dituju oleh syari’at). Sehingga masing-masing tidak bisa mewakili yang lain. Kurban tidak bisa mewakili akikah, demikian sebaliknya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Sebab, kedua ibadah itu berbeda. </span><span style="font-weight: 400;">Sehingga tidak dapat digabungkan. Sama seperti sembelihan kambing untuk yang hajinya tamattu’ dengan sembelihan kambing untuk membayar fidyah karena melanggar larangan ihram, tidak bisa digabungkan.</span></p>
<p><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">, boleh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat ini dipilih oleh Mazhab Hanafi, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, Imam Hasan Al-Basri, Muhammad bin Sirin, dan Qotadah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasannya adalah:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tujuan dari dua ibadah ini sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hewan, sehingga bisa digabungkan. Sebagaimana tahiyyatul masjid bagi yang baru masuk masjid, bisa digabung sekalian dengan sholat wajib.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Lihat: </span><a href="https://islamqa.info/amp/ar/answers/106630"><span style="font-weight: 400;">https://islamqa.info/amp/ar/answers/106630</span></a><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><b>Pendapat yang Kuat</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat pertama tampak lebih kuat, karena pertimbangan berikut:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akikah dan kurban adalah ibadah yang masing-masing berstatus </span><i><span style="font-weight: 400;">maqsudah bi dzatiha</span></i><span style="font-weight: 400;">, yakni keduanya berdiri dengan niat khusus atau keduanya dituju secara pokok dalam perintah syariat. Sehingga tidak bisa digabungkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syekh Muhammad bin Mukhtar As-Syinqithi -hafidzohullah- mengatakan saat beliau menjelaskan “</span><i><span style="font-weight: 400;">Zad Al-Mustaqni’</span></i><span style="font-weight: 400;"> “,</span></p>
<p class="arab">لا يجزئ أن يجمع بين نيتين؛ لأن العقيقة مقصودة، والأضحية مقصودة، ولذلك لا يحصل الاندراج، فالأضحية مقصودة لدى الشرع، ولذلك قال صلى الله عليه وسلم: (من ذبح قبل الصلاة فليذبح مكانها أخرى) فكل مكلف قادر مطالب أن يذبح ذبيحة خاصة، شعيرة لهذا العيد، وسنة بقصد، بمعنى أنها مقصودة. وأما العقيقة فالنبي صلى الله عليه وسلم بين أنها متعلقة بالولد، فقال: (كل مولود مرهون بعقيقته، تذبح عنه يوم سابعه) فهذا يدل على أن الشرع قصد أن يُذبح عن الغلام، وأن يعق عنه، وهذا لا يحصل فيه الاندراج، فلم يصح الجمع بين النيتين</p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">“</span><span style="font-weight: 400;">Dua ibadah ini tidak cukup dilakukan dengan menggabungkan dua niat (tasyrik). Karena akikah adalah ibadah yang </span><span style="font-weight: 400;">maqsudah bi dzatiha</span><span style="font-weight: 400;">. Dan kurban juga sebagai ibadah yang </span><span style="font-weight: 400;">maqsudah bi dzatiha</span><span style="font-weight: 400;">. Oleh karenanya tak bisa dilakukan penggabungan.</span></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Kurban ibadah yang </span><span style="font-weight: 400;">maqsudah bi dzatiha</span><span style="font-weight: 400;">, karena Nabi ﷺ bersabda:</span></em></p>
<p class="arab">من ذبح قبل الصلاة فليذبح مكانها أخرى</p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Siapa yang menyembelih kurban sebelum sholat id, maka hendaknya dia ganti sembelihannya dengan sembelihan lain.</span></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Tentang akikah, Nabi ﷺ telah menjelaskan bahwa ibadah ini berkaitan dengan kelahiran anak,</span></em></p>
<p class="arab">كل مولود مرهون بعقيقته، تذبح عنه يوم سابعه</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Setiap anak yang terlahir tergadai dengan akikahnya. Di umur ke tujuh hari, sembelihkanlah akikah untuknya.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><em>Ini menunjukkan bahwa syariat secara pokok menunjukkan sembelihan akikah untuk anak laki-laki. Seperti ini tidak bisa digabungkan. Sehingga tidak sah menggabungkan dua niat kedua ibadah tersebut.”</em> (</span><a href="https://al-maktaba.org/book/32577/6740"><span style="font-weight: 400;">https://al-maktaba.org/book/32577/6740</span></a><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian dua ibadah ini memiliki sebab yang berbeda. Sehingga tidak bisa digabungkan. Kurban sebabnya adalah tibanya hari raya Idul Adha. Sementara akikah sebabnya ungkapan syukur atas kelahiran anak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam bis showab.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc.</span></p>
<p> </p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>: BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 