
<h4><span style="color: #000000;">Suatu hari di pintu masuk masjid</span></h4>
<p><span lang="en-US"> Imam Muslim </span><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span><span lang="en-US">di awal kitab beliau, </span><span lang="en-US"><i>Shahih Muslim, </i></span><span lang="en-US">meriwayatkan sebuah atsar yang panjang yang mengisahkan kemunculan paham </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah</i></span><span lang="en-US">, “Dari Yahya bin Ya’mar, beliau mengatakan, “Orang yang pertama kali berbicara masalah takdir di Bashrah adalah Ma’bad Al Juhani. Aku dan Humaid bin ‘Abdirrahman kemudian pergi berhaji –atau ‘umrah- dan kami mengatakan, “Seandainya kita bertemu salah seorang sahabat Rasulullah </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i></span><span lang="en-US">kita akan mengadukan pendapat mereka tentang takdir tersebut” </span></p>
<p><span lang="en-US">Kami pun bertemu dengan Ibnu ‘Umar </span><span lang="en-US"><i>radhiyallahu ‘anhuma</i></span><span lang="en-US"> yang sedang memasuki masjid. Lalu kami menggandeng beliau, satu dari sisi kanan dan satu dari sisi kiri. Aku menyangka sahabatku menyerahkan pembicaraan kepadaku sehingga akupun berkata kepada Ibnu ‘Umar, “Wahai Abu ‘Abdirrahman (panggilan Ibnu ‘Umar –pen), sungguh di daerah kami ada sekelompok orang yang berpandangan takdir itu tidak ada, dan segala sesuatu itu baru ada ketika terjadinya (tidak tertulis di catatan takdir dan tidak pula diketahui oleh Allah sebelumnya –pen).</span></p>
<p><span lang="en-US">Maka Ibnu ‘Umar berkomentar, “</span><span lang="en-US"><i>Kalau kamu bertemu dengan mereka, beritahukan mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku! Demi Dzat yang Ibnu ‘Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya mereka memiliki emas sebanyak gunung Uhud lantas menginfaqkannya, niscaya Allah tidak akan menerima infaq mereka tersebut sampai mereka mau beriman kepada takdir” </i></span><span lang="en-US">(HR. Muslim)</span></p>
<h4><span style="color: #000000;">Mengenal <i>qadariyyah</i>, paham pengingkar takdir</span></h4>
<p><span lang="en-US"><i>Qadariyyah </i></span><span lang="en-US">adalah kelompok yang meyakini bahwa Allah tidaklah mengetahui dan menetapkan takdir sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, dan meyakini kalau perbuatan makhluk bukan Allah yang menciptakan. </span></p>
<h4><span style="color: #000000;">Sejarah kemunculannya</span></h4>
<p><span lang="en-US">Diriwayatkan dari Al Auza’i, beliau mengatakan, “Yang pertama kali berpendapat seputar masalah takdir adalah seseorang dari Iraq yang dikenal dengan nama </span><span lang="en-US"><i>“Susan</i></span><sup>1</sup><span lang="en-US"><i>”. </i></span><span lang="en-US">Dahulu ia orang nasrani, lalu masuk Islam, kemudian murtad dan kembali ke agama lamanya tersebut. </span></p>
<p><span lang="en-US">Ma’bad Al Juhani mengambil pendapat seputar takdir dari orang tersebut. Lalu pendapatnya diikuti oleh Ghaylan Ad Dimasyqi.</span></p>
<h4><span style="color: #000000;">Mereka adalah majusinya umat ini</span></h4>
<p><span lang="en-US">Rasulullah </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="en-US">bersabda,</span></p>
<p class="arab" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تشهدوهم</span></p>
<p align="CENTER">“<span lang="en-US"><i>Qadariyyah adalah majusinya umat ini. Jika mereka sakit, jangan dijenguk. Jika mereka mati, jangan dilayat” </i></span><span lang="en-US">(HR. Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya. Dinilai </span><span lang="en-US"><i>hasan </i></span><span lang="en-US">oleh Al Albani dalam </span><span lang="en-US"><i>Misykatul Mashaabih</i></span><span lang="en-US">)</span></p>
<h4><span style="color: #000000;">Kenapa disamakan dengan majusi?</span></h4>
<p><span lang="en-US">Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “</span><span lang="en-US"><i>Qadariyyah </i></span><span lang="en-US">dinamakan majusi karena kaum majusi meyakini bahwa ada dua pencipta di dunia ini : pencipta kebaikan dan pencipta keburukan. Pencipta kebaikan adalah cahaya. Sedangkan pencipta keburukan adalah kegelapan.</span></p>
<p><span lang="en-US"><i>Qadariyyah </i></span><span lang="en-US"> menyerupai majusi dari sisi ini karena </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah </i></span><span lang="en-US">mengatakan : peristiwa yang ada di dunia itu ada dua jenis : peristiwa akibat perbuatan Allah, maka ini adalah ciptaan Allah, dan peristiwa akibat perbuatan hamba, maka ini adalah ciptaan hamba, bukan ciptaan Allah”</span></p>
<h4><span style="color: #000000;">Inti penyelewengan <i>qadariyyah</i></span></h4>
<p><span lang="en-US">Pada dasarnya, penyelewengan paham </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah </i></span><span lang="en-US">terpusat pada dua hal :</span></p>
<ol>
<li><span lang="en-US">Mengingkari bahwa Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya</span></li>
<li><span lang="en-US">Meyakini bahwa setiap hamba adalah pencipta bagi perbuatannya masing-masing</span></li>
</ol>
<h4><span style="color: #000000;">Punahnya <i>qadariyyah</i> asli</span></h4>
<p><span lang="en-US">Tetapi para ulama menyebutkan bahwa </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah </i></span><span lang="en-US">asli </span><span lang="en-US">yang muncul pada masa Ibnu ‘Umar telah terkubur. Ibnu Hajar menukil dari Al Qurthubi, beliau mengatakan, “Paham ini telah punah. Kami tidak tahu ada orang belakangan yang menisbatkan dirinya kepada paham ini”</span></p>
<p><span lang="en-US">Beliau melanjutkan, “Adapun </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah </i></span><span lang="en-US"> yang ada saat ini (yakni di zaman beliau hidup –pen) menyakini bahwa Allah telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh hamba-Nya sebelum itu terjadi. Tetapi mereka menyelisihi salaf dengan menganggap bahwa perbuatan hamba adalah hasil kemampuan dan ciptaan hamba itu sendiri (bukan berasal dari kehendak dan ciptaan Allah –pen). Meskipun sama-sama ideologi rusak, tapi ideologi yang kedua kerusakannya lebih ringan dibanding ideologi aslinya”</span></p>
<h4><span style="color: #000000;">Apakah <i>qadariyyah</i> dihukumi kafir?</span></h4>
<p><span lang="en-US">Karena terjadinya pergeseran arah pemahaman, para ulama membedakan hukum terhadap </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah </i></span><span lang="en-US">asli dan </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah</i></span><span lang="en-US"> yang ada di masa belakangan.</span></p>
<p><span lang="en-US">Syaikh Ibrahim Ar Ruhaily mengatakan, “Para ulama salaf membedakan hukum untuk dua jenis </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah </i></span><span lang="en-US">ini. Mereka mengkafirkan </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah </i></span><span lang="en-US">asli yang mengingkari ilmu Allah akan sesuatu yang belum terjadi, namun mereka tidak mengkafirkan </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah </i></span><span lang="en-US">yang baru muncul di masa belakangan yang menetapkan bahwa Allah mengetahui sesuatu yang belum terjadi, meskipun mereka tidak menetapkan penciptaan Allah terhadap perbuatan makhluk”</span></p>
<p>‘<span lang="en-US">Abdullah putra Imam Ahmad mengatakan, “Ayahku ditanya : ‘Apakah </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah </i></span><span lang="en-US">itu kafir?’ Beliau menjawab : ‘Iya, jika mengingkari ilmu Allah (akan sesuatu yang belum terjadi –pen)’ ”</span></p>
<p><span lang="en-US">Ibnu Taimiyyah mengatakan, “</span><span lang="en-US"><i>Qadariyyah </i></span><span lang="en-US">yang mengingkari adanya penetapan takdir dan ilmu Allah dikafirkan oleh para ulama. Namun mereka tidak mengkafirkan </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah </i></span><span lang="en-US">yang meyakini adanya ilmu Allah tetapi tidak menetapkan bahwa perbuatan hamba diciptakan oleh Allah”</span></p>
<h4><span style="color: #000000;">Pewaris paham <i>qadariyyah</i></span></h4>
<p><span lang="en-US">Syaikh Ibrahim Ar Ruhaily mengatakan, “Kelompok </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah </i></span><span lang="en-US">telah habis masanya. Tetapi </span><span lang="en-US"><i>mu’tazilah </i></span><span lang="en-US">telah menumbuhkan kembali pemahaman-pemahaman </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah, </i></span><span lang="en-US">menjabarkannya, dan berpanjang lebar membahasnya. Oleh karena itu, bisa kita katakan bahwa</span><span lang="en-US"><i> mu’tazilah </i></span><span lang="en-US">adalah pewaris </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah</i></span><span lang="en-US">. Sehingga </span><span lang="en-US"><i>mu’tazilah </i></span><span lang="en-US">disebut juga </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah</i></span><span lang="en-US">”</span></p>
<h4><span style="color: #000000;">Penutup</span></h4>
<p><span lang="en-US">Allah </span><span lang="en-US"><i>Ta’ala </i></span><span lang="en-US">berfirman,</span></p>
<p class="arab" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ</span></p>
<p style="text-align: left;" align="CENTER">“<span lang="en-US"><i>Dan kalian tidak dapat menghehendaki (menempuh jalan yang lurus), kecuali jika dikehendaki oleh Allah, Rabb seru sekalian alam” </i></span><span lang="en-US">(QS. At Takwir : 29)</span></p>
<p class="arab" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ</span></p>
<p style="text-align: left;" align="CENTER">“<span lang="en-US"><i>Dan Allah –lah yang menciptakan diri kalian dan perbuatan kalian” </i></span><span lang="en-US">(QS. Ash Shaffat : 96)</span></p>
<p><span lang="en-US">Kiranya dua ayat yang suci ini mampu meluruskan pemahaman yang menyimpang milik </span><span lang="en-US"><i>qadariyyah</i></span><span lang="en-US">. </span><span lang="en-US"><b>Pertama, </b></span><span lang="en-US">segala yang terjadi di dunia itu atas kehendak Allah </span><span lang="en-US"><i>Ta’ala, </i></span><span lang="en-US">sehingga ini membantah pemahaman mereka kalau perbuatan yang dilakukan hamba terjadi di luar kehendak Allah. </span><span lang="en-US"><b>Kedua, </b></span><span lang="en-US">perbuatan yang dilakukan oleh seorang hamba termasuk ciptaan Allah, sehingga ini membantah ideologi mereka kalau perbuatan hamba diciptakan oleh hamba itu sendiri.</span><sup>2</sup></p>
<p><span lang="en-US">Semoga pembahasan yang sedikit ini bermanfaat bagi penulis maupun yang membacanya. </span></p>
<p><span lang="en-US"><i>Wallahu a’lam. </i></span></p>
<p><em>W</em><span lang="en-US"><i>a shallallahu wa sallam ‘ala ‘abdihi wa rasuulihi nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi ajma’iin.</i></span></p>
<p>***</p>
<p><strong><span lang="en-US">Referensi</span></strong></p>
<ul>
<li>
<span lang="en-US"><i>Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwaa wal Bida’, </i></span><span lang="en-US">Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaily</span>
</li>
<li>
<span lang="en-US"><i>Shahih Muslim, </i></span><span lang="en-US">Muslim bin Hajjaj An Naisaburi</span>
</li>
<li>
<span lang="en-US"><i>Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah, </i></span><span lang="en-US">Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin</span>
</li>
<li>
<span lang="en-US"><i>Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah</i></span><span lang="en-US">, Abul Qasim Hibatullah bin Hasan Al Laalikaa-i</span>
</li>
</ul>
<p><span lang="id-ID"><strong>Footnote</strong></span><span lang="id-ID"><br>
</span></p>
<div id="sdfootnote1">
<p>1 Yakni سوسن <span lang="en-US">. Dalam riwayat Ibnu ‘Aun, nama orang ini adalah </span>سنسوية <span lang="en-US">. </span><span lang="en-US">Wallahu a’lam</span><span lang="en-US"> cara bacanya.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p>2 <span lang="en-US">Untuk bantahan yang lebih detail bisa melihat artikel lain seputar bantahan untuk </span><span lang="en-US">qadariyyah</span></p>
<p class="sdfootnote">—</p>
<p><strong><span lang="id-ID">Penulis: </span></strong><span lang="en-US">Yananto Sulaimansyah</span></p>
<p><strong>Artikel</strong> Muslim.Or.Id</p>
</div>
 