
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/53880-mengenal-pembagian-perkara-wajib-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Mengenal Pembagian Perkara Wajib (Bag. 1)</a></span></strong></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Wajib </b><b><i>‘Ain </i></b><b>dan Wajib </b><b><i>Kifayah</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Wajib ‘ain adalah perkara wajib yang dituntut untuk dilaksanakan oleh setiap mukallaf. Meskipun sebagian orang sudah melakukan kewajiban tersebut, kewajiban tersebut tidaklah gugur atas yang lainnya yang belum melaksanakannya. </span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Contoh Wajib </b><b><i>‘Ain</i></b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh wajib ‘ain adalah shalat wajib lima waktu, puasa Ramadhan, shalat Jum’at bagi laki-laki, haji bagi yang mampu, </span><i><span style="font-weight: 400;">birrul walidain </span></i><span style="font-weight: 400;">(berbakti kepada kedua orang tua), dan lain-lain. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap mukallaf dituntut untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun wajib </span><i><span style="font-weight: 400;">kifayah, </span></i><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di -rahimahullahu Ta’ala- berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”(Yang dimaksud dengan) fardhu kifayah, (yaitu) jika sejumlah orang </span><b>dalam jumlah yang mencukupi telah melaksanakan kewajiban tersebut, maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya. Jika tidak ada satu pun orang yang melaksanakannya, maka semua orang yang memiliki kemampuan (untuk melaksanakan kewajiban tersebut, pen.) menjadi berdosa.”</b> <b>(</b><b><i>Al-Qawaa’id wal Ushuul Al-Jaami’ah,</i></b><b> hal. 39)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam wajib (fardhu) </span><i><span style="font-weight: 400;">kifayah, </span></i><span style="font-weight: 400;">maksud atau tujuan syari’at adalah terlaksananya kewajiban tersebut dari sebagian jamaah kaum muslimin, bukan dilaksanakan oleh setiap (individu) orang sebagaimana wajib ‘ain. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang menjadi catatan berkaitan dengan wajib </span><i><span style="font-weight: 400;">kifayah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah kewajiban tersebut dilaksanakan oleh “sejumlah orang yang mencukupi”. Jika dikerjakan oleh satu orang itu belum cukup, maka kewajiban tersebut dinilai belum terlaksana, dan berdosalah semua orang yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan kewajiban tersebut. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47963-tingkatan-tingkatan-ibadah-sunnah.html" data-darkreader-inline-color="">Tingkatan-Tingkatan Ibadah Sunnah</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Contoh </b><b>Wajib </b><b><i>Kifayah</i></b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh, mengurus jenazah. Jika yang mengurus jenazah itu hanya satu orang, maka kemungkinan besar belum mencukupi. Sehingga dalam kondisi ini, kewajiban mengurus jenazah tersebut baru gugur ketika sejumlah orang yang mencukupi telah menunaikan pengurusan jenazah tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh wajib kifayah yang lain adalah jihad </span><i><span style="font-weight: 400;">fii sabiilillah, amar ma’ruf nahi munkar, </span></i><span style="font-weight: 400;">mempelajari ilmu kedokteran, dan mengumandangkan adzan.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47622-bolehkah-membatalkan-ibadah-sunnah-tanpa-alasan.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Membatalkan Ibadah Sunnah tanpa Alasan?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Wajib </b><b><i>Muqaddar </i></b><b>dan Wajib </b><b><i>Ghairu Muqaddar</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Wajib </span><i><span style="font-weight: 400;">muqaddar </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah kewajiban yang telah ditentukan kadarnya (kuantitas) oleh syariat, sehingga ketentuan tersebut wajib untuk diikuti. </span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;"><b>Contoh Wajib </b><b><i>Muqadda</i></b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh wajib </span><i><span style="font-weight: 400;">muqaddar </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah jumlah raka’at dalam shalat. Shalat subuh dua raka’at, zuhur empat raka’at, ‘ashar empat raka’at, dan demikian seterusnya. Jumlah raka’at tersebut tidak boleh dimodifikasi, karena itulah ketentuan yang telah digariskan oleh syariat. </span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;"><b>Wajib </b><b>Wajib </b><b><i>Ghairu Muqaddar</i></b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh lainnya adalah kadar harta yang wajib dikeluarkan zakatnya, semua sudah ditentukan sebagaimana yang dipelajari di bab fiqh zakat. Misalnya, zakat emas dan perak adalah 2,5%.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun wajib </span><i><span style="font-weight: 400;">ghairu muqaddar </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah kewajiban yang tidak ditentukan kadarnya oleh syariat. Misalnya, besaran nafkah yang harus diberikan suami kepada istri. Syariat tidak memberikan batasan, apakah misalnya 1 juta per bulan, atau kurang atau lebih dari itu. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46638-tidak-ada-sunnah-berbuka-dengan-yang-manis.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Ada Sunnah Berbuka dengan yang Manis</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Wajib </b><b><i>Mu’ayyan </i></b><b>dan Wajib </b><b><i>Mukhayyar</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Wajib </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’ayyan </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah kewajiban yang sudah ditentukan oleh syariat secara langsung, dan tidak ada pilihan (alternatif) yang lain. Contohnya adalah puasa Ramadhan. Seorang muslim yang mampu berpuasa di bulan Ramadhan (tidak ada ‘udzur syar’i), wajib untuk berpuasa, dan tidak boleh memilih untuk tidak berpuasa saja dan diganti dengan membayar fidyah. Tidak sebagaimana awal-awal Islam, dimana seseorang boleh memilih antara puasa atau membayar fidyah, meskipun dia mampu berpuasa. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula shalat adalah wajib </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’ayyan. </span></i><span style="font-weight: 400;">Seseorang tidak boleh memilih untuk tidak shalat kemudian menebusnya dengan melaksanakan suatu kewajiban yang lain. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun wajib </span><i><span style="font-weight: 400;">mukhayyar </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah kewajiban yang mengandung beberapa opsi pilihan, dan boleh dipilih salah satu. Contoh wajib </span><i><span style="font-weight: 400;">mukhayyar </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">kaffarah </span></i><span style="font-weight: 400;">sumpah. Seseorang yang melanggar sumpah, wajib membayar </span><i><span style="font-weight: 400;">kaffarah, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan memilih salah satu dari tiga bentuk </span><i><span style="font-weight: 400;">kaffarah: </span></i><span style="font-weight: 400;">(1) memberi makan; atau (2) memberi pakaian orang miskin; atau (3) membebaskan budak. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu ialah (1) memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau (2) memberi pakaian kepada mereka, atau (3) memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya adalah puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” </span><b>(QS. Al-Maidah [5]: 89)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh lain, jamaah haji ketika ihram dilarang untuk memotong, mencukur, atau mencabuti rambut (bulu) di badan, termasuk rambut kepala. Namun, jika ada penyakit di kepalanya sehingga harus bercukur, boleh cukur namun harus membayar fidyah dengan beberapa opsi pilihan fidyah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kamu mencukur kepalamu, sebelum hewan </span><i><span style="font-weight: 400;">hadyu </span></i><span style="font-weight: 400;">sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajib atasnya membayar fidyah, yaitu: (1) berpuasa (tiga hari), atau (2) bersedekah (memberi makan kepada enam orang miskin), atau (3) berkorban (menyembelih kambing).” </span><b>(QS. Al-Baqarah [2]: 196)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana opsi ini juga disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Ka’ab bin ‘Ujrah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> datang menemuiku saat perjanjian Hudaibiyyah, sedangkan kutu kepalaku berjatuhan di wajahku. Beliau lalu bertanya, “Sepertinya kutu kepalamu sangat mengganggumu.” Aku jawab, “Benar”. Beliau lalu bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَاحْلِقْ وَصُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ أَوْ أَطْعِمْ سِتَّةَ مَسَاكِينَ أَوْ انْسُكْ نَسِيكَةً</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Cukurlah rambutmu dan berpuasalah tiga hari atau berilah makan enam orang miskin atau berkurban dengan seekor kambing.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayyub berkata, “Aku tidak tahu dari mana ia memulainya.” </span><b>(HR. Bukhari no. 4190 dan Muslim no. 1201)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/46447-hukum-shalat-sunnah-dua-rakaat-ihram.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Shalat Sunnah Dua Raka’at Ihram</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/44582-sunnah-banyak-anak-dan-kewajiban-mendidik-mereka.html" data-darkreader-inline-color="">Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik Mereka</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 4 Jumadil awwal 1441/ 30 Desember 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disarikan dari kitab </span><b><i>Ghaayatul Ma’muul fi Syarhi Al-Bidaayah fil Ushuul, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 71-75 (penerbit Daar Ibnu Rajab, cetakan pertama tahun 1433)</span></p>
 