
<h2><strong>Zakat Mal Al-Mustafad</strong></h2>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p>Diantara syarat wajib zakat mal dan perdagangan adalah tercapainya nishab dan dimiliki selama setahun (haul). Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan hal ini. Diantaranya, hadis dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ ، وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ يَعْنِي فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا ، فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ ، فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ</p>
<p><em>Jika kamu punya 200 dirham dan sudah mengendap selama setahun maka ada kewajiban zakat 5 dirham. Dan kamu tidak memiliki kewajiban zakat untuk emas, kecuali jika kamu memiliki 20 dinar. Jika kamu memiliki 20 dinar, dan sudah genap selama setahun, maka zakatnya ½ dinar. Lebih dari itu, mengikuti hitungan sebelumnya.</em> (HR. Abu Daud 1575 dan dishahihkan al-Albani).</p>
<p><strong>Kesimpulan dari hadis,</strong></p>
<p>[1] jika ada orang yang memiliki harta yang belum mencapai satu nishab, tidak ada kewajiban zakat.</p>
<p>[2] ketika harta itu bertambah, hingga mencapai nishab, baru mulai dilakukan perhitungan 1 haul. Artinya ditunggu selama setahun.</p>
<p>[3] Jika selama setahun, ternyata tidak kurang dari satu nishab, maka wajib mengeluarkan zakat.</p>
<p>[4] Nishab zakat emas = 20 dinar = 85 gr emas.</p>
<p><strong>Al-Mal al-Mustafad</strong></p>
<p>Sebagai ilustrasi, kita anggap, 85 gr emas itu senilai 50 juta. Misalnya si A memiliki tabungan 50 juta di bulan Rajab 1436 H, dengan berjalannya waktu sampai satu tahu, harta si A bertambah. Pertambahan inilah yang disebut al-Mal al-Mustafad.</p>
<p>Bagaimana cara menghitung al-Mal al-Mustafad?</p>
<p>Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.</p>
<p><strong><em>Pendapat pertama</em></strong>, bahwa hukum terkait al-Mal al-Mustafad dibagi 3:</p>
<p>[1] Mal Mustafad (harta berkembang) itu sejenis dengan harta pokoknya dan hasil dari perkembangan harta pokoknnya.</p>
<p>Misalnya keuntungan dari dagang atau pertambahan tabungan uang. Al-Mal al-mustafad semacam ini wajib digabung dengan harta pokoknya. Sehingga mengikuti perhitungan haul pokoknya.</p>
<p><strong>Misalnya</strong>, di awal bulan rajab 1437, si A memiliki memiliki harta satu nishab (Rp 50 jt). Perhitungan haul  dimulai. Jika dalam perjalanan menuju rajab 1438 harta si A bertambah, maka zakat si A dihitung dengan akumulasi dari harta si A 50 jt, berikut penambahannya.</p>
<p>[2] Mal Mustafad tidak sejenis dengan harta pokoknya</p>
<p>Harta semacam ini, memiliki perhitungan sendiri, tidak mengikuti harta pokoknya</p>
<p><strong>Misalnya</strong>, si A memiliki emas 85 gr di ramadhan 1347. Selama perjalanan ke ramadhan berikutnya, si A memiliki perak 50 gr. Perhitungan zakat perak 200 gr tidak disatukan dengan emas, tapi dihitung sendiri. Jika perak ini kurang dari satu nishab, maka tidak wajib dizakati.</p>
<p>[3] Mal Mustafad sejenis dengan harta pokok yang sudah satu nishab, namun bukan dari hasil perkembangan harta pokok.</p>
<p>Misalnya: si A memiliki uang 50 juta di ramadhan tahun 1. Ketika sya’ban tahun 2 (sebulan sebelum haul) dia mendapat warisan senilai 100 juta.</p>
<p>Apakah yang 100 juta ini mengikuti perhitungan haul yang 50 juta atau dihitung sendiri?</p>
<p>Ada 2 pendapat di sana:</p>
<p>Pendapat <strong><em>pertama</em></strong>, dia memiliki perhitungan sendiri. Sehingga ketika ramadhan tahun 2, si A hanya memberikan zakat untuk uang 50 juta. Sementara uang warisan 100 juta, zakatnya Sya’ban tahun depan (tahun 3).</p>
<p>Ini adalah pendapat Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hambali.</p>
<p>Pendapat <strong><em>kedua</em></strong>, perhitungannya digabungkan dengan harta yang sudah satu nishab. Sehingga harta warisan itu dizakati ketika ramadhan  tahun 2. Ini merupakan pendapat Hanafiyah.</p>
<p>Demikian, <em>Allahu a’lam</em></p>
<p>Sumber: <em>http://www.alukah.net/sharia/0/58117/</em></p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina PengusahaMuslim.com dan KonsultasiSyariah.com)</strong></p>
<p><strong>PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting <a href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>SPONSOR</strong> hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>
<strong>DONASI</strong> hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 